Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam

- Jurnalis

Senin, 1 Juni 2026 - 15:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ho Chi Minh bersama Sukarno berdiri di atas mobil, dengan gaya Colored Pencil Sketch Art

Ho Chi Minh bersama Sukarno berdiri di atas mobil, dengan gaya Colored Pencil Sketch Art

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Di panggung sejarah modern, nama Ho Chi Minh berdiri tegak sebagai anomali yang memikat sekaligus teka-teki yang sulit dipecahkan. Ketika para pemimpin dunia abad ke-20 kerap dicitrakan dengan seragam militer yang kaku atau setelan jas borjuis yang licin, ia justru tampil dengan piyama putih berkerah tinggi (cu-nao) dan sandal karet terbuka.

Namun, di balik figur yang ringkih itu, bersemayam sebuah kegigihan tak bertepi yang berhasil mengawinkan dua ideologi besar yang sering dianggap mustahil bersatu: Komunisme internasional dan Nasionalisme domestik yang membara.

Dialektika Perjuangan dan Sintesis Ideologi

Lahir dengan nama Nguyen Tat Thanh pada 19 Mei 1890 di Provinsi Nghe-An, perjalanan hidup Ho adalah manifesto dari pengembaraan intelektual dan fisik. Sejak usia muda. Bapak Bangsa Vietnam yang dikenal berteman dekat dengan Sukarno karena sama-sama berjuang melawan kolonialisme ini, menyaksikan bagaimana kolonialisme Prancis mencabik-cabik martabat bangsanya. Pengalaman masa kecilnya sebagai kurir jaringan anti-Prancis bentukan ayahnya menjadi fondasi awal karakter revolusionernya. Guna memahami kedalaman watak sang pemimpin, sejarawan Bernard B. Fall dalam sebuah catatan analitisnya mengemukakan premis menarik mengenai signifikansi pengembaraan global Ho bagi pembentukan kesadaran dekolonisasinya. Bahwa, hubungannya dengan penjajah kulit putih di tanah air nya menghancurkan ilusi apa pun tentang ‘keunggulan’ mereka, dan pergaulannya dengan para pelaut dari Brittany, Cornwall, dan Kepulauan Frisia yang sama buta huruf dan percaya takhayulnya dengan petani padi Vietnam yang paling terbelakang melengkapi sisanya.”

Pengalaman empiris inilah yang kemudian menuntun Ho ke Paris, London, hingga Moskow. Di Paris, ia sempat mencari nafkah dengan mengedit foto menggunakan nama Nguyen Ai Quoc (Nguyen sang Patriot) dan mencoba mengetuk pintu Konferensi Perdamaian Versailles tahun 1919 demi menuntut hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Vietnam. Ketika pintu diplomasi Barat tertutup rapat, ia menemukan kompas baru pada Marxisme-Leninisme, bukan hanya sebagai dogma teoretis, tapi sebagai alat praktis pembebasan nasional. Internasional Ketiga (Komintern) adalah satu-satunya kekuatan global yang secara eksplisit berpihak pada bangsa jajahan.

Paradoks Romantisisme dan Pragmatisme Politik

Pria yang tercatat juga pernah bertemu dengan Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka ini memanglah seorang revolusioner yang mahir menggunakan metafora budaya. Ia bukan teoretikus Marxis yang kaku, karena tulisan-tulisannya, yang kemudian dihimpun dalam Ho Chi Minh tentang Revolusi, bersifat taktis, agitatoris, dan membumi.

Baca Juga:  Mengenal Mestika Zed: Arsitek Pengarusutamaan Historiografi Sumatra

Di balik taktik gerilya yang kejam dan determinasi politiknya yang dingin, ia adalah seorang melankolis yang menggubah puisi-puisi menyentuh saat mendekam di penjara Nasionalis Tiongkok pada era 1940-an. Melalui bait-bait puitis tersebut, kita dapat mengintip kontemplasi batin seorang tahanan politik melalui petikan bait berikut:

“Kutu-kutu kasur berkerumun seperti tank tentara yang sedang bermanuver, / sementara nyamuk-nyamuk membentuk skuadron, menyerang seperti pesawat tempur. / Hatiku melayang seribu li menuju tanah kelahiranku. / Mimpiku terjalin dengan kesedihan seperti untaian seribu benang.”

Kembali ke tanah airnya pada tahun 1940 setelah tiga dekade berdiaspora, Ho dengan brilian memanfaatkan momentum Perang Dunia II. Ia mendirikan Vietminh, sebuah front luas yang menyatukan berbagai faksi nasionalis di bawah kepemimpinan Komunis. Secara taktis, ia bahkan sempat bekerja sama dengan Kantor Layanan Strategis (OSS) Amerika Serikat untuk menumbangkan pendudukan Jepang. Ketika Jepang bertekuk lutut pada tahun 1945, Ho memproklamasikan Republik Demokratik Vietnam. Pengetahuannya yang mendalam tentang sejarah Barat tecermin saat ia memparafrasekan naskah proklamasi kemerdekaan Amerika Serikat dari ingatannya sendiri, bahwa semua manusia diciptakan setara; mereka dikaruniai oleh Pencipta mereka hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut; di antaranya adalah Kehidupan, Kebebasan, dan pengejaran Kebahagiaan.

Diplomasi di Antara Dua Raksasa dan Menghadapi Paman Sam

Kemerdekaan tidak datang dengan instan. Ho harus memimpin perang gerilya sembilan tahun melawan Prancis, yang puncaknya ditandai oleh kemenangan monumental Jenderal Vo Nguyen Giap di Dien Bien Phu pada tahun 1954. Namun, Perjanjian Jenewa justru membelah Vietnam di paralel ke-17. Ketika Amerika Serikat mulai menancapkan pengaruhnya di Selatan dengan menyokong rezim Ngo Dinh Diem, Hanoi kembali menjadi sasaran bombardemen udara.

Dalam pusaran Perang Dingin, kepiawaian diplomasi Ho diuji pada tingkat tertinggi. Ia berhasil menjaga keseimbangan relasi yang krusial dengan dua raksasa Komunis yang tengah bertikai secara ideologis: Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok. Kedua negara ini menjadi keran logistik utama yang menopang napas perlawanan tentara Utara maupun gerilyawan Vietcong di Selatan.

Baca Juga:  Syekh Ibrahim Musa Parabek: Sang Arsitek Moderasi dan Pembaru Pendidikan Minangkabau

Bagi rakyatnya, Ho adalah “Paman Ho” seorang patriark, sebuah personifikasi dari kesederhanaan dan integritas yang tak tergoyahkan. Bagi rakyat Vietnam ia akan selalu tersimpan di hati sanubari setiap petani padi, dan terbukti bahwa hingga sekarang ia justru begitu disanjung di Vietnam. Menjelang akhir hayatnya, di tengah eskalasi militer Amerika Serikat yang kian masif setelah tahun 1964, optimisme Ho tidak pernah luntur. Pengamat politik Barat mencatat keteguhan sikapnya yang kokoh bagai karang saat ia menyatakan kalkulasi geopolitiknya kepada seorang pengunjung asal Prancis.

Bahwa kala itu, Amerika jauh lebih kuat daripada Prancis, meskipun mereka kurang mengenal kita. Jadi mungkin butuh waktu 10 tahun untuk melakukannya, tetapi rekan-rekan sebangsa kita yang heroik di Selatan akan mengalahkan mereka pada akhirnnya.

Warisan Ideologis sang Pembawa Cahaya

Ketika Harry Ashmore, mantan editor The Arkansas Gazette, menemui Ho di Hanoi pada awal tahun 1967, ia mendapati seorang pria tua yang ramah, mahir berbahasa Inggris, dan terus-menerus merokok rokok Salem buatan Amerika. Dalam diskusi tersebut, Ho melemparkan sebuah pertanyaan retoris yang menggugat moralitas intervensi asing di tanah airnya:

“Saya rasa saya mengenal rakyat Amerika, dan saya tidak mengerti bagaimana mereka bisa mendukung keterlibatan mereka dalam perang ini. Apakah Patung Liberty sedang berdiri terbalik?”

Hingga mengembuskan napas terakhirnya, Ho Chi Minh tidak pernah sempat melihat Vietnam bersatu secara formal di bawah kibaran bendera merah bintang kuning. Namun, cetak biru perjuangan yang ia wariskan terbukti terlalu tangguh untuk dihancurkan oleh mesin perang tercanggih abad itu.

Namun ia membuktikan bahwa dalam kalkulasi perang dekolonisasi, militansi nasionalisme yang berakar pada rakyat jelata jauh lebih menentukan ketimbang keunggulan teknologi militer di atas kertas. Ho tetaplah sang “Pembawa Cahaya” seorang pemimpin yang berhasil mengubah air mata kemiskinan kolonial menjadi tinta emas sejarah kemerdekaan sebuah bangsa.

Berita Terkait

Ryamizard Ryacudu Wafat: Berpulangnya Sang Jangkar Strategis Matra TNI AD
Syekh Ibrahim Kumpulan, Tokoh Naqsyabandiyah dari Pasaman
Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?
Ketika Buya Hamka Menguliti Karya M.O. Parlindungan: Seteru Intelektual di Pusaran Distorsi Sejarah
Syekh Adimin Arradji Taram: Poros Spiritual dan Lentera Klasikal dari Tepian Luhak nan Bungsu
Syekh Ibrahim Musa Parabek: Sang Arsitek Moderasi dan Pembaru Pendidikan Minangkabau
Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin Berpulang, Pergi Seorang Ulama Karismatik Asal Taeh Baruah
Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 15:58 WIB

Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam

Senin, 1 Juni 2026 - 09:02 WIB

Ryamizard Ryacudu Wafat: Berpulangnya Sang Jangkar Strategis Matra TNI AD

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:10 WIB

Syekh Ibrahim Kumpulan, Tokoh Naqsyabandiyah dari Pasaman

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:50 WIB

Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:48 WIB

Ketika Buya Hamka Menguliti Karya M.O. Parlindungan: Seteru Intelektual di Pusaran Distorsi Sejarah

Berita Terbaru