PAYAKUMBUH — “Kota Payakumbuh saja membutuhkan 100 kg green bean kopi per hari. Tapi pasokan bahan bakunya didatangkan dari luar.” Fakta mengejutkan ini diungkap Henri Donal, petani kopi asal Kabupaten 50 Kota, dalam podcast Kusieh Bendi. Di tengah potensi kopi Sumatera Barat yang luar biasa, ironi justru terjadi — daerah penghasil kopi malah bergantung pada pasokan dari luar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Vietnam: Negara Kecil, Penghasil Kopi Nomor 2 Dunia
Henri membuka diskusi dengan data yang membuka mata. Indonesia adalah produsen kopi nomor 4 dunia, namun tertinggal jauh dari Vietnam yang berada di posisi 2 — padahal luas Pulau Sumatera saja lebih besar dari seluruh negara Vietnam.
“Inilah yang membuat saya habis berpikir,” ujarnya. “Begitu banyak potensi yang ada, seharusnya pemerintah punya brand tersendiri. Daerah penghasil kopi ada brand-nya, penghasil gambir ada brand-nya — ini akan membuat ekonomi bergeliat.”
100 Kg Per Hari, Tapi Didatangkan dari Luar
Henri membeberkan ironi di Payakumbuh: kota ini mengonsumsi 100 kg green bean kopi setiap hari — dari kedai-kedai kopi, kafe, hingga rumah tangga — namun seluruh pasokan bahan bakunya didatangkan dari luar daerah.
“Orang Minang tidak bisa dipisahkan dari kopi. Dari dulu sampai sekarang, pagi hari duduk di kedai di lapau minum kopi, malam hari bersenggama dengan kawan-kawan — tidak bisa dipisahkan dengan kopi,” tuturnya.
Padahal, potensi ekonominya sangat besar. “1 hektar itu bisa menghasilkan uang ratusan juta.”
Bantuan Bibit Tanpa Pembinaan
Henri mengkritik pendekatan pemerintah yang selama ini hanya fokus pada bantuan bibit tanpa disertai pembinaan dan pengawasan berkelanjutan. “Pemerintah cuma fokus membantu berupa bibit, tanpa melakukan pembinaan dan pengawasan sampai bibit itu menghasilkan di tingkat petani.”
Ia membandingkan dengan Kabupaten di Lampung yang berhasil karena pemerintah daerahnya membuat demplot (demonstration plot) seluas 1,5 hektar. “Setelah kopi itu menghasilkan, otomatis masyarakat tergiur dengan penghasilannya. Masyarakat kita ini sama kayak memandikan kuda — kita yang harus terjun dulu ke air, baru kudanya ikut.”
“Kita membawa masyarakat menanam kopi, tapi kita sendiri belum pernah bertanam kopi. Itu mustahil.”
Kopi: Penopang Pendidikan dan Ekonomi
Henri mengingatkan bahwa sebelum harga kopi anjlok di tahun 2000-an, tanaman kopi adalah tulang punggung ekonomi masyarakat 50 Kota. “Kopi menjadi penopang perekonomian masyarakat untuk biaya pendidikan anak-anak mereka.”
Kini, dengan tren kopi spesialti yang terus naik 11% CAGR hingga 2030, momen kebangkitan kopi lokal Sumatera Barat justru terlewatkan karena kurangnya keseriusan dari pemerintah.
Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, mengangkat isu-isu strategis dan potensi daerah Sumatera Barat. Ingin mendukung konten yang membangun kesadaran akan potensi lokal? Dimensia Creative membuka peluang kolaborasi — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.









