ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Dunia pariwisata Indonesia mencatat pergeseran signifikan pada Mei 2026. Para wisatawan tidak lagi berlomba mengunjungi banyak destinasi dalam waktu singkat. Mereka memilih meresapi setiap momen secara perlahan. Para pelancong menyebut fenomena ini slow travel. Dalam tiga bulan terakhir, tren ini melonjak 45%. Data dari NusantaraTrip, platform perjalanan digital terkemuka, menunjukkan angka tersebut.
Desa-desa wisata di Jawa Tengah dan Bali menduduki peringkat teratas destinasi pekan ini. Tahun-tahun sebelumnya, hotel berbintang mendominasi pencarian. Akan tetapi, kini homestay milik penduduk lokal justru menjadi primadona. Generasi milenial dan Gen Z mendominasi para pelancong ini. Mereka lebih tertarik belajar bertani, membatik, atau membuat anyaman bambu. Mereka tidak ingin sekadar berfoto di tempat ikonik lalu bergegas ke lokasi berikutnya.
“Saya menghabiskan empat hari di Desa Pentingsari, Yogyakarta,” ujar Aprilia (27), pekerja kreatif asal Jakarta. “Saya belajar menanam padi dan ikut meracik jamu. Rasanya benar-benar menyembuhkan penat dari pekerjaan kantor.” Kami menghubunginya di sela-sela kegiatan di sebuah homestay.
Tiga Pendorong Utama Tren Ini
Lalu, apa yang mendorong ledakan slow travel? Para ahli mengidentifikasi tiga faktor utama. Pertama, kesehatan mental. Banyak wisatawan ingin melakukan digital detox dari hiruk-pikuk kota. Kedua, kesadaran ekonomi lokal. Para pelancong merasa lebih puas karena uang mereka langsung dirasakan warga desa. Ketiga, autentisitas. Generasi muda memburu pengalaman yang “nyata” dan tidak dibuat-buat. Mereka tetap akan membagikannya di media sosial, namun tanpa tekanan untuk terus daring.
Menanggapi fenomena ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyatakan dukungan penuh. “Tren ini selaras dengan visi pariwisata berkelanjutan,” ujar juru bicara kementerian dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (5/5). “Pemerintah akan segera memperbaiki akses infrastruktur menuju desa-desa terpencil. Perbaikan tersebut mencakup jalan, lampu penerangan, dan sinyal internet terbatas. Kami tetap menjaga ketenangan desa.”
Selain itu, para pengamat pariwisata menilai lonjakan slow travel bukan sekadar fenomena sementara. Menurut mereka, ini awal dari perubahan perilaku jangka panjang pascapandemi. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat desa perlu berkolaborasi. Mereka harus menjaga kualitas pengalaman tanpa mengorbankan identitas lokal. Di sisi lain, jika kolaborasi ini berhasil, desa wisata dapat menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di masa depan. (**)









