Mengenal Musso, Tokoh Radikal di Balik Peristiwa Madiun 1948

- Jurnalis

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Musso, dengan gaya Pencil Sketch Art

Musso, dengan gaya Pencil Sketch Art

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Nama Musso kerap memicu perdebatan yang sengit. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh paling radikal, seorang revolusioner yang memilih “jalan pedang” demi mewujudkan ideologinya. Kehidupan Musso mencerminkan bagaimana sebuah ideologi transnasional masuk dan berbenturan keras dengan dinamika politik domestik Indonesia yang baru seumur jagung setelah memproklamasikan kemerdekaannya.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masa Kecil dan Silang Sengkarut Silsilah

Lahir dengan nama lengkap Munawar Musso pada tahun 1897 di Pagu, Kediri, Jawa Timur, latar belakang keluarganya dipenuhi oleh narasi yang simpang siur.

Sebagian literatur sejarah menyebutkan bahwa Musso merupakan anak dari Kiai Haji Hasan Muhyi (alias Ronowijoyo), seorang tokoh agama lokal dan pelarian pasukan pangeran Diponegoro yang mendirikan Pondok Pesantren Kapurejo di Kediri. Narasi ini memberitahu bahwa Musso kecil sebagai sosok bocah yang taat beragama dan dekat dengan kultur pesantren.

Namun, versi sejarah lain mencatat ia adalah anak dari Mas Martorejo, seorang pegawai kantoran biasa di sebuah bank kecamatan di Wates. Terlepas dari silang sengkarut garis keturunannya, masa muda Musso diwarnai oleh lompatan pendidikan yang membawanya masuk ke pusaran politik pergerakan. Pada usia 16 tahun, ia merantau ke Batavia untuk menempuh sekolah guru dan di sanalah ia bertemu dengan Alimin, sosok yang kelak menjadi rekan seperjuangannya di sayap kiri politik Indonesia.

Kos di Rumah Tjokroaminoto dan Persentuhan dengan Marxisme

Jejak sejarah Musso semakin menguat ketika ia berada di SURABAYA. Ia sempat tinggal dan indekos di rumah Haji Oemar Said (H.O.S.) Tjokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam (SI). Rumah Tjokroaminoto saat itu bertindak layaknya sebuah laboratorium politik bagi pemuda bumiputera. Di bawah satu atap yang sama, Musso hidup berdampingan dengan tokoh-mudah lain seperti Kusno (yang kelak menjadi Sukarno), Kartosuwiryo (pimpinan DI/TII), serta Semaun.

Di sinilah Musso mulai bersentuhan dengan Marxisme, sebuah metodologi analisis sosial dan ekonomi yang melihat sejarah manusia sebagai perjuangan kelas melalui bimbingan langsung dari Henk Sneevliet, seorang tokoh sosialis Belanda pendiri Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV). Musso bersama Alimin, Semaun, dan Darsono menjadi kader ideologis Sneevliet yang bertugas menginfiltrasi Sarekat Islam.

Baca Juga:  Mia Bustam: Sang Penjaga Dapur Seniman Rakyat dan Jelaga Kamp Pelantungan

Mereka berhasil menyusupkan gagasan-gagasan sosialis ke dalam tubuh organisasi tersebut, memicu perpecahan yang melahirkan faksi radikal bernama SI Merah (Sarekat Islam Merah).

Pelarian Politik dan Pendidikan di Moskow

Keterlibatan Musso dalam gerakan bawah tanah yang radikal membuatnya beberapa kali berurusan dengan hukum kolonial. Ia sempat ditangkap dan dipenjara akibat aktivitasnya di SI Afdeeling B, sebuah seksi rahasia yang revolusioner di Garut. Di dalam jeruji besi inilah keyakinan politiknya terhadap komunisme justru kian terasah secara intensif. Setelah bebas, Musso ikut membidani lahirnya Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada tahun 1926, PKI merencanakan sebuah pemberontakan massal bersenjata melawan pemerintah Hindia Belanda. Rencana ini ditentang keras oleh tokoh kiri lain, Tan Malaka, yang menilai kondisi massa dan organisasi saat itu masih terlalu mentah (unripe). Ketika gelombang penangkapan massal oleh intelijen Belanda dimulai pada awal 1926, Musso berhasil lolos dan melarikan diri ke luar negeri melalui Singapura.

Pelariannya berlanjut hingga ke Moskow, jantung dari Uni Soviet. Di sana, ia meminta restu dan bantuan dari Komintern (Komunis Internasional) sebuah organisasi antarbangsa yang mewadahi partai-partai komunis di seluruh dunia untuk mengobarkan revolusi di Indonesia. Namun, Komintern menolaknya karena menganggap kekuatan Belanda masih terlalu dominan. Sebagai gantinya, Musso diperintahkan menetap di Uni Soviet untuk belajar di Lenin School. Di bawah kepemimpinan diktator Soviet, Joseph Stalin, Musso bahkan berhasil dipercaya menjadi bagian dari komite eksekutif Komintern pada Kongres Keenam tahun 1928.

“Jalan Baru” dan Tragedi Madiun 1948

Setelah lebih dari dua dekade berada di pengasingan internasional termasuk sempat kembali secara rahasia pada tahun 1935 Musso kembali menginjakkan kakinya di bumi Indonesia pada Agustus 1948. Kedatangannya membawa misi ideologis yang ia formulasikan sebagai Jalan Baru (New Road).

Musso menilai bahwa Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang dipimpin Sukarno-Hatta hanyalah sebuah Revolusi Borjuis (revolusi yang digerakkan oleh kelas menengah atas/nasionalis) dan belum menjadi Revolusi Proletar (revolusi murni kelas buruh dan tani). Guna melancarkan doktrin Jalan Baru, Musso melakukan beberapa langkah taktis:

Baca Juga:  Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?

1. Fusi Partai: Memaksa peleburan tiga partai berhaluan Marxisme-Leninisme, yaitu PKI Ilegal, Partai Buruh Indonesia (PBI), dan Partai Sosialis pimpinan Amir Syarifuddin menjadi satu wadah tunggal di bawah nama PKI.

2. Front Persatuan: Menuntut pergantian kabinet presidensial menjadi kabinet front persatuan yang melibatkan sayap kiri.

3. Poros Internasional: Menyerukan aliansi terbuka dengan Uni Soviet guna mematahkan blokade ekonomi dan politik yang dilakukan oleh Belanda.

Untuk mematangkan rencana tersebut, Musso bersama pimpinan PKI melakukan safari politik ke berbagai daerah di Jawa, seperti Solo, Kediri, dan Madiun. Namun, ketegangan politik domestik yang melibatkan demobilisasi tentara sayap kiri oleh pemerintah Hatta memicu terjadinya gesekan bersenjata di tingkat bawah. Pada September 1948, meletuslah Peristiwa Madiun.

Pemerintah Indonesia merespons cepat situasi darurat ini. Presiden Sukarno mengeluarkan maklumat tegas yang meminta rakyat memilih: “Ikut Sukarno-Hatta atau Musso dengan PKI-nya”. Pasukan elit Divisi Siliwangi dikerahkan untuk melakukan operasi penumpasan militer. Menolak menyerah, Musso mencoba melarikan diri ke wilayah pedalaman, namun pelariannya berakhir tragis. Pada tanggal 31 Oktober 1948, Musso tewas dalam sebuah baku tembak sengit dengan pasukan TNI di sebuah desa kecil di Ponorogo.

Akhir Hayat dan Warisan Pemikiran

Meskipun riwayat hidup Musso berakhir di ujung peluru pada tahun 1948, cetak biru strategi organisasi yang ia bawa melalui doktrin Jalan Baru tidak ikut mati. Struktur partai modern yang ia rintis kelak diadopsi dan dihidupkan kembali oleh generasi kader muda PKI seperti D.N. Aidit, M.H. Lukman, dan Nyoto. Di bawah kepemimpinan generasi baru tersebut, PKI berhasil bangkit dari puing-puing kekalahan Madiun menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia pada era Demokrasi Terpimpin, sebelum akhirnya runtuh sepenuhnya pasca-peristiwa tragis tahun 1965.

Berita Terkait

Mia Bustam: Sang Penjaga Dapur Seniman Rakyat dan Jelaga Kamp Pelantungan
Sekelumit Kisah Amir Sjarifuddin, Sang Pencetus Kongres Pemuda II
Melihat Hari-Hari Terakhir Sukarno: Tragedi De-Sukarnoisasi dan Kesepian Sang Proklamator
Mundurnya Bung Hatta dari Kursi Wapres Adalah Bentuk Nyata Keteguhan Sebuah Prinsip
Mengenal Dahlan Jambek dan Ismail Lengah: Dua Panglima Penjaga Nyawa Republik dari Ranah Minang
Semaoen: Sang Agitator Ulung dari Jantung Jawa
Siapa D.N. Aidit? Menelusuri Jejak Langkah, Ambisi, dan Akhir Tragis sang Pemimpin PKI
Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:16 WIB

Mia Bustam: Sang Penjaga Dapur Seniman Rakyat dan Jelaga Kamp Pelantungan

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:31 WIB

Sekelumit Kisah Amir Sjarifuddin, Sang Pencetus Kongres Pemuda II

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:11 WIB

Mengenal Musso, Tokoh Radikal di Balik Peristiwa Madiun 1948

Senin, 8 Juni 2026 - 11:25 WIB

Melihat Hari-Hari Terakhir Sukarno: Tragedi De-Sukarnoisasi dan Kesepian Sang Proklamator

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:11 WIB

Mundurnya Bung Hatta dari Kursi Wapres Adalah Bentuk Nyata Keteguhan Sebuah Prinsip

Berita Terbaru

Foto: Vinicius Junior (Instagram @vinijr)

Sport

Vinicius Junior Memilih Setia di Chamartín

Sabtu, 13 Jun 2026 - 14:26 WIB