Menepis Stigma, Menggali Mutiara: Yayasan Tan Malaka Desak Pemerintah Sumbar Akui “Bapak Republik” Secara Utuh

- Jurnalis

Selasa, 17 Maret 2026 - 01:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menepis Stigma, Menggali Mutiara: Yayasan Tan Malaka Desak Pemerintah Sumbar Akui “Bapak Republik” Secara Utuh

ARGUMENRAKYAT.COM, PAYAKUMBUH – Meski gelar Pahlawan Nasional telah disematkan sejak lama, nama Tan Malaka seolah masih menjadi subjek yang “sensitif” di ranah birokrasi Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Dalam podcast Kusieh Bendi episode terbaru, Frizal Ridwan bersama Yayasan Tan Malaka mengungkap adanya fenomena “amnesia sejarah” dan sikap “alergi” terhadap tokoh besar asal Luak Limopuluah tersebut.

Meluruskan Stigma dan Trauma Sejarah

Frizal Ridwan menyoroti stigma negatif yang masih melekat pada sosok Ibrahim Datuk Tan Malaka. Menurutnya, pemahaman sempit yang mengklasifikasikan Tan Malaka dalam kotak ideologi tertentu secara kaku harus segera diluruskan dengan melihat kontribusi nyata beliau bagi kemerdekaan.

“Pemerintah Provinsi seakan-akan alergi dengan nama Tan Malaka. Padahal, jika kita telusuri sejarah, rekam jejak perjuangan dan pemikirannya tentang kedaulatan bangsa sangat luas,” tegas Frizal dalam diskusi tersebut. Ia menambahkan bahwa trauma masa lalu seperti peristiwa PRRI dan pergolakan tahun 1965 menjadi faktor utama mengapa generasi tertentu cenderung menutup diri terhadap pemikiran revolusioner sang Bapak Republik.

Baca Juga:  Haul ke-77 Tan Malaka, Momentum Menghidupkan Kembali Tradisi Berpikir Kritis

Kritik Terhadap Absennya Tan Malaka di Himne Sumbar

Salah satu poin krusial yang diangkat adalah kritik terhadap representasi tokoh bangsa dalam atribut resmi daerah. Frizal menyayangkan absennya visualisasi sosok Tan Malaka dalam video klip Himne Sumatera Barat, padahal tokoh-tokoh besar lain seperti Bung Hatta dan Imam Bonjol ditampilkan secara jelas.

“Masa di kampungnya sendiri ia tidak diakui? Ini sebuah ironi besar. Yayasan akan terus mengkritisi hal ini agar tokoh-tokoh pendiri bangsa dipaparkan secara objektif tanpa ada yang dipinggirkan,” lanjutnya.

Hak Intelektual dan Perlindungan Cagar Budaya

Yayasan Tan Malaka saat ini tengah berupaya memperjuangkan hak-hak intelektual dari puluhan buku karya Tan Malaka serta mendorong penetapan rumah kelahirannya sebagai Cagar Budaya Nasional. Masalah sinkronisasi antara hukum adat Minangkabau (sistem kewarisan kemenakan) dan hukum negara menjadi salah satu fokus yayasan agar hak-hak kepahlawanan dan karya beliau dapat terkelola dengan baik.

Baca Juga:  Dandim 0306/50 Kota Letkol Inf. Ucok Namara: Pengabdian untuk Generasi Muda dan Ketahanan Wilayah

Meskipun buku-buku monumental seperti Madilog kini sudah menjadi hak publik karena melewati batas waktu perlindungan hak cipta, Yayasan tetap berkomitmen menjaga relevansi pemikiran tersebut agar tetap dipelajari oleh generasi muda sebagai fondasi logika berpikir.

Visi Mendunia dari Luak Limopuluah

Di akhir diskusi, Frizal berpesan bahwa pemikiran Tan Malaka adalah “mutiara” bagi generasi berikutnya dalam menghadapi tantangan global. Pengaruh Tan Malaka tidak hanya berhenti di Indonesia, melainkan diakui secara internasional sebagai salah satu pemikir besar dari Asia.

“Kita menuju dunia perlu percakapan dan pengetahuan. Tan Malaka sudah memulainya. Jangan sampai kita hanya berhenti di seremonial saja, tapi harus mewarisi logika dan keberaniannya untuk membawa pengaruh positif ke tingkat internasional,” tutup Frizal.

Yayasan berharap peringatan hari lahir atau “haul” Tan Malaka ke depannya tidak hanya menjadi agenda komunitas, tetapi didukung penuh oleh pemerintah daerah sebagai bentuk penghormatan nyata bagi pahlawan yang merumuskan konsep Republik Indonesia pertama kali ini.(**)

Berita Terkait

Bisnis Lokal Cepat Redup? Konsultan: Jangan Cuma Modal Nekat
Tolak Fasilitas Mobil Dinas, Bupati Safni Sikumbang Alihkan Dana untuk Alat Berat Jalan Usaha Tani
Ninik Mamak Buka Suara: Tanah Ulayat Tak Pernah Menghambat Pembangunan Pasar Payakumbuh
Rian Fahardhi ‘Presiden Gen Z’: Pendidikan Bukan Menyemaratakan, Tapi Temukan Formula Tepat untuk Setiap Anak
Walikota Zulmaeta Buka Suara: Transportasi Gratis & Revitalisasi Pasar Payakumbuh di Podcast Kusieh Bendi
KUSIEH BENDI: Resep Rahasia ‘Tabola Bale’, Mega-Hit Viral dari Payakumbuh yang Bergema di Istana Merdeka
KUSIEH BENDI: Mana Batas Adat, Mana Batas Kota? Datuk Patiah Baringek Kupas Sejarah & Tanah Ulayat Payakumbuh
MPL Season 2 Grand Final Disiarkan Live — Dimensia Creative Tunjukkan Standar Baru Live Streaming Esports di Payakumbuh

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 11:48 WIB

Bisnis Lokal Cepat Redup? Konsultan: Jangan Cuma Modal Nekat

Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Tolak Fasilitas Mobil Dinas, Bupati Safni Sikumbang Alihkan Dana untuk Alat Berat Jalan Usaha Tani

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Ninik Mamak Buka Suara: Tanah Ulayat Tak Pernah Menghambat Pembangunan Pasar Payakumbuh

Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:04 WIB

Rian Fahardhi ‘Presiden Gen Z’: Pendidikan Bukan Menyemaratakan, Tapi Temukan Formula Tepat untuk Setiap Anak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 21:05 WIB

Walikota Zulmaeta Buka Suara: Transportasi Gratis & Revitalisasi Pasar Payakumbuh di Podcast Kusieh Bendi

Berita Terbaru

13 Jenis Hamster yang Bisa Dipelihara Pemula. (Foto: CNN Indonesia)

Tips

13 Jenis Hamster yang Bisa Dipelihara Pemula

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:24 WIB

Chip AI China Melonjak Harga, Ini Faktor Kelangkaan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Chip AI China Melonjak Harga, Ini Faktor Kelangkaan

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:19 WIB

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS. (Foto: iNews.id)

Ekonomi

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:14 WIB

Dentuman Keras Gegerkan Warga Gorontalo Dini Hari. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

Dentuman Keras Gegerkan Warga Gorontalo Dini Hari

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:08 WIB