ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Di sebuah ruang kuliah Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, suara itu mengalun tenang namun bertenaga. Pemiliknya adalah Karlina Rohima Supelli. Bagi jagat pemikiran Indonesia, perempuan kelahiran Jakarta, 15 Januari 1958 ini bukan sekadar pengajar. Ia adalah paradoks yang indah: seorang ilmuwan eksakta yang melompat ke kedalaman metafisika, seorang astronom perempuan pertama di Indonesia yang justru menemukan jawaban atas rahasia alam semesta melalui jalan filsafat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lahir dari pasangan Ahmad Supelli, seorang pria Sunda, dan Margaretha, perempuan berkebangsaan Belanda, Karlina menghabiskan masa kecilnya di Sukabumi, Jawa Barat. Di bawah langit malam Sukabumi yang kala itu masih bersih, ketertarikannya pada misteri langit bermula.
Pertanyaan-pertanyaan bocah kecil mengenai bagaimana bintang terbentuk dan dari mana semua ini bermula, membawanya melangkah ke Jurusan Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Lulus dari sana pada 1981, ia sempat menjadi Kepala Seksi Observasi Planetarium Jakarta sebelum meneruskan studi ke University College London, Inggris, guna merengkuh gelar magister (M.Sc.) di bidang space science.
Namun, semakin jauh Karlina menembus ruang angkasa lewat teleskop dan rumus-rumus matematika, semakin ia menyadari keterbatasan ilmu empiris. Fisika dan sains, baginya, memiliki batas finis. Ada dahaga eksistensial yang tidak terjawab oleh sekadar angka kuantum. Pencarian itu membawanya pulang ke tanah air dan membelokkan kemudi hidupnya ke jalur filsafat. Pada 1992, ia mengambil program magister filsafat di Universitas Indonesia, dan berlanjut hingga tingkat doktoral.
Tahun 1997 menjadi tonggak sejarah. Dibawah bimbingan promotor Prof. Dr. Toeti Heraty dan B.J. Habibie, Karlina berhasil mempertahankan disertasinya yang monumental: Wajah-Wajah Alam Semesta: Suatu Kosmologi Empiris Konstruktif. Lewat karya ini, ia menahbiskan diri sebagai doktor filsafat dengan kepakaran langka membedah alam semesta (kosmos) tidak hanya sebagai materi fisik, tetapi sebagai realitas yang maknawi.
Gaya hidup akademis Karlina yang tekun meneliti dan mengajar seketika diuji oleh sejarah. Setahun setelah meraih gelar doktornya, badai krisis moneter dan politik 1998 mengguncang Indonesia. Di sinilah sisi kemanusiaan Karlina mendidih. Menolak diam di dalam menara gading universitas, Karlina turun ke jalan.
Pada 19 Februari 1998, bersama Gadis Arivia dan Wilarsih yang tergabung dalam gerakan Suara Ibu Peduli (SIP), Karlina menggelar demonstrasi di depan Bundaran Hotel Indonesia. Di bawah kepungan aparat, mereka menuntut sesuatu yang sangat membumi: penurunan harga susu anak dan kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Aksi berani para ibu ini menjadi salah satu pemantik moral gerakan Reformasi. Karlina bahkan sempat ditangkap dan didakwa melanggar Pasal 510 KUHP karena berdemonstrasi tanpa izin.
Keberpihakan Karlina pada kemanusiaan tidak berhenti di Bundaran HI. Ia juga aktif menyuarakan pembelaan bagi perempuan korban kekerasan seksual di wilayah konflik, seperti di Aceh dan Timor Timur, yang kerap diabaikan oleh narasi besar politik militer saat itu.
Kini, di usianya yang telah matang, keseharian Karlina kembali diabdikan pada dunia pendidikan sebagai dosen tetap Pascasarjana STF Driyarkara. Ia terus mengajar, meneliti, dan menulis. Di ruang-ruang kelas itu, ia tidak hanya mengajarkan filsafat ilmu, tetapi juga menularkan kesadaran moral bahwa ilmu pengetahuan harus selalu berjalan beriringan dengan empati sosial. Karlina Supelli adalah bukti hidup bahwa seorang pemikir sejati tidak hanya menatap bintang-bintang di langit tinggi, melainkan juga menjejakkan kaki dengan kokoh untuk memeluk penderitaan manusia di bumi.









