ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Di balik ketenangan Jorong Parabek yang terletak di Nagari Ladang Laweh, Banuhampu, Kabupaten Agam, denyut pembaruan Islam Nusantara pernah dirumuskan. Di sanalah, tak jauh dari jalan lintas Padang–Bukittinggi, berdiri kokoh sebuah madrasah dan masjid tua yang menjadi monumen hidup dari dedikasi Syekh Ibrahim bin Musa bin Abdul Malik. Akrab disapa Inyiak Parabek, ulama besar ini merupakan salah satu poros utama yang mengubah lanskap pendidikan Islam di Minangkabau pada abad ke-20.
Lahir pada bulan Syawal 1301 Hijriah, sejarah mencatat dua versi penanggalan Masehi untuk kelahirannya: 4 Agustus 1884 menurut jurnalis senior Fachrul Rasyid HF, dan 15 Agustus 1884 merujuk pada Ensiklopedi Minangkabau. Terlepas dari selisih tanggal tersebut, kontribusi intelektual yang ia lahirkan jauh lebih monumental. Sebagai anak tunggal dari pasangan Musa bin Abdul Malik dan Maryam, Ibrahim kecil ditempa dalam tradisi surau yang disiplin, di mana Alquran menjadi bacaan dan pegangan spiritual harian hingga beranjak remaja.
Rihlah Ilmiah dan Kosmopolitanisme Mekkah
Mengikuti tradisi intelektual pemuda Minangkabau masa itu, Ibrahim menjalani pengembaraan keilmuan (rihlah ilmiah) yang dinamis dari satu surau ke surau lain. Ia menyerap pelbagai disiplin ilmu dari para guru terkemuka:
- Ilmu Nahwu dan Sharaf: Berguru kepada Syekh Mata Air di Pakandangan.
- Ilmu Fiqih: Menimba ilmu dari Tuanku Angin di Batipuh Baruah.
- Disiplin Keislaman Luas: Memperdalam pemahaman kepada Syekh Abbas Ladang Laweh, Syekh Abdul Shamad Biaro, Syekh Jalaluddin Al-Kasai, hingga Syekh Abdul Hamid Talago, Lima Puluh kota.
Pola pendidikan keliling ini berhasil membentuk karakter Ibrahim sebagai seorang faqih yang berwawasan luas dan toleran terhadap perbedaan mazhab.
Menginjak usia dua puluh tahun, tepatnya pada 1902, di tengah impitan kolonialisme Belanda dan polemik internal umat, Ibrahim memutuskan berangkat ke Mekkah bersama kakaknya, Abdul Malik. Di tanah suci, ia berguru kepada poros ulama Nusantara, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, serta mendalami ilmu falak kepada Syekh Muhammad Djamil Jambek. Atmosfer kosmopolitan Haramain mempertemukannya dengan arus utama pemikiran Islam global, mematangkan pemahamannya tentang tafsir, hadis, hukum Islam, dan gerakan pembaruan.
Transformasi Parabek: Dari Halaqah ke Madrasah Modern
Kembalinya Ibrahim ke Parabek sekitar tahun 1910 setelah bermukim di Mekkah selama enam setengah hingga sembilan tahun menandai babak baru bagi nagari tersebut. Ia tidak hanya pulang membawa gelar alim, tapi ada sebuah visi pendidikan. Metode halaqah yang ia rintis segera disesuaikan; ia memperkenalkan tradisi diskusi yang kritis, di mana santri dituntut berani berdebat dan menguji dalil Alquran maupun hadis.
Pada 1916, forum ini diresmikan dengan nama Muzakaratul Ikhwan, yang tiga tahun kemudian berkembang menjadi organisasi pelajar. Wadah inilah yang menjadi cikal bakal Sumatera Thawalib Parabek.
Lompatan Sejarah (1921): Syekh Ibrahim melakukan reformasi radikal dengan mengubah sistem halaqah tradisional menjadi sistem kelas (madrasah modern). Kurikulum tidak lagi kaku; ilmu umum seperti matematika, ekonomi, dan bahasa asing mulai diajarkan berdampingan dengan kitab-kitab klasik (kitab kuning).
Langkah modernisasi ini sempat memicu kecurigaan pemerintah Hindia Belanda yang khawatir madrasah ini bertransformasi menjadi basis politik bawah tanah. Namun, intelijen kolonial tidak menemukan bukti aktivitas politik praktis. Demi menjaga independensi lembaga dan menolak subsidi Belanda, Syekh Ibrahim memilih jalur kemandirian ekonomi dengan mendirikan toko buku berbahasa Arab di Bukittinggi.
Epistemologi Akidah dan Moderasi Sikap
Meskipun kerap digolongkan dalam gerakan reformasi, Syekh Ibrahim mengambil posisi unik dalam ketegangan antara Kaum Muda dan Kaum Tua pada dekade 1920-an. Ia memilih jalan tengah (moderasi) dan menolak keras fanatisme buta terhadap satu mazhab. Bagi teman Inyiak Canduan ini, seorang penuntut ilmu harus menguasai satu mazhab secara mendalam terlebih dahulu sebelum mempelajari mazhab lain sebagai komparasi.
Sikap moderat ini juga tercermin dalam aspek teologisnya. Penemuan naskah karyanya yang berjudul Hidayatul Ahibah ilā Ma‘rifati ‘Aqā’idi Ahl al-Sunnah wa al-Jamā‘ah sebuah kitab beraksara Arab-Melayu yang kini telah dialihaksarakan ke Latin membuka tabir pemikiran sang syekh. Kitab ini berfokus pada Akidah Limapuluh (sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan rasul-Nya) yang berakar pada teologi Asy‘ariyah dan Maturidiyah.
Di samping itu, melalui karya ini, posisi Syekh Ibrahim sejajar dengan tokoh Kaum Muda sezamannya seperti Syekh Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Haji Abdullah Ahmad. Mereka sama-sama menjadikan pengajaran Sifat Dua Puluh sebagai fondasi akidah rasional untuk membentengi umat dari tantangan modernitas abad ke-20.
Kiprah Kebangsaan dan Akhir Hayat
Pengaruh Inyiak Parabek merambah jauh ke panggung publik dan pergerakan nasional. Ia ikut membidani lahirnya Persatuan Guru Agama Islam (PGAI), mengonsolidasikan kekuatan ulama di masa pendudukan Jepang, serta mendukung pembentukan laskar rakyat seperti Hizbullah dan Sabilillah. Bagi Syekh Ibrahim, kemerdekaan adalah sebuah keniscayaan yang harus diperjuangkan dengan kesiapan fisik sekaligus kematangan intelektual.
Pasca-kemerdekaan, kontribusinya berlanjut di ranah formal saat ia terpilih sebagai anggota Badan Konstituante mewakili Partai Masyumi pada tahun 1956. Ia terlibat aktif dalam perumusan arah dasar negara, memandang politik sebagai instrumen luhur untuk menjaga martabat umat, bukan sekadar panggung perebutan kekuasaan.
Perjalanan panjang Inyiak Parabek berakhir pada malam Kamis, 25 Juli 1963. Kepergiannya ditangisi ribuan pelayat yang mengantarkannya hingga ke peristirahatan terakhir di kompleks Masjid Parabek. Kendati raganya telah tiada, Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek tetap berdiri tegak hingga hari ini, melestarikan warisan berharga bahwa Islam di Minangkabau mampu mengawinkan tradisi dengan modernitas, serta menyelaraskan keimanan dengan tanggung jawab sosial.









