ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Runtuhnya kekuasaan politik Sukarno pasca-peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 merupakan salah satu potret paling kelam dalam transisi kekuasaan di Indonesia. Melalui operasi de-Sukarnoisasi yang terstruktur, sistematis, dan masif, Rezim Orde Baru yang dimotori oleh Jenderal Soeharto perlahan melucuti legitimasi sang Proklamator. Sukarno, yang dahulunya dipuja sebagai Pemimpin Besar Revolusi, harus menghabiskan sisa hidupnya dalam keterasingan emosional dan desolasi fisik yang menyayat hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Proses marjinalisasi politik ini mencapai puncaknya setelah dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Dokumen ini menjadi instrumen hukum bagi Soeharto untuk membubarkan PKI dan merestrukturisasi Kabinet Dwikora, sekaligus mempreteli pengaruh eksekutif Bung Karno. Sukarno sempat melakukan political survival melalui pidato pertanggungjawaban “Nawaksara” di hadapan MPRS, namun upaya tersebut ditolak.
Pada 12 Maret 1967, MPRS secara resmi mencabut mandat kepresidenannya, menandai berakhirnya era Demokrasi Terpimpin
Dampak dari suksesi kekuasaan ini memaksa Sukarno keluar dari Istana Merdeka dengan kondisi yang sangat kontras dari kejayaannya terdahulu. Ia terusir hanya dengan membawa kaos oblong, piama, dan beberapa botol obat.
Sukarno pun Berubah status menjadi tahanan politik, ia ditempatkan di bawah pengawasan militer yang ketat (tahanan rumah) di Wisma Yaso, Jakarta. Isolasi sosial ini memutus interaksinya dengan dunia luar, bahkan keluarga besarnya memerlukan izin birokrasi yang rumit hanya untuk menjenguk.
Tekanan psikologis akibat karantina politik memperburuk kondisi kesehatan sang fajar yang kian meredup. Bung Karno mengalami komplikasi penyakit parah, termasuk gagal ginjal dan depresi akut. Penderitaan fisiknya terlihat jelas saat menghadiri pernikahan putrinya, Rachmawati, di mana ia datang dengan wajah bengkak, langkah tertatih-tatih, dan pengawalan bersenjata lengkap seolah ia seorang buronan berbahaya.
Memasuki bulan Juni 1970, kondisi kesehatan Sukarno memasuki fase kritis. Hari ulang tahunnya yang ke-69 pada 6 Juni dilewati dalam kesunyian tanpa perayaan. Beberapa hari kemudian, ia dilarikan ke RSPAD Gatot Subroto dan ditempatkan di sebuah kamar terisolasi di ujung koridor rumah sakit yang dijaga ketat. Di tempat tidur pesakitan itulah terjadi sebuah rekonsiliasi historis yang mengharukan ketika Mohammad Hatta datang menjenguk sahabat lamanya. Dua tokoh dwitunggal yang sempat pecah kongsi politik itu larut dalam tangis sisa kejayaan mereka.









