ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Sejarah tak pernah ditulis di atas kertas yang benar-benar steril. Ia kerap berkelindan dengan mitos, gemuruh spiritualitas, dan bayang-bayang panjang feodalisme yang belum usai. Di zaman tatkala sains modern dipuja sebagai satu-satunya regula fidei tolok ukur kebenaran kita sering kali tergesa-gesa membuang warisan masa silam ke keranjang sampah takhayul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal, di balik selubung mistisisme Nusantara, tersimpan sebuah kegelisahan epistemologis yang akut, yaitu absennya narasi global yang mampu menggerakkan bangsa ini di panggung dunia.
Ada satu masa ketika dunia akademik Barat terpukau oleh tatanan kosmologi Jawa. Pada abad ke-19, para naturalis Eropa mendaki lereng-lereng gunung berapi di Hindia Belanda, mencatat pergeseran lempeng bumi bukan dari instrumen canggih, melainkan dari penuturan penduduk lokal tentang aliansi gaib antara penguasa Gunung Merapi dan Ratu Laut Selatan. Bagi sains modern, ini adalah episteme yang primitif. Namun, bagi masyarakat masa itu, mitos Nyai Roro Kidul bukanlah sekadar entitas objektif yang empiris, tapi sebuah epistemological utility sebuah instrumen naratif yang memberikan petunjuk konkret tentang bagaimana manusia harus bertindak selaras dengan alam.
Tengoklah bagaimana Arat Sabulungan di Mentawai, Sumatra Barat sana menjaga lingkungan mereka dengan melarang keras buang air besar di sungai (baca buku Hikayat Sumatra, Fatris MF), adapun di sistem irigasi Subak di Bali bekerja dengan efikasi ritualistiknya, mari lihat juga bagaimana kitab epos I La Galigo milik masyarakat Bugis melarang pencemaran laut lewat doktrin perkawinan kosmik langit dan bumi.
Itu semua adalah adalah bentuk local identity yang memiliki kegunaan praktis yang luar biasa. Sayangnya, ada kecenderungan kuat di kalangan terdidik kita untuk merasa malu terhadap akar domestik ini. Kompleksitas psikologis ini adalah bentuk New-Jerk reaction yang berakar dari centuries-long feudalism dan sisa-sisa class warfare masa kolonial. Trauma sejarah itu melahirkan mentalitas inlander yang abadi; membuat kita kerap merasa inferior dan kikuk saat berhadapan dengan diskursus global.
Absennya keberanian intelektual untuk mengemas ulang identitas lokal ini melahirkan sebuah kekosongan narasi nasional. Di panggung internasional, Indonesia kerap gagap merumuskan misinya. Narasi-narasi megah seperti “poros maritim dunia” atau “paru-paru dunia” sering kali runtuh menjadi sekadar slogan kosong tanpa otentisitas (authenticity).
Ada kontradiksi yang banal, dan kita juga terpaksa memakai istilah banala karena tak menemukan yang lain, yakni kita mengklaim diri sebagai penjaga lingkungan global, tetapi pada saat yang sama, kebijakan ekonomi kita terus menggerus lahan gambut demi ekspansi komoditas, dan betapa kurang ajarnya kita. Kita kehilangan jangkar etis karena birokrasi kita tak lagi memahami kekuatan cerita leluhur sebagai fondasi. Rakyat tidak digerakkan oleh deretan angka atau jurnal paper ilmiah, tapi oleh sebuah narasi yang hidup.
Di sinilah letak kegagalan pedagogis para akademisi modern. Mereka gagal memberikan alat analisis yang memadai bagi masyarakat untuk membedakan mana spiritualitas substantif dan mana sekadar perdukunan eksploitatif. Akibatnya, ketika sains disajikan secara hambar, masyarakat berbondong-bondong melarikan diri pada mistisisme radikal.
Untuk menguji validitas sebuah klaim supernatural di ruang publik, sejatinya kita bisa meminjam pendekatan rasionalitas matematika melalui Bayesian theory. Dengan menghitung probabilitas sebuah peristiwa berdasarkan bukti-bukti pembanding yang ajek, masyarakat semestinya bisa melihat dengan jernih runtuhnya kredibilitas seorang pawang hujan atau dukun santet tanpa harus membunuh dimensi spiritual mereka.
Sebab, bagaimanapun juga, sains memiliki keterbatasan fundamental. Fisika dan biologi mampu menjelaskan mekanika perubahan iklim (climate change), tetapi ia tidak memiliki kompetensi etis untuk menjawab mengapa kita memiliki tanggung jawab moral untuk menyelamatkannya.
Lagi pula dasar etos itu hanya bisa digali dari sumur spiritualitas dan kebudayaan. Barat memahami hal ini dengan baik; mereka merawat drama tragis Hamlet karya Shakespeare menjadi narasi populer yang menanamkan nilai-nilai kebajikan sejak usia dini, sebagaimana mereka mengingat memori kelam wabah Black Death lewat lagu anak-anak.
Belum lagi kalau kita tinjau kebudayaan mistis Norwegia mengintegrasikan spiritualitas dan ekologi dalam menjaga kelestarian alam. Melalui mitologi Nordik, Troll berfungsi sebagai instrumen psikologis yang membatasi eksploitasi wilayah liar. Sementara itu, masyarakat adat Sámi menerapkan prinsip konservasi berbasis animisme lewat ritual Lavvu.
Terakhir, ada pula komunitas Forest Finns memperkuat hubungan manusia-alam menggunakan mistisisme. Seluruh elemen ini membentuk sistem kearifan lokal yang efektif memproteksi ekosistem mereka.
Oleh karena itu mari kita lihat, bahwasanya tanggung jawab intelektual kaum terdidik hari ini bukanlah melakukan simplifikasi atau reduksi total terhadap tradisi demi modernitas yang semu. Menghadapi riuhnya gelombang radikalisme pikiran di jagat digital, membanjiri ruang publik dengan informasi mentah terbukti tidak efektif. Jalan keluar yang paling elegan adalah dengan menghadirkan konter-narasi (counter-narrative).
Tradisi tidak boleh dimatikan, tapu harus dikuliti hingga menyisakan inti rasionalitas dan landasan etisnya. Hanya dengan menghidupkan kembali otentisitas identitas lokal ke dalam koridor hukum dan ilmu pengetahuan yang presisi, Indonesia baru bisa merajut kembali narasinya yang hilang dan melangkah dengan tegak di tengah percaturan peradaban dunia.









