Jakarta, ArgumenRakyat.com — Gagal ginjal bukan hanya penyakit orang dewasa, karena hipertensi dan diabetes pada anak menjadi faktor risiko yang membuat penanganan sering datang terlambat.
Pengalaman Agistina Kamila menjadi contoh nyata. Remaja 17 tahun asal Tangerang itu kini menjalani cuci darah dua kali sepekan dan terpaksa meninggalkan sementara kelas 3 SMK-nya. Ia sempat koma sekitar sepekan pada tahun lalu sebelum dokter mendiagnosis gagal ginjal kronis, dan menurut ibunya, Lisna, kondisi putrinya sempat membaik usai prosedur hemodialisa sebelum akhirnya menurun lagi.
“Sebenarnya waktu periksa ISK dan kemudian sudah di, apa namanya, sudah dibetulkan, maksudnya sudah diobati dan seterusnya itu, dokternya bilang ada hipertensi,” kata Lisna.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Kasus serupa dialami M. Rahmat asal Makassar. Ia didiagnosis gagal ginjal sejak kelas 1 SMA atau usia 15 tahun setelah kebiasaan begadang, minuman kemasan, dan camilan asin. “Begitu kelas 1 SMA tiba-tiba mengalami mual, muntah, pucat dan lemas. Kemudian ada kejang juga sama orangtua langsung di bawa ke IGD,” kisah Rahmat. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kreatininnya 30 kali di atas normal, tekanan darahnya 172/93, dan fungsi ginjal tinggal di bawah 15 persen.
Kesadaran orang tua jadi kunci
Ketua Pengurus Yayasan Ginjal Anak Indonesia, Agustia Sumariati, menilai kesadaran orang tua sebagai persoalan pertama. “Yang harus ditingkatkan sih sebenarnya pertama kesadaran dari orang tua. Terus juga edukasi-edukasi ke masyarakat pelosok-pelosok gitu, karena banyak juga yang awam,” kata Ag. Yayasan itu kini menyantuni sekitar 80 anak dengan kasus serupa.
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut Indonesia mengalami pergeseran pola penyakit dari infeksi menjadi penyakit tidak menular yang tumbuh tanpa gejala. “Orang dengan hipertensi sering tidak mengetahui dirinya hipertensi. Orang dengan diabetes juga sering tidak mengetahui dirinya diabetes. Karena itu, kita tidak bisa hanya mengandalkan keluhan,” tegas Dante.
Cek kesehatan gratis diperluas
Hingga 31 Juli 2026, dari 14,64 juta anak dan remaja yang diperiksa, 2,21 juta memiliki tekanan darah di atas normal atau sekitar 15 persen, meski temuan itu belum berarti diagnosis hipertensi. Target cakupan Cek Kesehatan Gratis Sekolah 2026 dipatok 16,9 juta anak, namun capaiannya dilaporkan melampaui target menjadi lebih dari 25 juta anak.









