ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Pada tahun 2020 lalu, seorang pendakwah kharismatik yang dikenal dengan nama Buya Malin Putiah berpulang dengan penuh ketenangan di tengah-tengah aktivitas dakwahnya di sebuah surau di Tarantang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota. Surau tempat beliau mengembuskan napas terakhir merupakan tempat ibadah bersejarah yang didirikan oleh ulama besar, Syekh Mahmud Abdullah Tarantang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepergian sosok ulama panutan yang berasal dari Koto Panjang Dalam, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Payakumbuh, ini meninggalkan duka mendalam bagi seluruh jemaah serta masyarakat luas di Sumatra Barat.
Peristiwa religius sekaligus mengharukan ini terjadi dalam sebuah agenda resmi Tarekat Mutabarah Kabupaten Lima Puluh Kota. Pada tanggal 12 September 2020, Buya Malin Putiah dipercaya untuk mengisi kajian keislaman di Surau Syekh Mahmud Abdullah Tarantang. Waktu itu menunjukkan pagi menjelang siang, dan pengajian awalnya berlangsung dengan sangat tenang penuh kedamaian.
Kajian mulai menemukan puncaknya ketika beliau menceritakan kisah perjalanan spiritual Isra’ wal Mi’raj Baginda Nabi Muhammad SAW. Sekitar pukul 11:30 WIB, beliau tiba-tiba ambruk seusai melafazkan kalimat tauhid Lailahailallah.
Seketika para jemaah terdiam seakan tidak percaya kejadian itu nyata terjadi. Momen mengharukan tersebut terabadikan dengan jelas oleh ponsel milik salah satu jemaah perempuan yang turut hadir. Waktu berlalu sangat cepat, kini kejadian itu hampir memasuki kurun waktu enam tahun lamanya.
Sosok panutan di tengah para penganut Tarekat Luhak Nan Bungsu ini meninggalkan sebuah surau, banyak jemaah, serta sebuah warisan spiritual yang pastinya akan terus dibicarakan hingga saat ini oleh masyarakat setempat.
Di samping itu, Argumen Rakyat berkesempatan mewawancarai istri dari almarhum Buya Malin Putiah, yakni Ibu Elizona (60). Beliau menuturkan bahwa sebelum kepergian sang suami, banyak sekali pertanda yang telah beliau perlihatkan kepada keluarga. Sehari sebelum wafat, saat berkendara dan berboncengan motor, beliau berujar, ”Upiak, indak ka lamo lai waktu kito untuk baboncengan macam iko,” ucap Ibu Elizona atau Upiak pada Jumat (26/6/2026) mengulang percakapan mendiang suaminya, yang artinya kebersamaan mereka tidak akan lama lagi terulang kembali di masa depan.
Tak sampai di situ, Elizona juga menyampaikan bahwa pada hari wafatnya, pagi hari sebelum berangkat menuju pengajian, beliau mencegah istrinya untuk ikut. Beliau berpamitan lalu pergi, namun belum jauh roda sepeda motor berjalan, Buya Malin Putiah kembali lagi ke surau hanya untuk meminta izin ulang.
Di situlah letak keanehan muncul karena tidak seperti biasanya beliau bersikap demikian. Beliau menyampaikan, ”Saya pergi, lagi, ya,” lalu istrinya menjawab, ”Bukankah tadi sudah izin?” Beliau menjawab, ”Ulang lagi.”
Di tengah perbincangan, Elizona kembali mengingat momen lain yang berkesan. Ternyata, tiga hari sebelum kepergiannya, beliau sempat berseloroh kepada istrinya dengan mengatakan, ”Ambo kalau meninggal dunia, ka langik ka tujuah tu pasti suaro pekikan Upiak,” tutur beliau dengan penuh keyakinan, yang berarti kalau dirinya meninggal ia memprediksikalau sang istri akan histeris apabila saat itu datang. Ketika hari berpulangnya Buya Malin Putiah, Elizona dikagetkan oleh kehadiran sebuah mobil hitam yang ditumpangi sahabat suaminya, Rafles. Rafles segera turun lalu menanyakan keberadaan Buya Malin Putiah kepada sang istri.
Elizona menjawab bahwa Buya sedang pergi mengisi pengajian. Ternyata, pertanyaan dari Rafles itu hanyalah sebuah basa-basi. Ia menjelaskan bahwa Buya Malin Putiah sempat pingsan saat pengajian dan sekarang tubuhnya telah dibawa di dalam mobil tersebut. Mendengar itu, Elizona histeris dan langsung melihat suaminya yang ternyata sudah terbujur kaku. Warga pun berbondong-bondong mendatangi lokasi surau tempat mobil berhenti. Dokter segera dipanggil untuk memastikan detail medis, dan diketahui Buya memang telah tiada melangkah ke rahmatullah.
Peristiwa pada tahun 2020 itu pun sontak viral di media sosial, membuat nama almarhum Buya Malin Putiah semakin dikenal luas oleh publik. Kini kepemimpinan halaqah di surau beliau dilanjutkan oleh sang adik, yaitu Buya Mulyadi.
Buya Malin Putiah merupakan murid dari Buya M. Nur, seorang Mursyid Tarekat Sammaniyah wa Naqsyabandiyah di Kelurahan Talang, Payakumbuh Barat.
Melihat banyaknya pajangan foto di Surau Buya Malin Putiah, salah satunya terdapat foto Syekh Mudo Abdul Qadim. Hal tersebut mengindikasikan bahwa almarhum memiliki keterkaitan silsilah sanad keilmuan yang sangat erat dengan Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Balubuih yang wafat pada tahun 1957.
Warisan keilmuan tarekat ini pun tetap dijaga dengan baik oleh seluruh jemaah hingga saat ini demi kelestarian ajaran spiritual di Luhak Nan Bungsu.









