ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Rundiang mengelar kegiatan diskusi publik mengenai perbandingan pemikiran dari 2 tokoh bangsa yaitu Mohammad Natsir dan Tan Malaka. Dengan dilatarbelakangi beredarnya vidio di postingan akun @sutan.malin.khatib pada 10/5/2026. Kegiatan berlangsung di Forum Studi Ladang Rupa sebuah komoditas yang berlokasi di Jl. Balairung Sari, Kota Bukittinggi, Sumatra Barat. Di mulai dari jam 20.30 WIB sampai jam 22.38 WIB, pada Selasa 17/6/2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Narasumber pada kegiatan ini ialah Devy Kurnia A., Hadi Nur Ramadhan, Habibur Rahman, Artawijaya, Al-Fikri, dan Ferry Hidayat yang moderatori oleh Tommy Destryanto. Peserta yang hadir dalam kegiatan diskusi ini ada lebih kurang 50-100 orang.
Salah satu narasumber yang menjadi latar belakang terciptanya diskusi ini menjelaskan bahwa ada semacam kegelisan saya di kalangan politisi-politisi Minangkabau miskin gagasan akan sejarah, dan budaya Minangkabau.
“Maka ketika itu saya sampaikan di forum-forum Jakarta, di forum-forum Nasional. Untuk mengajak semua anak-anak Minangkabau dalam konteks ceramah itu untuk mengenal adalah tokoh-tokoh Minang,” ujar Hadi Nur Ramadhan ketika menyampaikan pandanganya di dalam forum diskusi.
Ia mengatakan kalau ingin melihat kebudayaan Indonesia maka Minangkabau lah jawabanya. Makanya ketika terjadi polemik di media sosial mengenai vidio tersebut Hadi pun berharap mudah-mudahan ia bisa bertemu, berdialog, berdialetika dengan orang-orang yang menyanggah argumennya seperti Devy Kurnia A., dan Habibur Rahman di Rundiang.
Ketika ia diundang kedalam acara 100 tahun Rahma El Yunusiah di auditorium Universitas Negeri Padang (UNP) pada Senin, 4/5/2026 Air Tawar, Padang, Sumatra Barat. Dan malam harinya ia mengisi ceramah di Mesjid Mujahidin Kota Padang yang membicarakan tentang Founding Father (tokoh-tokoh minang).
Salah satu murid Hadi, mengupload sebuah vidio ke Media Sosial ketika Hadi lagi ceramah di Mesjid Mujahidin tanpa sepengetahuan Hadi.
“Saya pagi-pagi baru bangun, tiba-tiba banyak yang telpon saya. Itu video antum tentang Malaka rame katanya. Akhirnya saya telpon yang mengupload, karena ada dua hal. Yang pertama, yang mengupload itu memang murid saya tanpa sepengetahuan saya. Dan yang lebih parahnya lagi, video itu, di collab kan ke saya. Seakan-akan, itu saya yang publish,” ungkap pria asli Betawi itu.
Sebenarnya Hadi bermaksud mengajak orang-orang Minang, lebih khusus untuk mengkaji, tokoh-tokoh Minang karena itu bukan hanya satu model saja.
“Bukan hanya Tan Malaka doang, bukan hanya Natsir doang, tapi begitu banyak. Saya ingin mengajak anak-anak kita khususnya orang-orang Minang,” ujarnya.
Ia juga mengatakan dengan tegas kalau tidak kata-kata yang ia lontarkan dalam vidio bahwa keberhasilan sesorang itu di nilai dari jabatannya. Justru ia ingin mengajak, mengedukasi, mengadvise para pejabat hari ini untuk mengenal tokoh-tokoh Minang.
(Zidan Pratama)









