ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Pelangi selalu memukau setiap orang setelah hujan reda. Lengkungan warna-warni di langit itu tampak seperti sihir. Namun, tahukah Anda bahwa pelangi murni hasil dari proses fisika yang sistematis? Ilmuwan terkenal, Isaac Newton, adalah orang yang pertama kali mengurai cahaya putih menjadi spektrum warna pelangi pada abad ke-17. Penemuannya membuka jalan bagi pemahaman modern tentang optik atmosfer.
Tetesan Air Bertindak Sebagai Prisma Kecil
Proses terbentuknya pelangi dimulai ketika sinar matahari melewati tetesan air hujan yang masih menggantung di udara. Tetesan air ini bertindak seperti prisma kecil. Pertama, cahaya matahari memasuki tetesan air. Kemudian, tetesan air membiaskan (membelokkan) cahaya tersebut. Setelah itu, cahaya memantul di bagian belakang tetesan. Akhirnya, cahaya keluar dari tetesan sambil kembali membias untuk kedua kalinya. Hasilnya? Cahaya putih matahari terurai menjadi spektrum warna yang indah.
Cahaya putih sebenarnya terdiri dari tujuh warna utama. Newton menyebutnya sebagai spektrum: Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu. Setiap warna memiliki panjang gelombang berbeda. Warna merah memiliki panjang gelombang terpanjang, sehingga tampak di bagian luar pelangi. Sementara ungu memiliki panjang gelombang terpendek dan berada di bagian dalam. Karena itulah, pelangi selalu menunjukkan urutan warna yang sama dari atas ke bawah.
Syarat Melihat Pelangi
Pelangi tidak bisa muncul begitu saja. Ada tiga syarat utama yang harus terpenuhi. Pertama, harus ada hujan atau tetesan air di udara. Kedua, matahari harus bersinar dari arah berlawanan. Ketiga, posisi pengamat harus berada di antara matahari dan tetesan air. Artinya, matahari berada tepat di belakang punggung Anda. Sementara pelangi tampak di depan. Inilah sebabnya mengapa pelangi selalu berbentuk busur setengah lingkaran. Jika Anda melihat dari pesawat terbang, pelangi bisa tampak sebagai lingkaran penuh!
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi, terutama saat musim penghujan (Oktober–Maret). Oleh karena itu, pelangi sering terlihat di berbagai wilayah tanah air. Di kawasan pegunungan seperti Puncak, Lembang, atau Bromo, pelangi muncul hampir setiap minggu setelah hujan sore hari. Di kota besar seperti Jakarta, pelangi juga kadang terlihat, meskipun polusi udara dapat meredupkan warnanya. Setelah hujan deras, cobalah menengok ke arah timur pada sore hari. Matahari di barat akan menciptakan pelangi spektakuler di timur.
Fakta Menarik dan Mitos Pelangi
Selain penjelasan ilmiah, pelangi juga menyimpan berbagai fakta menarik. Pertama, tidak ada dua orang yang melihat pelangi yang sama persis. Karena setiap mata melihat sudut pantulan cahaya yang berbeda. Kedua, di balik pelangi sebenarnya tidak ada pot emas. Mitos itu berasal dari cerita rakyat Irlandia. Ketiga, pelangi ganda (double rainbow) terjadi ketika cahaya memantul dua kali di dalam tetesan air. Warna pada pelangi kedua akan terbalik, dengan merah di bagian dalam.
Jadi, pelangi bukanlah sihir. Ia adalah keajaiban fisika yang melibatkan pembiasan, pemantulan, dan dispersi cahaya di dalam tetesan air hujan. Berkat karya Isaac Newton, kita dapat memahami keindahan alam ini secara ilmiah. Saat Anda melihat pelangi di langit Indonesia, ingatlah bahwa Anda sedang menyaksikan cahaya matahari yang berkelok-kelok di dalam jutaan tetesan air. Sungguh pemandangan yang gratis namun tak ternilai.(**)









