ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Siapa sangka ada orang Belanda yang jadi aktor penting untuk menjaga nilai-nilai adat luhur Sunda. Ia adalah Frederik Holle bukan sekadar pengusaha teh biasa, tapi sosok jembatan budaya di simpang zaman kolonial. Mengawali karier sebagai juru tulis, ia bertransformasi menjadi pembela sekaligus penjaga denyut sastra dan tradisi Tatar Sunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Eksodus Abad Sembilan Belas: Dari Amsterdam Menuju Ranah Preanger
Layar waktu berputar balik ke pertengahan abad ke-19, era ketika geopolitik kolonialisme Eropa sedang berada di puncak gairah ekspansionisnya. Syahdan, pada fajar tanggal 25 September 1843, sebuah bahtera membelah ombak Samudra Atlantik, mengangkut rombongan ekspatriat Belanda di bawah komando petinggi perkebunan, Guillaume Louis Jacques van der Hucht.
Di antara deru angin laut dan tumpukan barang bawaan, terseliplah seorang remaja tanggung yang kala itu baru genap menginjak usia empat belas warsa.
Bocah belia ini, tanpa disadari oleh para nakhoda kapal, kelak akan menjadi salah satu pionir terpenting dalam rekonstruksi kebudayaan dan rekayasa sosial di tanah jajahan. Tujuan pelayaran trans-samudra itu adalah Jawa sebuah pulau eksotis di timur jauh yang oleh para penjelajah Eropa dijuluki sebagai “tanah harapan”. Setibanya di Hindia Belanda, Holle muda tidak langsung terjun ke dunia agraria yang maskulin.
Ia memulai karier birokrasinya dari tangga paling bawah, sebuah fase yang lazim dilalui oleh para migran kulit putih miskin. Langkah awalnya terekam sebagai juru tulis atau klerk di Kantor Residen Cianjur. Dari pedalaman Priangan, bakat administrasinya membawa Holle hijrah ke pusat pemerintahan di Batavia, tepatnya di Kantor Directie van Middelen en Domeinen sebuah lembaga yang mengurusi aset patrimonial dan domain negara.
Namun, kungkungan dinding-dinding biokrasi Batavia yang kaku rupanya gagal memuaskan hasrat eksistensial Holle. Setelah genap satu dekade menghamba pada rutinitas administratif kolonial, ia mengalami kejenuhan eksistensial.
Holle mengajukan pengunduran diri, sebuah keputusan spekulatif yang justru mengantarkannya pada takdir yang lebih besar. Ia kembali ke pelukan pegunungan Priangan setelah mendapat mandat sebagai Administratur Perkebunan Teh di Cikajang, Garut. Di sinilah insting kewirausahaannya terasah, hingga ia berhasil membuka imperium agrobisnisnya sendiri: Perkebunan Teh dan Kina Waspada (Bellevue) yang bersandar anggun di kaki Gunung Cikuray.
Dari seorang ambtenaar rendahan, ia bertransformasi menjadi maestro Preangerplanters yang disegani.
Metamorfosis Budaya: Hibriditas dan Dekonstruksi Identitas Pribumi
Memasuki lanskap agraria Priangan, Holle tidak memosisikan dirinya sebagai Tuan Tanah Eropa yang pongah dan berjarak. Investigasi historis menunjukkan adanya gejala akulturasi yang intens, atau yang dalam istilah sosiologi modern disebut sebagai hibriditas budaya (cultural hybridity).
Menurut catatan Her Suganda dalam bukunya yang bertajuk Kisah Para Preangerplanters, waspada bukan sekadar pusat produksi komoditas ekspor, melainkan sebuah laboratorium sosial tempat Holle meleburkan identitas Baratnya. Dalam interaksi sosial saban hari, baik dengan kaum marhaen di ladang maupun dengan para menak (bangsawan) setempat, Holle secara konsisten menggunakan bahasa Sunda sebagai lingua franca. Pilihan linguistik ini bukan sekadar taktik pragmatis demi kelancaran bisnis, melainkan sebuah bentuk penetrasi kultural yang emosional.
Fenomena ini semakin dipertegas oleh pilihan busananya yang eksentrik untuk ukuran seorang Eropa. Di luar jam dinas resmi, Holle kerap menanggalkan jas ketatnya dan memilih mengenakan sarung serta kerepus (kopiah lokal) sebuah ansambel pakaian yang identik dengan kaum pribumi.
Tindakan ini memicu disonansi kognitif di kalangan komunitas Eropa di Batavia yang memandang hibriditas semacam itu sebagai bentuk kemerosotan moral kolonial.Namun bagi Holle, kedekatan visual dan verbal ini adalah kunci utama untuk memahami struktur berpikir (denkstructuur) masyarakat Sunda.
Aliansi Intelektual dan Kebangkitan Literasi Priangan
Eksplorasi Holle terhadap kebudayaan lokal menemukan momentum emasnya ketika ia menjalin jejaring intelektual dengan elite bumiputera. Di Garut, ia membangun relasi patronase dan persahabatan yang karib dengan Moehamad Moesa, yang kala itu menjabat sebagai Hoofd Penghulu Limbangan.
Hubungan simbiotik ini memicu terjadinya transfer pengetahuan yang masif. Melalui dorongan dan fasilitas yang disediakan Holle, lingkaran keluarga Moesa bertransformasi menjadi episentrum kebangkitan sastra Sunda abad ke-19.
Salah satu buah manis dari aliansi intelektual ini adalah kemunculan Raden Ayu Lasminingrat, putri Moehamad Moesa.
Di bawah bimbingan dan stimulasi literasi dari Holle, Lasminingrat mengukir sejarah sebagai emansipator pendidikan dan penerjemah perempuan pertama di Tatar Sunda. Selain itu, didikan Holle juga melahirkan sosok legendaris Kiai Haji Hasan Mustapa, seorang pemikir sufistik dan sastrawan ulung yang di kemudian hari menduduki posisi Hoofd Penghulu di Aceh dan Bandung.
Komitmen Holle terhadap pribumi tidak berhenti pada level pendampingan. Ia bertindak sebagai kurator sekaligus stimulator bagi para penulis lokal untuk memublikasikan gagasan mereka. Persahabatan karibnya dengan Moehamad Moesa membuahkan katalog karya sastra yang masif dan menjadi tonggak cetak perdana bahasa Sunda, di antaranya:
– Wawatjan Woelangkrama (1862)
– Woelang Tani (1862)
– Wawatjan Dongeng-dongeng Toeladan (1862)
– Wawatjan Satja Nala (1863)
– Wawatjan Tjarios Ali Moehtar (1864)
– Elmoe Nyawah (1864)
– Wawatjan Woelang Moerid (1865)
– Wawatjan Woelang Goeroe (1865)
– Wawatjan Pandji Woeloeng (1871)
– Dongeng-dongeng Pieunteungeun (1887)
Di bawah supervisi filologisnya, fungsionaris birokrasi tradisional seperti Adi Widjaja (Patih Limbangan) dan Bratawidjaja (mantan Patih Galuh) turut menyumbangkan tulisan mereka. Gerakan penerbitan massal ini berlangsung hingga akhir abad ke-19, ditandai dengan terbitnya Pagoeneman Soenda djeung Walanda pada 1883 sebagai panduan percakapan dwibahasa, serta Mitra noe Tani pada 1896 yang menjadi monumen penyuntingan terakhir Holle sebelum ajalnya menjemput.
Arkeologi Historis dan Rekonstruksi Epigrafi Sunda Kuno
Ketertarikan Holle terhadap dunia literasi tidak mandek pada sastra kontemporer. Ia memiliki kegilaan akademis terhadap masa lalu peradaban Jawa Barat, sebuah disiplin ilmu yang kelak dikenal sebagai filologi dan epigrafi.
Di bidang historiografi, Holle melakukan rekonstruksi kritis terhadap narasi Dipati Ukur. Mengurai benang kusut berbagai versi lisan yang beredar di masyarakat, ia berhasil menyusun laporan ilmiah mengenai peran strategis bupati Imbanagara dan Bagus Sutapura dalam meredam pergolakan Dipati Ukur terhadap hegemoni Kesultanan Mataram.
Analisisnya ini sekaligus mengonfirmasi peta reorganisasi kekuasaan administratif di wilayah Priangan pasca-konflik. Pada tahun 1877, kepiawaian epigrafi Holle diuji ketika ia melakukan transkripsi ilmiah terhadap Prasasti Geger Hanjuang yang ditemukan di Tasikmalaya. Hasil pembacaan teks kuno tersebut dipublikasikan dalam artikel monumental berjudul Beschreven Steen uit de Afdeeling Tasikmalaja Residentie Preanger.
Artikel-artikel ilmiah hasil penalaran Holle kemudian menjadi langganan tetap jurnal-jurnal prestisius pada masanya, seperti Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Indische Gids, serta Tijdschrift van Landbouw en Nijverheid.
Puncak pencapaian akademisnya terjadi di Buitenzorg (Bogor). Berbekal otodidak mumpuni dalam menguasai aksara dan bahasa Sunda Kuno, Holle berhasil memecahkan kode-kode epigrafis pada Prasasti Batutulis. Studi komparatifnya yang diterbitkan pada tahun 1869 dengan tajuk De Batoe Toelis te Buitenzorg melahirkan tesis historis yang mutakhir pada zamannya: bahwa ibukota Pakuan Pajajaran didirikan oleh maharaja legendaris Sri Baduga Maharaja.
Di samping karya ilmiah yang berat, Holle memahami pentingnya edukasi melalui medium populer. Bersama adiknya, A.W. Holle, ia menggubah fabel alegoris Tjarita koera-koera djeung monyet.
Cerita ini di kemudian hari mengkristal dalam memori kolektif masyarakat Sunda sebagai dongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet. Diterbitkan oleh Lange & Co di Batavia pada tahun 1851, buku ini diakui oleh para sejarawan pendidikan sebagai pelopor buku bacaan wajib bagi siswa sekolah dasar di wilayah Jawa Barat.
Gagasan Pemurnian Bahasa: Oportunisme di Balik Politik Emansipasi
Secara makro, kontribusi literer Holle harus dibaca dalam kerangka sosiolinguistik yang kompleks. Sebagaimana dianalisis oleh pakar sastra Mikihiro Moriyama dalam bukunya Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, langkah Holle merupakan wujud dari proyek de-Jawanisasi sekaligus pemurnian bahasa Sunda.
Selama dua abad di bawah bayang-bayang aneksasi kultural Kesultanan Mataram pada abad ke-17 dan 18, eksistensi bahasa Sunda seolah dianggap gaib dalam tradisi tulis resmi. Bahasa Jawa dialek wetan mendominasi naskah-naskah birokrasi dan estetika sastra menak Priangan.
Marjinalisasi linguistik ini pernah dikeluhkan secara melankolis oleh Moehamad Moesa dalam bait sasteranya pada tahun 1867:
“Basa Soenda noe kalipoet / tanda jén kalipoetan / boektina di Soenda sepi / hanteu aja boekoe woengkoel basa Soenda / Réja maké doewa basa / Nja éta salah-sahidji / Malajoe atawa Djawa.”
Kondisi inilah yang memicu salah kaprah di kalangan birokrat awal Batavia yang mengira pulau Jawa hanya dihuni oleh satu bahasa tunggal. Penemuan kembali (rediscovery) bahasa Sunda oleh para intelektual kolonial pada abad ke-19 mengubah peta kebijakan bahasa pemerintah.
Namun, di balik jubah emansipasi budaya ini, tersimpan motif politik kolonial yang pragmatis. Posisi formal Holle sebagai Penasihat Kehormatan Pemerintah Hindia Belanda untuk Urusan Pribumi (Honorair Adviseur voor Inlandsche Zaken) menempatkannya dalam posisi yang dilematis. Kebijakannya memisahkan pengaruh Islam-Jawa dari kebudayaan Sunda dicurigai oleh kalangan pribumi sebagai taktik pecah belah (devide et impera).
Sebaliknya, kedekatannya yang terlalu intim dengan para elite lokal juga memantik kecurigaan dari para pejabat konservatif di Batavia yang mencemaskan potensi pembangkangan kolonial. Moriyama dengan jeli merangkum paradoks kehidupan Holle ini sebagai “paduan ganjil antara oportunisme, persahabatan, dan keingintahuan”.
Ketika Karel Frederik Holle mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 1896, kepedihan mendalam melanda tanah Priangan. Raden Kartawinata, putra dari sahabat karibnya Haji Moehamad Moesa, menulis sebuah traktat kecil sebagai bentuk eulogi dan penghormatan terakhir. Kepergian sang Preangerplanter bukan sekadar kematian seorang pengusaha teh eksentrik, melainkan sebuah lonceng kematian yang menandai berakhirnya sebuah epos romantis: zaman ketika seorang Eropa rela memakai sarung demi membangkitkan kembali sukma sastra sebuah bangsa yang sempat hilang di lipatan sejarah.
Sumber:
– Holle, K. F. (1877). Beschreven steen uit de afdeeling Tasikmalaja, residentie Preanger. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (TBG), 24, 586–587.
– Historia.id. (2020, 16 Maret). Tuan Holla sahabat orang Sunda [Video]. YouTube. https://youtu.be/nivWR_mCHB8?si=E-QZiAyTQ-4Wv1aa
– Suganda, H. (2014). Kisah para Preanger planters. Penerbit Buku Kompas.









