Mia Bustam: Sang Penjaga Dapur Seniman Rakyat dan Jelaga Kamp Pelantungan

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mia Bustam, dengan gaya Pencil Sketch Art

Mia Bustam, dengan gaya Pencil Sketch Art

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Narasinya kerap terselip di antara biografi raksasa seni rupa modern Indonesia seperti Affandi dan Hendra Gunawan. Namun, bagi jagat seni rupa tanah air, sosok perempuan bernama asli Sasmiati Sri Moyoretno ini bukan sekadar pemanis sejarah. Mia Bustam adalah poros, ibu, sekaligus saksi kunci yang merekam pasang surut revolusi estetika dan tragedi kemanusiaan paling kelam pasca-1965 melalui tetralogi memoar pribadinya.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari Terisinya Dapur SIM hingga Prahara Domestik

Lahir dari keluarga aristokrat di Solo, Jawa Tengah, Mia adalah seorang putri pejabat pemerintahan berlatar belakang ningrat. Garis hidupnya berubah radikal ketika ia terpikat oleh senyum unik milik S. Sudjojono lelaki gondrong, berkumis, dan eksentrik yang kelak ditasbihkan sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia.

Sudjojono meminang Mia dengan cara tak biasa: melabrak pakem tradisi feodal Jawa melalui selembar surat lamaran kilat karena bekal hidupnya saat itu hanya cukup untuk tiga hari. Kendati ditentang keras hingga “dicoret halus” dari kartu keluarga oleh sang ayah, Mia memilih minggat dan menegakkan kepalanya demi sang seniman yang karismatik.

Di bawah atap kontrakan Jalan Pakuningratan 40, Yogyakarta, Mia menjelma menjadi manajer domestik sekaligus benteng pertahanan bagi Sudjojono dan komunitas Seniman Indonesia Muda (SIM). Dari sudut pandang pawon (dapur) inilah, pergulatan estetik para maestro diabadikan. Mia mengurus delapan buah hatinya Tedjabayu, Srinasti, Watugunung, Sekartunggal, Lanang Daya, Lanang Gawe, Srishima, dan Abang Rahino sembari melayani para seniman rakyat yang kerap singgah. Privilese sosial membawa Mia masuk ke dalam sirkuit elite; dari lingkar dalam Presiden Soekarno hingga Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Baca Juga:  Syekh Adimin Arradji Taram: Poros Spiritual dan Lentera Klasikal dari Tepian Luhak nan Bungsu

Namun, romansa bohemian tersebut berujung getir. Kedekatan Sudjojono dengan panggung politik pasca-Pemilu 1955 sebagai anggota DPR dari sayap kiri, membawa riak baru. Badai domestik pecah ketika sang suami terlibat perselingkuhan dengan penyanyi seriosa kenamaan, Rosalina Poppeck atau Ros Pandanwangi. Talak cerai pun jatuh. Gong perceraian itu mengakhiri fase pertama hidup Mia sebagai istri sang maestro, memaksanya angkat kaki dan mendirikan kehidupan baru bersama anak-anaknya di Kampung Pringgodani.

Ibu Utama Lekra dan Malam Ulang Tahun yang Berdarah

Pasca-perceraian, ruang gerak intelektual Mia justru semakin terasah. Ia mengejawantah menjadi “Ibu Utama” bagi para perupa yang bernaung di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Yogyakarta. Kiprahnya di medan sastra tidak main-main; pada tahun 1960, esai kritisnya yang bertajuk Haruskah Seniwati Memisahkan Diri dari Seniman memenangkan sayembara hadiah sastra Harian Rakyat, bersanding dengan sastrawan sekaliber Pramoedya Ananta Toer. Tulisannya juga kerap menghiasi Api Kartini, sebuah majalah progresif yang berafiliasi dengan Gerwani. Masa-masa produktif ini mendadak runtuh oleh gempa politik 1965. Tepat pada hari ulang tahun ke-17 anak ketiganya, Watugunung, ketika sayup-sayup pembangunan Plaza Ambarrukmo sedang berjalan, sepasukan tentara bermata merah menciduknya. Di hadapan anak-anaknya yang masih belia, Mia dipaksa naik ke atas truk militer. Dengan ketegaran yang luar biasa, tanpa linangan air mata, ia hanya mengucapkan satu patah kata perpisahan: “Wisah.” Ia pergi tanpa menoleh lagi, terlempar ke dalam pusaran takdir sebagai tahanan politik.

Melintasi Jeruji: Dari Frederburg hingga Kamp Pelantungan

Fase ini menjadi fragmen paling ngilu dalam hidup Mia. Ia menempuh rute interogasi yang sadis dan penuh teror, berpindah dari kamp tahanan sementara di Ambarrukmo, Demangan, Sleman, hingga berujung di Benteng Vredeburg. Di benteng kolonial yang sesak oleh ribuan tapol itu, Mia menjadi saksi mata kelaparan massal, racun dari gaplek gatot yang membusuk, hingga hilangnya rekan-rekan sesama tahanan secara misterius.

Baca Juga:  Melihat Hari-Hari Terakhir Sukarno: Tragedi De-Sukarnoisasi dan Kesepian Sang Proklamator

Salah satu momen paling ironis terjadi ketika ia diinterogasi di Jefferson Library, sebuah gedung perpustakaan milik dinas penerangan Amerika Serikat (USIS) di dekat Pasar Kranggan. Sang interogator, seorang pemuda terpelajar bernama Lukman Sutrisno yang kelak di kemudian hari dikenal sebagai guru besar sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenali Mia sebagai “Bu John”. Setelah menyiksa tahanan lain dengan todongan pistol di depan mata Mia, Lukman meminta sang maestro perempuan itu untuk melukis dirinya. Mia menolak mentah-mentah dengan satu kata tegas: “Wegah!” (Emoh).

Penderitaan Mia berlanjut selama lima tahun di Penjara Wirogunan, sebelum akhirnya ia mengalami pembuangan ke lokasi interniran khusus perempuan di Kamp Pelantungan, Kendal, Jawa Tengah. Jika Pramoedya Ananta Toer memiliki Nyanyi Sunyi Seorang Bisu untuk memotret nestapa Pulau Buru, maka tetralogi memoar Mia Bustam adalah dokumen tandingan yang secara jurnalisitik, presisi, dan antropologis memotret ekosistem penindasan terhadap tubuh dan ideologi perempuan di masa Orde Baru.

Melalui memoar seperti Dari Kamp ke Kamp dan Sudjojono dan Aku, Mia Bustam membuktikan bahwa meski fisiknya dipenjara, ingatan dan naluri kreatifnya menolak untuk ditumpas.

Sumber:

Reliubun, I. (2024, 10 Desember). Mutiara tetralogi Mia Bustam: Cinta pertama, perceraian, dan penjara. Tempo.co. https://www.tempo.co/teroka/mutiara-tetralogi-mia-bustam-cinta-pertama-perceraian-dan-penjara-1179703

 MIA BUSTAM: IBU PELUKIS-PELUKIS DJOGJA |, Jasmerah [Video], 5 Juni 2026. YouTube; mojokdotco.

Berita Terkait

Sekelumit Kisah Amir Sjarifuddin, Sang Pencetus Kongres Pemuda II
Mengenal Musso, Tokoh Radikal di Balik Peristiwa Madiun 1948
Melihat Hari-Hari Terakhir Sukarno: Tragedi De-Sukarnoisasi dan Kesepian Sang Proklamator
Mundurnya Bung Hatta dari Kursi Wapres Adalah Bentuk Nyata Keteguhan Sebuah Prinsip
Mengenal Dahlan Jambek dan Ismail Lengah: Dua Panglima Penjaga Nyawa Republik dari Ranah Minang
Semaoen: Sang Agitator Ulung dari Jantung Jawa
Siapa D.N. Aidit? Menelusuri Jejak Langkah, Ambisi, dan Akhir Tragis sang Pemimpin PKI
Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 16:16 WIB

Mia Bustam: Sang Penjaga Dapur Seniman Rakyat dan Jelaga Kamp Pelantungan

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:31 WIB

Sekelumit Kisah Amir Sjarifuddin, Sang Pencetus Kongres Pemuda II

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:11 WIB

Mengenal Musso, Tokoh Radikal di Balik Peristiwa Madiun 1948

Senin, 8 Juni 2026 - 11:25 WIB

Melihat Hari-Hari Terakhir Sukarno: Tragedi De-Sukarnoisasi dan Kesepian Sang Proklamator

Minggu, 7 Juni 2026 - 15:11 WIB

Mundurnya Bung Hatta dari Kursi Wapres Adalah Bentuk Nyata Keteguhan Sebuah Prinsip

Berita Terbaru

Foto: Vinicius Junior (Instagram @vinijr)

Sport

Vinicius Junior Memilih Setia di Chamartín

Sabtu, 13 Jun 2026 - 14:26 WIB