ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Agenda persatuan global yang digaungkan FIFA dalam melangsungkan Piala Dunia 2026 membentur dinding diplomasi Washington. Ketua Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, kini tertahan di Mexico City seusai menyaksikan laga pembuka antara Meksiko dan Afrika Selatan pada Kamis (11/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rajoub, yang sejatinya memegang akreditasi resmi, belum mengantongi visa dari pemerintah Amerika Serikat untuk bergabung dengan para pemimpin sepak bola dunia lainnya. Insiden ini mengonfirmasi adanya kesenjangan antara janji inklusivitas FIFA dan realitas kedaulatan hukum negara tuan rumah. Rajoub merelevansikan kekecewaannya melalui sebuah argumentasi etis yuridis bahwa pembatasan ini mencederai hak universal dalam olahraga.
“Saya tidak percaya bahwa adil untuk menggunakan atau menyalahgunakan. kewenangan dengan menolak hak seluruh insan sepak bola di dunia untuk hadir,” kata mantan Anggota Dewan Revolusi Fatah itu sebagaimana dilansir Aljazeera, Sabtu (13/6/2026) yang dikutip ulang oleh Tirto.id.
Meski Timnas Palestina gagal menembus putaran final, kehadiran Rajoub merupakan bagian dari tradisi institusional FIFA yang merangkul seluruh anggotanya. Kebijakan restriktif AS ini bertolak belakang dengan komitmen awal yang diartikulasikan oleh otoritas tertinggi sepak bola global. Presiden FIFA Gianni Infantino bahkan sempat menjanjikan keterbukaan bagi seluruh peserta dan tamu undangan menjelang turnamen yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
“Semua orang akan diterima di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat untuk Piala Dunia FIFA tahun depan. Kami bekerja tepat untuk tujuan itu,” ujar Infantino tahun lalu.
Faktanya, diskriminasi administratif ini juga menimpa delegasi dari negara lain, termasuk seorang wasit Somalia dan fotografer timnas Irak.
Menanggapi eskalasi masalah ini, Infantino mengonfirmasi keterbatasan yurisdiksi lembaganya di hadapan hukum domestik sebuah negara. “Kita harus menghormati bahwa kami bukan raja dunia yang bisa mengatur pemerintah dan aparat penegak hukum,” kata Infantino, Rabu (10/6/2026).
Penundaan visa Rajoub ditengarai berkelindan dengan konjungtur politik. Washington diketahui memperketat aturan bagi pemegang paspor Palestina, termasuk korps pejabat Otoritas Palestina. Rekam jejak Rajoub yang vokal di panggung internasional disinyalir memperkuat resistensi tersebut. Rajoub telah bertahun-tahun menuntut FIFA menjatuhkan sanksi terhadap Israel karena mengizinkan klub-klub di permukiman Tepi Barat berkompetisi di liga domestik mereka. Fenomena ini diperparah oleh kerusakan masif infrastruktur olahraga di Gaza. Federasi Palestina mencatat bahwa agresi militer Israel telah menghancurkan sekitar 80 persen fasilitas olahraga serta merenggut nyawa sedikitnya 565 pemain sepak bola di wilayah tersebut.









