ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Polemik pola asuh dan kesehatan mental anak tengah menjadi perhatian serius praktisi psikologi. Banyak orang tua berlomba memberikan fasilitas terbaik, mulai dari pemenuhan gizi hingga mendaftarkan anak ke sekolah eksklusif, namun mengabaikan pemenuhan kebutuhan psikologis serta emosional yang justru mendasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Psikolog anak dan keluarga asal Payakumbuh, Halfizh dalam sebuah tayangan Podcast program Kusieh Bendi, di channel YouTube Dimensia Creative yang diunggah pada 23 Juli 2026, menegaskan bahwa proses tumbuh kembang anak tidak sebatas ukuran fisik atau pemenuhan materi. Lebih dari itu, pengasuhan mencakup empat dimensi utama yang saling berkaitan: biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.
“Selama ini kita lihat orang tua berpacu-pacu untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, tapi ternyata bagi anak itu belum yang terbaik,” kata Halfizh.
Menurut Halfizh, salah satu kekeliruan fatal dalam pola asuh modern adalah kecenderungan orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan karakter sepenuhnya kepada pihak ketiga, seperti lembaga sekolah. Padahal, sekolah hanyalah sarana penguatan, sementara fondasi utama tetap dibentuk di lingkungan keluarga.
Ia menekankan bahwa generasi masa kini lebih membutuhkan keteladanan nyata dibandingkan deretan instruksi atau nasihat verbal semata.
“Anak-anak zaman sekarang itu tidak suka lagi arahan atau nasihat, ternyata om. Anak-anak zaman sekarang itu ternyata seneng itu “contoh”, misal contoh nih, orang tuan pengen banget nih anak-anak itu kalau habis maghrib itu ngaji, lah orang tuanya nggak ngaji, orang tua pengen banget anaknya salat, lah orang tuanya enggak salat,” ujar Halfizh.
Dalam kesempatan tersebut, Halfizh juga mengkritisi pandangan klasik mengenai masa emas (golden age) usia 0–5 tahun yang kerap dipersepsikan secara kaku. Penafsiran yang keliru atas konsep tersebut sering membuat para orang tua merasa terlambat atau gagal total apabila tidak optimal mendampingi anak pada lima tahun pertama kehidupannya. Padahal, pengasuhan merupakan proses belajar yang dinamis dan terus berkembang.
“Enggak ada kata-kata terlambat untuk pengasuhan. Kita hidup terus bertumbuh dan berkembang, masih banyak momen-momen untuk kita belajar bersama,” tutur Halfizh.
Menghadapi kompleksitas era digital, pria yang memiliki tempat praktik di JL. Rasuna Said nomor 29, Kelurahan Labuah Basilang, Kecamatan Payakumbuh Barat itu juga turut membeberkan kunci utama keberhasilan pola asuh yang berorientasi pada pembentukan mental anak yang sehat. Menurutnya, orang tua dituntut hadir secara utuh melalui konsistensi dan komitmen bersama, bukan sekadar kehadiran fisik tanpa interaksi yang bermakna.
“Yang paling penting itu adalah kehadiran kedua orang tuanya, komitmen, konsisten, dan konsekuensi, dua-duanya harus hadir,” tegas Halfizh.
Dalam konten yang berjudul ”Sekolah Pertama Anak Ada di Rumah, Bukan di Luar!” Itu Halfizh juga mengingatkan para orang tua untuk menyisihkan waktu berkualitas di tengah kesibukan harian demi mendampingi serta memahami perkembangan jiwa, sosial, maupun spiritual anak sejak dini.









