Psikolog Asal Payakumbuh Ungkap Fondasi Tumbuh Kembang Anak Dimulai dari Rumah

- Jurnalis

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar Psikolog, Halfizh dalam channel YouTube Dimensia Creative, program Kusieh Bendi, diunggah pada 23 Juli 2026

Tangkapan layar Psikolog, Halfizh dalam channel YouTube Dimensia Creative, program Kusieh Bendi, diunggah pada 23 Juli 2026

ARGUMENRAKYAT.COMSUMBAR – Polemik pola asuh dan kesehatan mental anak tengah menjadi perhatian serius praktisi psikologi. Banyak orang tua berlomba memberikan fasilitas terbaik, mulai dari pemenuhan gizi hingga mendaftarkan anak ke sekolah eksklusif, namun mengabaikan pemenuhan kebutuhan psikologis serta emosional yang justru mendasar.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Psikolog anak dan keluarga asal Payakumbuh, Halfizh dalam sebuah tayangan Podcast program Kusieh Bendi, di channel YouTube Dimensia Creative yang diunggah pada 23 Juli 2026, menegaskan bahwa proses tumbuh kembang anak tidak sebatas ukuran fisik atau pemenuhan materi. Lebih dari itu, pengasuhan mencakup empat dimensi utama yang saling berkaitan: biologis, psikologis, sosial, dan spiritual.

“Selama ini kita lihat orang tua berpacu-pacu untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya, tapi ternyata bagi anak itu belum yang terbaik,” kata Halfizh.

Menurut Halfizh, salah satu kekeliruan fatal dalam pola asuh modern adalah kecenderungan orang tua menyerahkan tanggung jawab pendidikan karakter sepenuhnya kepada pihak ketiga, seperti lembaga sekolah. Padahal, sekolah hanyalah sarana penguatan, sementara fondasi utama tetap dibentuk di lingkungan keluarga.

Baca Juga:  Hukum Revolusi: Melihat Pandangan Tan Malaka

Ia menekankan bahwa generasi masa kini lebih membutuhkan keteladanan nyata dibandingkan deretan instruksi atau nasihat verbal semata.

“Anak-anak zaman sekarang itu tidak suka lagi arahan atau nasihat, ternyata om. Anak-anak zaman sekarang itu ternyata seneng itu “contoh”, misal contoh nih, orang tuan pengen banget nih anak-anak itu kalau habis maghrib itu ngaji, lah orang tuanya nggak ngaji, orang tua pengen banget anaknya salat, lah orang tuanya enggak salat,” ujar Halfizh.

Dalam kesempatan tersebut, Halfizh juga mengkritisi pandangan klasik mengenai masa emas (golden age) usia 0–5 tahun yang kerap dipersepsikan secara kaku. Penafsiran yang keliru atas konsep tersebut sering membuat para orang tua merasa terlambat atau gagal total apabila tidak optimal mendampingi anak pada lima tahun pertama kehidupannya. Padahal, pengasuhan merupakan proses belajar yang dinamis dan terus berkembang.

Baca Juga:  Gerobak Kopi yang Mengubah Hidup: Kisah Sukses Kopi Ajoe dari Payakumbuh

“Enggak ada kata-kata terlambat untuk pengasuhan. Kita hidup terus bertumbuh dan berkembang, masih banyak momen-momen untuk kita belajar bersama,” tutur Halfizh.

Menghadapi kompleksitas era digital, pria yang memiliki tempat praktik di JL. Rasuna Said nomor 29, Kelurahan Labuah Basilang, Kecamatan Payakumbuh Barat itu juga turut membeberkan kunci utama keberhasilan pola asuh yang berorientasi pada pembentukan mental anak yang sehat. Menurutnya, orang tua dituntut hadir secara utuh melalui konsistensi dan komitmen bersama, bukan sekadar kehadiran fisik tanpa interaksi yang bermakna.

“Yang paling penting itu adalah kehadiran kedua orang tuanya, komitmen, konsisten, dan konsekuensi, dua-duanya harus hadir,” tegas Halfizh.

Dalam konten yang berjudul ”Sekolah Pertama Anak Ada di Rumah, Bukan di Luar!” Itu Halfizh juga mengingatkan para orang tua untuk menyisihkan waktu berkualitas di tengah kesibukan harian demi mendampingi serta memahami perkembangan jiwa, sosial, maupun spiritual anak sejak dini.

Berita Terkait

Membedah Risalah “Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia” karya D.N Aidit
Menilik Aksi Massa dalam Pandangan Tan Malaka: Gejala Putsch dan Kerinduan Masa Radikal
Ustad Hadi Nur Ramadhan Hadir di Forum Rundiang karena Polemik Video Tan Malaka di Media Sosial
Dari Sebuah Video: Lahirlah Perdebatan Panjang tentang Natsir dan Tan Malaka
Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia
Hukum Revolusi: Melihat Pandangan Tan Malaka
Jebakan ‘Lifestyle Creep’: Alasan Mengapa Gaji Naik Tapi Tabungan Tetap Segini-Sini Saja
Edukasi Teknologi: Selain SEO, Mulai Kenali GEO agar Konten Anda Tetap Ditemukan Kecerdasan Buatan

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 10:11 WIB

Psikolog Asal Payakumbuh Ungkap Fondasi Tumbuh Kembang Anak Dimulai dari Rumah

Senin, 29 Juni 2026 - 16:50 WIB

Membedah Risalah “Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia” karya D.N Aidit

Minggu, 28 Juni 2026 - 16:50 WIB

Menilik Aksi Massa dalam Pandangan Tan Malaka: Gejala Putsch dan Kerinduan Masa Radikal

Kamis, 18 Juni 2026 - 13:31 WIB

Ustad Hadi Nur Ramadhan Hadir di Forum Rundiang karena Polemik Video Tan Malaka di Media Sosial

Kamis, 18 Juni 2026 - 12:50 WIB

Dari Sebuah Video: Lahirlah Perdebatan Panjang tentang Natsir dan Tan Malaka

Berita Terbaru