Ketika Buya Hamka Menguliti Karya M.O. Parlindungan: Seteru Intelektual di Pusaran Distorsi Sejarah

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dok. Lukisan Buya Hamka dan Buku dari Mangaradja Onggang Parlindungan

Dok. Lukisan Buya Hamka dan Buku dari Mangaradja Onggang Parlindungan

ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Prof. Dr. (H.C) H. Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang erat dikenal oleh masyarakat dengan nama Buya Hamka, merupakan anomali dalam lanskap intelektual modern Indonesia. Figur multitalenta ini melintasi batas-batas disiplin ilmu secara lincah, ia seorang ulama karismatis, sastrawan cum jurnalis yang piawai merajut metafora, mufasir otoritatif, sekaligus sejarawan yang jeli.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kompleksitas keahlian cucu dari ulama Naqsyabandiyah besar Maninjau ini juga terlihat dalam bidang-bidang berbobot tersebut, dan melahirkan reputasi besar yang nyaris mustahil ditandingi oleh manusia modern kiwari.

Keberpihakannya pada ilmu pengetahuan mewujud dalam korpus literatur yang masif. Di ranah religius, ia menubuhkan artikulasi pemikiran modernitas tanpa kehilangan jangkar akarnya pada khazanah kitab kuning klasik. Sementara di panggung sejarah, kapasitas analitisnya terbukti ampuh membongkar narasi masa lampau secara komprehensif, salah satunya lewat magnum opus multitom yang populer bertajuk Sejarah Umat Islam.

Eksistensi pria yang bergelar Datuak Indomo ini sebagai sejarawan juga menemukan momentum krusialnya pada dekade 1970-an melalui penerbitan Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Buku setebal 365 halaman yang dirilis pada tahun 1974 ini bukan sekadar tanggapan biasa, tapi sebuah counter-narrative radikal terhadap konstruksi sejarah problematis garapan Mangaradja Onggang Parlindungan.

Baca Juga:  Di Balik Solidaritas Rendang: Upaya Pemulihan Ranah Minang Pasca-Bencana

Dengan kekuatan narasi yang lugas dan khas, serta persuasi argumen yang solid, Hamka mendedah karya dari Mangaradja Onggang Parlindungan itu, sekaligus meruntuhkan jalinan fiksi yang diklaim Parlindungan sebagai kebenaran sejarah. Kendati Hamka tidak pernah menempuh institusi akademik formal, ia secara brilian mampu mengaplikasikan metodologi kritik sumber secara komprehensif, sebuah pencapaian empiris yang diakui secara aklamasi oleh para pakar dalam seminar sejarah di Pasaman pada tahun 2008, di titik ini mari kita berdecak kagum pada Hamka.

Buku polemik ini sekaligus menjadi cermin jernih yang memantulkan integritas kepribadian Hamka seutuhnya. Ia tampil sebagai intelektual yang memegang teguh prinsip objektivitas ilmiah berbasis data empiris lapangan. Tanpa kompromi, Hamka menolak keras reduksi sejarah yang ahistoris di dalam buku Parlindungan. Beberapa tesis problematis yang ditampiknya secara tegas meliputi klaim eksistensi ajaran Syiah di Ulakan, peran Haji Piobang sebagai inisiator gerakan Wahabi demi mendirikan Darul Islam di Tanah Minang, simplifikasi gerakan Paderi sebagai representasi aksi teror belaka, hingga bias anutan Mazhab Hambali di Sumatra Barat. Bagi Hamka, distorsi informasi semacam itu adalah kekeliruan metodologis yang tidak ilmiah, dan Hamka sangat konsen membicarakan hal ini.

Baca Juga:  Bareskrim Polri Bidik Mafia Tambang Emas Ilegal di Sumbar: Tim Khusus Diterjunkan, Usut Keterlibatan Korporasi

Keteguhan epistemologisnya menuntun Hamka untuk melayangkan otokritik yang tajam, bahkan tanpa ragu melabeli narasi Parlindungan sebagai fabrikasi imajinatif belaka. Sindiran yang ia lontarkan bukanlah ekspresi kebencian personal, tapi ia berupaya beri manifestasi dari etika akademis berdasarkan basis epistemis yang kokoh.

Kedalaman pemahaman Hamka terhadap objek perdebatan ini menyulitkan para kritikus mencari celah kelemahannya. Sebagai intelektual yang besar di lingkungan jurnalisme juga, penguasaan Hamka terhadap literatur primer sungguh mengagumkan.

Argumentasi kontra yang ia bangun tidak hanya tajam secara teoretis, tapi juga dibungkus dengan analisis kritis yang membuat Parlindungan kehilangan momentum untuk merevilitasi tesisnya. Kekuatan utama Hamka terletak pada kapasitas sintesis dan komparasi literatur yang kaya.

Sumber referensinya melintasi batas geografis, memadukan dokumen arsip kolonial Belanda dengan naskah-naskah berbahasa Arab klasik yang otentik, akademisi mana yang sekiranya sekarang SE effort ini.

Di samping itu, kompleksitas metodologis yang diperlihatkan Hamka tersebut kini menjadi komoditas langka di kalangan sejarawan kontemporer. Pada akhirnya, Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao bukan sekadar traktat bantahan, tapi bagi yang mengikuti dialektika ini, hal tersebut merupakan monumen pembuktian sahih mengenai kapasitas intelektual Hamka: seorang nan legendaris sekaligus sejarawan tangguh yang mempersenjatai argumentasinya dengan validitas data ilmiah.

Berita Terkait

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar
Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi
Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt
Bagaimana Kita Menyikapi Kutukan Inlander dan Kosongnya Narasi Bangsa?
Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya
Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah
Mengenal Azyumardi Azra, Cendekiawan Indonesia Peraih Gelar Kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II
Ucapan Belasungkawa Megawati untuk Khamenei Disiarkan di TV Iran

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:03 WIB

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:50 WIB

Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:03 WIB

Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:32 WIB

Bagaimana Kita Menyikapi Kutukan Inlander dan Kosongnya Narasi Bangsa?

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:22 WIB

Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya

Berita Terbaru