ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Laporan ekonomi terbaru mengungkap fenomena mengkhawatirkan di Indonesia. Fenomena ini bernama middle-class squeeze, yaitu terjepitnya kelas menengah. Harga properti dan biaya pendidikan melonjak tajam. Namun pendapatan masyarakat, terutama gaji, tidak naik signifikan.
Karyawan Muda Paling Merasakan Tekanan
Kondisi ini paling dirasakan karyawan muda dari generasi milenial dan Gen Z. Mereka tinggal di wilayah perkotaan seperti Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Medan, hingga Makassar. Tekanan ekonomi memaksa banyak dari mereka mengadopsi gaya hidup frugal living versi ekstrem. Artinya, mereka hidup super hemat dengan memangkas hampir seluruh pengeluaran non-esensial. Contohnya, mereka berhenti bersosialisasi di luar rumah. Mereka juga meninggalkan pelatihan atau kursus. Bahkan, banyak yang menunda rencana menikah dan memiliki anak.
Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan harga properti. Indeks harga properti residensial di kota besar naik rata-rata 4-7% per tahun. Sementara itu, biaya pendidikan melonjak lebih tinggi. Mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, biaya naik sekitar 8-12% setiap tahun ajaran baru.
Di sisi lain, survei Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menunjukkan kondisi berbeda. Kenaikan gaji karyawan level menengah hanya 3-5% per tahun. Pada tahun 2025, sebagian besar perusahaan bahkan hanya memberikan kenaikan di bawah 4%. Ketimpangan antara kenaikan biaya hidup dan pendapatan ini memicu gaya hidup hemat ekstrem di kalangan anak muda.
Jika dulu frugal living berarti pengelolaan keuangan yang bijak, kini banyak anak muda menjalani versi paling ketat. Mereka menghindari makan di luar sama sekali. Mereka mengurangi porsi asuransi kesehatan. Tak jarang, mereka mengorbankan tabungan darurat hanya demi memenuhi kebutuhan pokok.
Tips Bertahan dari Para Ahli
Para ahli menyarankan karyawan agar tidak terjebak dalam pola hemat ekstrem. Pola seperti itu justru merusak kesehatan mental dan produktivitas. Strategi yang lebih disarankan adalah mengubah pola pikir. Tinggalkan frugal ekstrem, beralihlah ke smart spending.
Pertama, karyawan bisa memetakan tiga pos pengeluaran terbesar. Biasanya pos tersebut adalah cicilan rumah, transportasi, dan konsumsi. Kemudian cari substitusi yang lebih murah. Contohnya gunakan transportasi publik atau menyewa tempat tinggal yang lebih kecil.
Kedua, carilah sumber pendapatan tambahan. Pilihlah usaha sampingan yang tidak butuh modal besar. Misalnya jasa edit video, desain grafis, atau menjadi pengelola media sosial UMKM.
Ketiga, atur alokasi gaji dengan pola 50-25-15-10. Gunakan 50% untuk kebutuhan pokok. Lalu 25% untuk investasi dan tabungan darurat. Sisanya 15% untuk cicilan utang. Terakhir, 10% untuk hiburan atau fun budget. Porsi hiburan ini penting untuk menjaga kesehatan mental.
Keempat, bergabunglah dengan komunitas frugal living yang sehat. Komunitas membantu anggota saling berbagi informasi diskon. Mereka juga bisa barter barang atau membeli kebutuhan pokok secara grosir bersama. (**)









