PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Ketua KNPI Kota Payakumbuh Rahmanda Fajri menyoroti hilangnya tradisi minum kopi pagi antara pemuda dan pemimpin daerah. Ia menilai jarak komunikasi yang kian lebar membuat kendala anak muda lambat ditangani.
Fajri mengingatkan, pada masa sebelumnya pemuda Kota Payakumbuh rutin bertemu pemimpin daerah untuk berdiskusi santai. “Dalam sebulan kami ada 4 kali minum pagi, ngopi dengan wali kota, dengan pemuda-pemuda,” ujarnya dalam podcast Kusieh Bendi. Forum itu, kata dia, menjadi tempat menuangkan gagasan pengembangan daerah.
Kebiasaan itu kini tidak lagi berjalan. “Kita belum ada ngopi-ngopi dengan Pak Wali atau Ketua DPRD,” katanya. Fajri menilai gap komunikasi antara anak muda dan pemimpin daerah semakin lebar, sehingga aspirasi pemuda sulit tersalurkan dengan cepat.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Inisiatif Harus Datang dari Kepala Daerah
Menurut Fajri, menghidupkan kembali forum itu semestinya menjadi inisiatif kepala daerah. “Menurut saya ini harus menjadi inisiatifnya kepala daerah,” tuturnya. Ia beralasan, forum nonformal membuat persoalan pemuda bisa dibicarakan lebih terbuka tanpa sekat protokoler.
Ia menilai komunikasi yang efektif membuat pemerintah daerah bisa lebih cepat melakukan intervensi terhadap kendala di luar kendali anak muda. “Karena hari ini semakin jauh jenjang komunikasi, gap antara anak muda dengan pemimpin daerah itu semakin jauh,” ujarnya. Padahal, kata dia, banyak persoalan kepemudaan bisa diselesaikan lebih dulu lewat obrolan ringan.
Aspirasi Pemuda Lewat Rapat Paripurna
Fajri menyebut KNPI Kota Payakumbuh menyiapkan Rapat Paripurna Pemuda pada 28 Oktober 2026 sebagai kanal aspirasi. Forum itu melibatkan organisasi kemasyarakatan pemuda, badan eksekutif mahasiswa, perwakilan kelurahan, hingga komunitas hobi. Hasilnya akan disampaikan kepada eksekutif, legislatif, dan kepolisian sebagai kompas moral pembangunan.
Ia mengakui anggota dewan dinilai belum optimal menjembatani aspirasi kepemudaan. Karena itu, ia berharap forum tersebut melahirkan kesepakatan yang benar-benar mewakili keinginan anak muda. “Hasil sebuah gerakan itu memang tidak dilihat hari ini, dia berproses,” katanya.
Fajri menegaskan organisasi pemuda tetap butuh perhatian, baik dukungan moral maupun material. Menurut dia, dukungan kepada agenda kepemudaan pada akhirnya menjadi investasi masa depan Kota Payakumbuh.
Pembahasan lengkap soal ini bisa disimak dalam episode podcast Kusieh Bendi di kanal YouTube Dimensia Creative.









