Syekh Angku Labay Syukur: Menelisik Jejak Tarekat Syattariyah yang Terlupakan di Payakumbuh

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Gubah Makam Syekh Angku Labay Syukur, di Koto Panjang, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Kota Payakumbuh

Foto: Gubah Makam Syekh Angku Labay Syukur, di Koto Panjang, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Kota Payakumbuh

ARGUMENRAKYAT.COM, PAYAKUMBUHDi tengah dominasi historis Tarekat Naqsyabandiyah dan Sammaniyah di kawasan Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh, eksistensi Tarekat Syattariyah sebenarnya menorehkan jejak yang tidak kalah mendalam.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan temuan artefaktual berupa pusara, dokumen-dokumen klasik, serta oral history (sumber lisan) yang memiliki tingkat validitas tinggi, jaringan keilmuan para pemuka agama di daerah ini pada medio 1700 hingga awal 1900-an justru banyak bermuara pada transmisi intelektual Tarekat Syattariyah.

Salah satu situs pengingat eksistensi tersebut berada di Koto Panjang, Kecamatan Lamposi Tigo Nagori, Kota Payakumbuh. Di sana, terbujur makam seorang alim yang masyhur dengan sebutan Tuan Syekh Angku Labay Syukur.

Problem Historiografi dan Hilangnya Originalitas Surau

Meskipun namanya terus menjadi buah bibir masyarakat setempat dari generasi ke generasi, rekonstruksi sejarah yang utuh mengenai Syekh Angku Labay menghadapi tantangan historiografi yang serius. Hambatan epistemik ini terjadi karena surau yang dulunya berfungsi sebagai pusat transformasi spiritual tempat Angku Labay mendidik para salik (murid tarekat), kini telah beralih fungsi menjadi mushala umum.

Baca Juga:  Prahara Eksekusi Tanah Adat di Nagari Sungai Kamuyang

Alih fungsi institusi tradisional ini berdampak pada hilangnya originalitas sumber primer. Hal inilah yang menjadi problem awal dalam mengungkap genealogi dan kontribusi autentik sang syekh.

Mitos dan Memori Kolektif Masyarakat Koto Panjang

Merawat memori kolektif tentang karamah Syekh Angku Labay. Konon, saat beliau bertolak ke Makkah, seluruh hamparan padi di Koto Panjang mendadak menjadi ampo (hampa/tidak berisi). Padi tersebut baru kembali berisi setelah sang ulama memanjatkan doa dari Tanah Suci agar komoditas tersebut menjadi pilar penghidupan utama masyarakat.

Genealogi Keilmuan yang Terputus

Secara sanad (silsilah keilmuan), seorang tokoh masyarakat setempat mengungkapkan bahwa Syekh Angku Labay Syukur memiliki keterhubungan spiritual dengan Syekh Burhanuddin Ulakan Pariaman pionir Tarekat Syattariyah di Minangkabau. Kendati demikian, klaim silsilah ini masih berada dalam taraf hipotesis yang memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui naskah atau manuskrip kuno (heuristik) yang terarsipkan dengan baik. Sayangnya, dokumen tertulis tersebut belum berhasil ditemukan hingga kini.

Sisi kepribadian Angku Labay sempat dinukil oleh Syekh Bustami An-Naqsyabandi, seorang ulama Koto Panjang yang wafat pada tahun 1979. Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan oleh guru sepuh Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Koto Panjang, Syekh Bustami pernah menuturkan bahwa Syekh Angku Labay Syukur adalah sosok zahid yang sangat rigid dan konsisten dalam mengamalkan perkara sunnah di samping ibadah wajib.

Baca Juga:  Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah" Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar

Komparasi Arsitektural dan Urgensi Revitalisasi

Secara visual, arsitektur gubah makam Tuan Syekh Angku Labay memiliki kemiripan (tipologi) dengan beberapa makam ulama Syattariyah lainnya di wilayah interland Minangkabau. Kemiripan ini terlihat pada: Makam Syekh Angku Lakuang Karamaik (Nagari Simpang Sugiran): Tokoh Syattariyah yang secara historis terlibat dalam Perang Kamang di Kabupaten Agam.

Makam Tuan Syekh di Koto Baru Simalanggang

Satu lagi, ada sebuah makam yang terletak di dekat Polsek Payakumbuh, yang identitas namanya hingga kini masih mengalami kesimpangan data (anomali sejarah) yang kurang lebih bentukan gubah makam nya hampir mirip. Kondisi makam-makam bersejarah ini secara umum sangat memprihatinkan dan terancam mengalami determinasi oleh zaman.

Realitas ini semestinya menjadi alarm bagi masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah untuk melakukan konservasi serta perhatian khusus demi merawat khazanah sekaligus memori peradaban Islam masa lampau di Luhak Limo Puluah.

Berita Terkait

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar
Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi
Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt
Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya
Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah
Mengenal Azyumardi Azra, Cendekiawan Indonesia Peraih Gelar Kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II
Ucapan Belasungkawa Megawati untuk Khamenei Disiarkan di TV Iran
Fransisca Fanggidae: Juru Bicara Revolusi yang Terpental ke Tepian Sejarah

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:03 WIB

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:50 WIB

Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:03 WIB

Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:22 WIB

Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya

Sabtu, 11 Juli 2026 - 16:51 WIB

Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah

Berita Terbaru