Bahaya Menghirup Asap Karhutla bagi Tubuh dan Paru-paru

- Jurnalis

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Asap karhutla menyelimuti wilayah pemukiman di Kalimantan Selatan. (Foto: Wikimedia Commons)

Asap karhutla menyelimuti wilayah pemukiman di Kalimantan Selatan. (Foto: Wikimedia Commons)

JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa partikel kecil dan zat kimia berbahaya yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru serta berdampak jangka panjang bagi tubuh.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

PM2.5, Polutan Paling Berbahaya

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut asap kebakaran sebagai campuran berbagai polutan seperti PM2.5, PM10, partikel ultrahalus, karbon monoksida, ozon, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, hingga senyawa kimia polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs) dan sejumlah logam beracun.

Partikel PM2.5 paling perlu diwaspadai karena ukurannya sangat kecil dan dapat terhirup masuk jauh ke dalam paru-paru. WHO mencatat sekitar 90 persen massa partikel yang dilepaskan dari kebakaran berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. PM2.5 dapat memicu iritasi dan peradangan, sehingga memunculkan batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, atau mengi.

Baca Juga:  Waspada Manipulasi Citra: 5 Tips Ampuh Melindungi Diri dari Ancaman Deepfake AI di Ruang Digital

Asap karhutla memang tidak langsung membuat seseorang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Paparan asap lebih berperan mengganggu kondisi saluran pernapasan sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap gangguan dan infeksi.

Dampak Jangka Panjang ke Jantung

Selain saluran pernapasan, paparan kabut asap juga berdampak jangka panjang terhadap jantung. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) mengidentifikasi tiga jalur utama, yakni peradangan sistemik, masuknya partikel ke sirkulasi darah, hingga memicu gangguan sistem saraf otonom yang dapat meningkatkan denyut jantung atau mengganggu regulasi tekanan darah.

Baca Juga:  Waspada Sayur Berformalin, Ini Cara Mendeteksinya

Penelitian yang diterbitkan jurnal Environmental Health memperkirakan kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan berkaitan dengan sekitar 4.390 rawat inap tambahan akibat penyakit pernapasan serta sekitar 635 ribu kasus serangan asma berat pada anak setiap tahun. Karena itu, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru atau jantung perlu lebih berhati-hati saat kualitas udara memburuk.

Berita Terkait

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua
4 Manfaat Menulis Tangan untuk Kesehatan Otak
9 Perangkat Rumah yang Diam-Diam Bikin Boros Listrik
Waspada Sayur Berformalin, Ini Cara Mendeteksinya
8 Perangkat Rumah yang Tanpa Disadari Boros Listrik
Telinga Tersumbat Lama? Bisa Jadi Gejala Kanker Nasofaring
512 Santri Keracunan MBG, BGN Suspend SPPG Sidoarjo 30 Hari
Frozen Yogurt atau Es Krim, Mana Lebih Aman untuk Gula Darah?

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:25 WIB

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua

Selasa, 8 September 2026 - 10:21 WIB

4 Manfaat Menulis Tangan untuk Kesehatan Otak

Senin, 7 September 2026 - 12:32 WIB

9 Perangkat Rumah yang Diam-Diam Bikin Boros Listrik

Jumat, 4 September 2026 - 10:21 WIB

Waspada Sayur Berformalin, Ini Cara Mendeteksinya

Kamis, 3 September 2026 - 11:54 WIB

8 Perangkat Rumah yang Tanpa Disadari Boros Listrik

Berita Terbaru

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua. (Foto: CNN Indonesia)

Gaya Hidup

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:25 WIB

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:20 WIB

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029. (Foto: Tribunnews)

Ekonomi

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:15 WIB

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina. (Foto: Tribunnews)

Nasional

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:08 WIB