JAKARTA, ArgumenRakyat.com — New Orleans menjadi kota besar pertama di Amerika Serikat yang memakai kecerdasan buatan (AI) untuk menjawab langsung panggilan darurat 911 guna menganalisis dan memprioritaskan penanganan situasi darurat, dikutip dari cnnindonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dinas Komunikasi Distrik Orleans (OPCD) mengalihkan panggilan 911 ke agen AI yang akan menentukan panggilan mana yang perlu diteruskan ke petugas manusia dan mana yang bisa ditangani langsung oleh sistem secara otomatis. Keputusan ini diambil karena wilayah tersebut menerima lebih dari seribu panggilan setiap hari, menjadikannya distrik dengan volume panggilan darurat tertinggi di negara tersebut.
Teknologi yang disebut AI Emergency Call Triage ini pertama kali diterapkan pada akhir Juli 2026 setelah diuji coba pada layanan hotline non-darurat 311. Bot AI akan menganalisis panggilan untuk membantu proses triase dan menentukan prioritas keadaan darurat, sekaligus menangani panggilan berulang atau berprioritas rendah guna meringankan beban operator.
Bukan Menggantikan Operator
Direktur Eksekutif OPCD Karl Fasold menegaskan bahwa AI bukan untuk menggantikan petugas operator manusia. Menurutnya, sistem AI diprioritaskan ketika penelepon berada dalam jarak sekitar 200 meter dari tempat kejadian perkara yang dilaporkan dan ketika semua petugas sedang sibuk menangani panggilan lain.
Meski demikian, penggunaan AI ini menuai kritik tajam. Boxy, seorang kritikus daring yang mengaku pernah menjadi operator 911 selama 11 tahun, menilai ide AI menjawab panggilan darurat adalah ide buruk. “Ada skenario di mana seseorang tidak bisa bicara dengan jelas atau aksen yang kuat, misalnya dalam situasi domestik (KDRT) dan korban berpura-pura memesan pizza atau semacamnya, petugas harus mampu merasakan perasaan seseorang atau menangkap apa yang tidak mereka katakan. Anda butuh seorang manusia,” katanya.
Kota Lain dan Risiko
Kota-kota lain seperti Atlanta dan Seattle juga telah mengintegrasikan AI ke dalam sistem 911 mereka. Atlanta memanfaatkan AI untuk membantu operator menemukan lokasi penelepon lebih cepat atau berkomunikasi lintas bahasa, sementara Seattle telah menggunakan teknologi serupa sejak 2024 untuk membantu memutuskan panggilan mana yang perlu segera direspons.
Para kritikus memperingatkan tingginya risiko kesalahpahaman, mengingat penelepon darurat umumnya dalam kondisi panik dan sulit menjelaskan situasinya. Peneliti keamanan juga menyebut sistem suara AI rentan menerima serangan dari luar. Namun, pejabat New Orleans meyakini bahwa dengan pengawasan manusia, data pelatihan, keamanan siber, dan regulasi algoritma, bot AI untuk panggilan darurat ini dapat bekerja efektif.









