Dari Sebuah Video: Lahirlah Perdebatan Panjang tentang Natsir dan Tan Malaka

- Jurnalis

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Narasumber, Peserta, dan Moderator Usai Acara (Dok. Rundiang.id)

Foto: Narasumber, Peserta, dan Moderator Usai Acara (Dok. Rundiang.id)

ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Rundiang mengelar kegiatan diskusi publik mengenai pemikiran dari 2 tokoh bangsa yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Kegiatan ini berlangsung di Forum Studi Ladang Rupa sebuah komoditas yang berlokasi di Jl. Balairung Sari, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Di mulai dari jam 20.30 WIB sampai jam 22.38 WIB, pada Selasa 17/6/2026.

Narasumber pada kegiatan ini ialah Devy Kurnia A., Hadi Nur Ramadhan, Habibur Rahman, Artawijaya, Al-Fikri, dan Ferry Hidayat yang moderatori oleh Tommy Destryanto. Peserta yang hadir dalam kegiatan diskusi ini ada sekitaran 25 orang kurang lebih.

Hadi Nur Ramadhan berpandangan kalau kegiatan diskusi seperti ini sangat bagus dan diskusi seperti ini harus terus berkembang.

“Diskusi kebudayaan, diskusi literasi, diskusi sejarah. Ini menghidupkan budaya ilmu sekaligus menyalakan akal di Minangkabau,” ungkap Hadi.

Ia mengatakan kalau budaya ilmu seperti diskusi seperti ini, tentunya akan melahirkan budaya toleransi, budaya tengang rasa, dan budaya persaudaraan.

Baca Juga:  Kelas Manasik Gratis HMC Payakumbuh, Berkurikulum dan Diuji

Bagi Hadi lawan pendapat adalah kawan berpikir. Maka dari diskusi 2 tokoh besar ini yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka, Hadi ingin mengucapkan terima kasih dengan forum diskusi sekaligus perdebatan pada kegiatan ini.

“Saya sebagai orang yang datang dari Jakarta, datang secara langsung, biaya secara langsung untuk memenuhi undangan teman-teman,” ungkap Hadi.

Disuksi berlangsung dengan saling adu argumen satu sama lain. Suasana pun sempat memanas.

Devy Kurnia A. yang juga sebagai narasumber dalam kegiatan ini mengatakan kalau diskusi ini sangat menarik karena di awalinya dari sebuah video potongan pendek yang tidak selesai. Vidio itulah yang menjadi latar belakang kegiatan ini.

“Dari satu video tersebut bisa menciptakan hampir 9-10 tulisan gitu yang mempertanyakan secara garis besar mempertanyakan, kenapa tokoh-tokoh besar-besar yang harus diperbandingkan. Padahal mereka itu punya perjuangannya masing-masing. Intinya hari ini, kita bisa mendapatkan konfirmasi langsung dari yang bersangkutan dan seperti apa maksud dan tujuan dia sebenarnya,” ungkap pria yang kini menempuh pendidikan doktoral di ISI Padang Panjang tersebut.

Baca Juga:  Upskilling atau Tergerus? Strategi Bertahan di Era Otomasi

Devy merasakan kalau waktu diskusi begitu singkat karena benang merah atau hasil dari diskusi ini belum nampak atau belum ada hasilnya.

“Masih banyak yang bisa diceritakan gitu. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, baik dari online dan offline,” kata Devy.

Audre Bin Heren yang merupakan peserta dalam kegiatan ini berpandangan kalau untuk setingkat anak SMA ini merupakan insight baru, karena pengetahuan tentang zaman Orde Lama dan Orde Baru adalah sejarah dari Republik Indonesia. Di kalangan remaja pembahasan-pembahasan tentang sejarah Indonesia sudah mulai hilang.

“Mungkin untuk kegiatan seperti ini bisa dilanjutkan lagi dan bahkan bisa lebih diturunkan lagi levelnya yang awalnya mungkin untuk Forum terbuka. Mungkin setelah ini bisa lagi di adakan di instansi-intansi yang ada dimulai dari jenjang SMA dan seterusnya jenjang mahasiswa,” ungkap siswa Man 1 Bukittinggi itu.

(Zidan Pratama)

Berita Terkait

Sineas Muda Diminta Sutradarai Diri Sendiri Lebih Dulu
Kelas Manasik Gratis HMC Payakumbuh, Berkurikulum dan Diuji
Psikolog Asal Payakumbuh Ungkap Fondasi Tumbuh Kembang Anak Dimulai dari Rumah
Membedah Risalah “Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia” karya D.N Aidit
Menilik Aksi Massa dalam Pandangan Tan Malaka: Gejala Putsch dan Kerinduan Masa Radikal
Ustad Hadi Nur Ramadhan Hadir di Forum Rundiang karena Polemik Video Tan Malaka di Media Sosial
Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia
Hukum Revolusi: Melihat Pandangan Tan Malaka

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Sineas Muda Diminta Sutradarai Diri Sendiri Lebih Dulu

Selasa, 29 September 2026 - 16:33 WIB

Kelas Manasik Gratis HMC Payakumbuh, Berkurikulum dan Diuji

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:11 WIB

Psikolog Asal Payakumbuh Ungkap Fondasi Tumbuh Kembang Anak Dimulai dari Rumah

Senin, 29 Juni 2026 - 16:50 WIB

Membedah Risalah “Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia” karya D.N Aidit

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:50 WIB

Menilik Aksi Massa dalam Pandangan Tan Malaka: Gejala Putsch dan Kerinduan Masa Radikal

Berita Terbaru

Peneliti Google DeepMind Mundur Tolak AI untuk Militer. (Foto: Wikimedia Commons)

Teknologi

Peneliti Google DeepMind Mundur Tolak AI untuk Militer

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:49 WIB

Mantan Bupati Gowa Ajukan Penangguhan Penahanan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Mantan Bupati Gowa Ajukan Penangguhan Penahanan

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:45 WIB

Usai Tiga Hari Hujan, Asap Karhutla Balik ke Palembang. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Usai Tiga Hari Hujan, Asap Karhutla Balik ke Palembang

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:39 WIB

Imigrasi Grebek Vila di Bali, 17 WNA Diduga Jalankan Pinjol. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Imigrasi Grebek Vila di Bali, 17 WNA Diduga Jalankan Pinjol

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:34 WIB

Polisi Ungkap Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Polisi Ungkap Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:28 WIB