PESISIR SELATAN, ArgumenRakyat.com — Universitas Andalas (UNAND) mendampingi petani gambir di Nagari Tuik IV Koto Mudiek, Kabupaten Pesisir Selatan, untuk mengubah pola pengolahan tradisional menjadi sistem yang lebih ramah lingkungan dan efisien.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengolahan Tradisional Tekan Kawasan Hutan
Selama ini sebagian petani gambir mengolah hasil panen langsung di kawasan perbukitan yang jauh dari pemukiman. Proses tersebut membutuhkan energi panas dalam jumlah besar yang secara tradisional diperoleh dari kayu bakar. "Proses tersebut membutuhkan energi panas dalam jumlah besar, yang secara tradisional diperoleh dari kayu bakar," kata Ketua Tim UNAND, Hendra Saputra, Jumat (21/8).
Kebutuhan kayu bakar itu mendorong aktivitas penebangan pohon di sekitar lokasi pengolahan. Dalam jangka panjang, praktik tersebut berpotensi mengurangi tutupan vegetasi, meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan, serta mengganggu kelestarian lingkungan.
Dorong Sentra Pengolahan di Pemukiman
Tim UNAND berupaya menghadirkan teknologi tepat guna agar pengolahan gambir dipindah dari kawasan bukit ke sentra pengolahan di sekitar pemukiman dengan teknologi yang lebih efisien dan tidak lagi bergantung kayu bakar. "Kami ingin mendorong petani gambir agar tetap produktif dan meningkatkan nilai ekonominya, tetapi tidak harus mengorbankan kelestarian hutan," ujar Hendra Saputra.
Pengolahan di kawasan pemukiman juga membuka peluang terbentuknya unit produksi bersama atau sentra pengolahan gambir masyarakat, sehingga petani tidak hanya menjual bahan mentah tetapi mampu menghasilkan produk yang lebih terstandar. Kegiatan ini melibatkan tim dosen Hendra Saputra, Kiki Yulianto, Fea Firdani, serta mahasiswa, dan didanai Kemendiktisaintek skema pemberdayaan kemitraan masyarakat.









