JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Bank Indonesia diprediksi mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026 yang hasilnya diumumkan Rabu (19/8/2026), ditopang oleh inflasi yang kembali melandai ke bawah 3 persen dan membaiknya aliran modal asing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan BI akan menahan BI-Rate di level 5,75 persen. Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman menjelaskan, faktor pendorongnya antara lain inflasi yang sudah kembali ke bawah 3 persen serta perbaikan capital inflow yang mendukung nilai tukar rupiah.
“Ke depan, kami masih melihat di sisa tahun 2026 BI akan cenderung mempertahankan BI-Rate, meski kami tidak me-rule out kemungkinan naik jika kondisi global secara tak terduga memburuk sangat signifikan,” kata Faisal Rachman.
Tekanan Inflasi dan Faktor Global
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) juga memperkirakan BI-Rate bertahan di level 5,75 persen. Sebagai catatan, inflasi Juli 2026 melambat menjadi 2,88 persen secara tahunan dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya. Namun, LPEM FEB UI mengingatkan tekanan inflasi berpotensi meningkat seiring puncak musim kemarau pada Agustus–September 2026.
Dari sisi global, The Fed menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50–3,75 persen pada rapat FOMC akhir Juli lalu. Keputusan tersebut diwarnai perbedaan pendapat akibat kekhawatiran inflasi berkepanjangan, namun tetap membuka ruang bagi BI untuk menahan suku bunganya.
Arus Modal Masuk dan Penguatan Rupiah
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai, kombinasi kebijakan The Fed menahan suku bunga dan pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia yang berlangsung mulus memicu arus modal masuk ke Indonesia. Sejak akhir bulan lalu hingga 13 Agustus, Indonesia menikmati arus modal masuk sebesar 0,28 miliar dolar AS.
“Oleh karena itu, Bank Indonesia sebaiknya menahan suku bunga acuannya di 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang guna menjaga ruang gerak untuk menaikkan suku bunga acuan di masa mendatang,” jelas Riefky. Seiring dengan itu, rupiah dalam dua minggu terakhir menguat 1,11 persen dari Rp18.078 menjadi Rp17.876 per dolar AS.









