ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Ada masanya ketika sekat kelas sosial di Hindia Belanda begitu tebal hingga sanggup memantulkan mimpi seorang bocah pribumi kelas bawah. Di Yogyakarta, pada penghujung abad ke-19, seorang anak penjaga toko mustahil mencicipi bangku sekolah formal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak itu bernama Radjiman. Demi memuaskan dahaga intelektualnya, ia kerap mengendap-endap di balik bilik jendela luar sekolah, mencuri dengar pelajaran bahasa Belanda. Aksi spionase literasi ini kepergok oleh seorang guru Belanda, yang untungnya, alih-alih mengusir, justru membukakan pintu kelas karena iba.
Titik balik hidup Radjiman terjadi ketika ia diadopsi oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Di bawah asuhan tokoh pergerakan tersebut, bakat Radjiman mekar. Ia masuk STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), kawah candradimuka bagi para dokter bumiputera. Radjiman lulus pada tahun 1898 sebagai dokter jiwa. Ia tak cepat puas; perjalanan akademiknya berlanjut ke Universitas Amsterdam di Belanda, lalu menyeberang ke Prancis dan Jerman untuk mendalami obstetri-ginekologi (ilmu kebidanan dan kandungan).
Di zaman ketika privilese medis dikuasai kulit putih, Radjiman mendobrak anomali itu dengan menyetarakan kualifikasi akademiknya langsung di Eropa.
Secara sosiologis dan epistemologis, kepakaran Radjiman adalah perpaduan unik antara sains modern Barat dan empirisme lokal. Sebagai psikiater terdini di Nusantara, ia mengawali kariernya di berbagai lini jenuh konflik kejiwaan seperti di Lawang, Jawa Timur. Namun, warisan sains medisnya yang paling mutakhir teruji saat wabah pes (Yersinia pestis) melanda Jawa antara tahun 1910-1918. Alih-alih menetap di kenyamanan istana Kasunanan Surakarta sebagai dokter keraton, panggilan kemanusiaan membawanya bermigrasi ke Desa Dirgo di Ngawi, Jawa Timur, pada 1948.
Di Ngawi, Radjiman menerapkan apa yang dalam konsep modern disebut public health intervention (intervensi kesehatan masyarakat). Ia melatih serta memberdayakan para dukun beranak lokal. Pendekatan ini merupakan langkah sains yang sosiologis: mentransfer pengetahuan higienitas medis modern ke dalam tradisi lokal guna menekan angka mortalitas ibu dan bayi pasca-persalinan.
Radjiman juga mendirikan basis edukasi dengan membangun sekolah dasar di Kauman. Namun, takdir Radjiman tak berhenti di balik ruang bedah dan klinis. Pikiran analitisnya yang terbiasa merumuskan diagnosis klinis rupanya dibutuhkan untuk merumuskan “diagnosis” sebuah negara merdeka. Kapabilitas kepemimpinannya diuji sejak menjadi Ketua Budi Utomo (1914–1915) hingga duduk di Volksraad (Dewan Rakyat) pada 1931.
Puncaknya, di bawah bayang-bayang pendudukan Jepang, figur senior bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) ini ditunjuk memimpin BPUPKI.
Memimpin sidang konstitusi dengan ratusan kepala yang menyuarakan ego ideologis bukanlah perkara mudah. Di sinilah ketenangan seorang psikiater bekerja. Di bawah ketukannya, fundamen filosofis bangsa (Philosofische Grondslag) berupa Pancasila mulai digali. Sang dokter berhasil mengoperasi kebuntuan politik menjadi sebuah konsensus nasional.
Hingga akhir hayatnya pada 20 September 1952 di Ngawi, Radjiman tetaplah seorang asketis yang setia pada pengabdian. Ia kemudian dimakamkan di Sleman, Yogyakarta, bersanding dekat dengan makam mentor sekaligus ayah angkatnya, Wahidin Sudirohusodo. Radjiman adalah bukti, bahwa skalpel bedah dan naskah konstitusi, jika dipegang oleh tangan yang tepat, sama-sama bisa menyembuhkan sebuah bangsa.









