ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pandangan strategisnya terkait masa depan Indonesia di tengah konstelasi global, hal itu dikemukakan dalam acara Panen Raya TNI Terintegrasi dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nasional yang digelar serentak di 43 titik di seluruh Indonesia, di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7). Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan optimisme kolektif untuk membawa Indonesia keluar dari stigma bangsa yang lemah menuju negara yang mandiri, makmur, dan berdikari. Salah satu selingan menarik yang disampaikan adalah adanya sebuah kompetisi internal di lingkungan perwira tinggi militer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Nanti ada pertandingan antara jenderal-jenderal. Saya wasitnya,” ujar Prabowo disambut riuh hadirin.
Prabowo mengingatkan pentingnya perubahan paradigma bangsa agar tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia internasional. Menurutnya, keramahtamahan bangsa Indonesia sering kali disalahartikan sebagai ketidakberdayaan.
“Kita ramah dibilang lemah. Ya kita baik dibilang bodoh. Ya sudahlah,” kata Prabowo menekankan pentingnya transisi mentalitas menuju bangsa yang bangkit dan berdaulat secara industri serta teknologi.
Kemandirian industri dalam negeri, khususnya di sektor pertahanan, menjadi fokus utama yang disoroti oleh Kepala Negara. Ia menceritakan pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, ketika dihadapkan pada pilihan sulit antara membeli kendaraan taktis buatan asing yang lebih murah atau produk orisinal dalam negeri yang harganya relatif lebih tinggi karena baru memulai proses produksi. Pilihan tersebut akhirnya jatuh pada kendaraan taktis “Maung” demi masa depan industri otomotif nasional.
Bukti keandalan industri pertahanan domestik juga ditunjukkan melalui prestasi gemilang TNI dalam berbagai kejuaraan menembak tingkat internasional. Indonesia tercatat berhasil meraih kemenangan beruntun belasan kali, meski kompetisi tersebut diselenggarakan di bawah regulasi asing. Prabowo mengungkapkan, pencapaian luar biasa ini diraih dengan menggunakan senjata orisinal dan amunisi buatan anak bangsa, yang sempat memicu ketidakpercayaan dari negara-negara militer kuat lainnya.
“Begitu kita menang kaget mereka, Indonesia kan dianggap remeh. Hadir di situ militer-militer terbaik di dunia, tentara Amerika marinir, Australia, Selandia Baru, Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, ya Indonesia 12 kali menang,” ungkapnya dengan nada bangga.
Keberhasilan-keberhasilan ini, lanjut Prabowo, merupakan cerminan dari potensi besar yang dimiliki Indonesia apabila didukung oleh sistem kepemimpinan formal yang transformatif, penyediaan fasilitas yang memadai, serta komitmen penuh untuk memberantas praktik korupsi di segala lini sektor anggaran publik. Ia meminta para komandan dan perwira TNI-Polri untuk menjadi teladan nyata di lapangan.
Menatap masa depan jangka panjang, Prabowo membeberkan kalkulasi para pakar ekonomi dunia yang memproyeksikan posisi strategis geopolitik dan ekonomi Indonesia pada tahun 2045 hingga 2050. Indonesia diprediksi akan bertransformasi dan menempati posisi sebagai kekuatan ekonomi terbesar keempat di dunia, berada di atas negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, dan Prancis.
Kendati demikian, lompatan besar tersebut memerlukan prasyarat mutlak, yakni penyiapan sumber daya manusia sejak dini serta pengentasan problem sosial-ekonomi mendasar di masyarakat. Pembangunan generasi muda yang bebas dari stunting dan kelaparan menjadi prioritas mutlak yang harus diselesaikan tanpa penundaan.
“Kita harus hilangkan kelaparan, kita harus hilangkan kemiskinan. Kemiskinan, apalagi kemiskinan ekstrem harus kita hilangkan,” tegas Prabowo menutup pidatonya dengan seruan efisiensi dan penghematan anggaran negara demi pemenuhan kesejahteraan rakyat secara luas.









