ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Kepastian peta persaingan antarklub sepak bola di Asia Tenggara akhirnya terjawab melalui prosesi undian resmi ASEAN Club Championship (ACC) musim 2026-2027 yang baru saja selesai digelar di Jakarta. Kejuaraan bergengsi sewilayah ASEAN yang akrab dengan label kompetisi Shopee Cup ini menyajikan kejutan besar bagi publik sepak bola tanah air. Dua raksasa domestik yang menjadi representasi Indonesia, Persib BANDUNG selaku kampiun liga musim lalu dan Borneo FC Samarinda sebagai runner-up, dipastikan harus melewati jalan terjal nan berliku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan regulasi kompetisi format baru, edisi kali ini memperluas jumlah partisipan menjadi 14 klub, meningkat dibandingkan musim sebelumnya. Imbas dari penambahan kuota ini mengubah peta persaingan di fase penyisihan: alur kualifikasi tidak lagi langsung melompat ke fase semifinal, melainkan harus melewati babak perempat final terlebih dahulu. Dari masing-masing grup, kuota kelolosan akan diberikan kepada empat tim dengan raihan poin tertinggi.
Secara matematis, regulasi ini memberikan kelonggaran peluang, namun realitas di atas kertas menunjukkan tantangan yang amat masif bagi wakil Indonesia. Narasi mengenai pembagian peta kekuatan langsung memanas begitu hasil undian menempatkan Borneo FC di Grup A dan Persib Bandung di Grup B. Grup A yang dihuni oleh tim berjuluk Pesut Etam tergolong sebagai grup neraka. Borneo FC dikepung oleh kekuatan-kekuatan utama sepak bola Thailand, yakni Buriram United yang berstatus juara bertahan ACC dua musim beruntun sekaligus jawara Liga Thailand, serta Ratchaburi FC. Skuad Buriram pun tidak main-main karena diperkuat deretan legiun asing mentereng dan penggawa top seperti Sandy Walsh, Neil Etheridge, hingga Theerathon Bunmathan. Selain duo Thailand, Grup A diramaikan oleh Kuching City (Malaysia), Tampines Rovers (Singapura), pemenang Piala Vietnam, serta slot pemenang playoff antara Kasuka FC (Brunei) atau Manila Digger (Filipina).
Jika rute Borneo FC dinilai berat, maka takdir yang menjemput Persib Bandung di Grup B bisa dikategorikan sebagai “neraka banget”. Maung Bandung dikepung para jawara regional yang kerap merajai kompetisi antar-klub Asia. Persib dipastikan bentrok kembali dengan musuh bebuyutannya asal Singapura, Lion City Sailors tim yang sukses menahan imbang mereka di Stadion GBLA pada ajang Asia musim lalu.
Lawan silih berganti di Grup B kian mengerikan seiring masuknya nama Port FC, klub elite Thailand yang diperkuat pemain Timnas Indonesia, Asnawi Mangkualam, serta gelandang Piradol Chamrasamee. Belum cukup sampai di situ, armada Persib juga dijadwalkan bersua dengan penguasa mutlak Liga Malaysia, Johor Darul Ta’zim (JDT), raksasa Vietnam Cong An Hanoi FC yang dipersenjatai legiun asal Brasil seperti Hugo Gomez, serta klub Kamboja Svay Rieng FC. Satu tempat tersisa di grup ini akan diisi oleh pemenang playoff antara Ezra FC (Laos) atau Shan United (Myanmar).
Menghadapi konstelasi kompetisi yang sepadat ini, pekerjaan rumah terbesar kini beralih ke jajaran manajemen kedua klub Indonesia. Baik Persib maupun Borneo FC tidak sekadar bermain di kancah domestik dan ASEAN Club Championship, melainkan juga memikul beban di kompetisi Asia. Persib Bandung akan memulai perjuangan di AFC Champions League 2 (ACL2) melalui babak playoff, sementara Borneo FC terjun di ajang AFC Challenge League.
Konsekuensi logis dari keikutsertaan di banyak turnamen ini adalah ancaman kelelahan fisik dan cedera akibat jadwal pertandingan kandang dan tandang yang sangat berimpit. Di sinilah urgensi perburuan pemain dalam bursa transfer dan pembenahan kedalaman skuad menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Manajemen dituntut bergerak cepat menyusun komposisi tim yang kompetitif sebelum genderang kompetisi ditabuh. Jajaran pelatih harus cermat menerapkan rotasi pemain guna menjaga stabilitas performa di kancah domestik maupun internasional.
Ajang pramusim dan turnamen domestik seperti Piala Indonesia disarankan menjadi panggung eksperimen untuk mengorbitkan potensi pilar-pilar muda potensial dari Elite Pro Academy U-20. Langkah taktis kombinasi ini sangat krusial agar tim utama tetap segar saat menghadapi laga-laga penentu di level regional. Klub juga diprediksi harus menentukan skala prioritas strategis: fokus penuh kemungkinan besar akan dicurahkan pada kompetisi Asia dan target mempertahankan takhta di liga domestik, sedangkan ASEAN Club Championship dijadikan wadah rotasi tanpa menurunkan target kelolosan.
Meski harus merangkak dari grup yang sangat berat, peluang Persib dan Borneo FC untuk menembus fase gugur dinilai tetap terbuka lebar. Pengalaman kompetisi internasional musim lalu dan militansi basis suporter fanatik diharapkan mampu menjadi bahan bakar moril ekstra saat melakoni laga-laga tandang ke Thailand, Malaysia, hingga Singapura. Tugas utama publik sepak bola nasional kini adalah memberikan dukungan penuh secara sehat, tanpa ujaran rasisme atau hujatan, demi mengawal martabat Merah Putih di panggung sepak bola Asia Tenggara.









