ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Bulan September menyimpan memori historis yang mendalam bagi dunia militer Sumatra Barat. Pada bulan inilah, dua perwira menengah paling menonjol dalam perang kemerdekaan di daerah tersebut bertautan dengan tanggal-tanggal penting mereka. Ismail Lengah lahir pada 22 September 1914, sementara Dahlan Jambek wafat setelah ditembak secara tragis pada 13 September 1961. Lebih dari sekadar kesamaan bulan penting, kedua sosok ini adalah dwi-tunggal militer yang menjadi arsitek utama pertahanan dan keamanan di Sumatra Barat pada masa awal kemerdekaan.
Dibesarkan oleh Kawah Candradimuka Giugun
Akar kepemimpinan militer Dahlan Jambek dan Ismail Lengah tertanam kuat sejak masa pendudukan Jepang. Keduanya merupakan lulusan dari Giyugun, sekolah pelatihan militer bentukan tentara ke-25 Jepang yang berpusat di Bukittinggi. Di kawah candradimuka inilah, keahlian taktik dan strategi tempur mereka diasah.
Namun, masuknya kedua tokoh ini ke dalam Giyugun memiliki latar belakang unik. Ismail Lengah, yang saat itu telah berusia hampir 30 tahun dan menjabat sebagai direktur sekolah teknik, sebenarnya enggan menjadi kaki tangan penjajah. Ia akhirnya luluh setelah diyakinkan oleh tokoh cadiak pandai Khatib Sulaiman melalui falsafah Minangkabau: “iokan nan di urang, laluan nan di awak”. Artinya, menuruti kemauan Jepang di permukaan, namun secara substantif memanfaatkannya demi melatih pemuda negeri agar mahir dalam ilmu militer. Ismail Lengah sengaja diminta bergabung sebagai figur perwira senior untuk mengayomi para taruna muda.
Di sisi lain, Dahlan Jambek masuk ke Giyugun dalam usia yang sangat muda, baru sekitar 18 atau 19 tahun. Ia merupakan putra dari ulama besar Minangkabau, Syekh Muhammad Djamil Jambek. Sang ahli galak tersebut dengan sukarela menyerahkan anak-anaknya, termasuk Dahlan, untuk menimba ilmu militer demi masa depan bangsa.
Menggagas Badan Keamanan Rakyat (BKR)
Hanya hitungan hari pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, kekosongan kekuasaan terjadi di Sumatra Barat. Menyadari ancaman kembalinya kolonialisme Belanda, Dahlan Jambek dan Ismail Lengah bergerak cepat. Tepat pada 3 September 1945, mereka menginisiasi berdirinya Badan Keamanan Rakyat (BKR) Sumatra Barat di bawah Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID).
BKR inilah yang memelopori gerakan pengamanan kampung halaman dengan prinsip “Tagak kampung pagari kampung, tagak nagari pagari nagari”. Gerakan pengamanan sipil ini kemudian bertransformasi menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) seiring maklumat dari pusat, dan kelak melahirkan Divisi IX Banteng sebuah kesatuan Angkatan Darat legendaris di Sumatra Barat.
Kelegowoan Memimpin dan Dipimpin
Satu hal yang paling mengagumkan dari kedua tokoh ini adalah ketiadaan pamrih atas jabatan. Ketika TKR dibentuk dan struktur Divisi Banteng disusun, Dahlan Jambek ditunjuk sebagai Panglima Divisi Banteng yang pertama. Sementara itu, Ismail Lengah ditunjuk sebagai komandan Resimen III yang membawahi wilayah Padang, Painan, hingga Kerinci.
Meskipun secara usia dan pengalaman hidup Ismail Lengah jauh lebih senior, ia dengan penuh kelegowoan (legowo) bersedia dipimpin oleh Dahlan Jambek yang lebih muda. Penunjukan Dahlan sebagai panglima pertama didasarkan pada pertimbangan praktis: kota Padang mulai diduduki Sekutu dan Belanda, sehingga pusat komando pertahanan bergeser ke Bukittinggi yang dikuasai oleh Dahlan Jambek. Ismail Lengah kemudian menggantikan posisi Dahlan sebagai Panglima Divisi Banteng kedua setelah Dahlan beralih fokus menjadi komandan pertempuran. Ismail yang berjiwa pendidik juga menginisiasi sekaligus memimpin Sekolah Kadet Perwira di Bukittinggi untuk mencetak kader-kader militer baru.
Mengawal Garis Depan PDRI tanpa Gaji
Ujian terbesar bagi kedua panglima ini terjadi saat Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Sebelum agresi meletus, kebijakan Rera (Rekonstruksi, Reorganisasi, dan Rasionalisasi) yang dicanangkan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat memangkas struktur Divisi Banteng menjadi setingkat brigade dan menarik Ismail Lengah ke Yogyakarta.
Kondisi ini sempat menuai protes karena minimnya jumlah pasukan di tengah ancaman Belanda. Namun, saat agresi benar-benar pecah, struktur militer darurat segera dibentuk kembali di lapangan.
Dahlan Jambek tampil sebagai komandan pertempuran di sektor Agam untuk membentengi eksistensi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Selama rentang waktu 1948–1949, di bawah kawalan para perwira eks-Giyugun dan Divisi Banteng, nyawa Republik Indonesia berhasil diselamatkan dari kepunahan.
Hebatnya, perjuangan ini dilakukan tanpa adanya logistik formal maupun gaji dari negara. Untuk menghidupi pasukan, militer mengeluarkan kebijakan INP (Iuran Negara dalam Perang), di mana rakyat secara sukarela menyumbangkan sebagian hasil bumi mereka untuk membuka dapur-dapur umum demi menyuplai nasi bungkus bagi para pejuang di garis depan.
Akhir Perjalanan: Tragedi dan Sejarah yang Terlupakan
Pasca-penyerahan kedaulatan, jalan hidup kedua tokoh ini mulai bercabang. Ismail Lengah memilih tak melanjutkan karier militernya dan mundur dari Angkatan Darat. Sementara itu, Dahlan Jambek melanjutkan kariernya di Jakarta, sempat menjabat sebagai Atase Pertahanan RI di London hingga menjadi Asisten Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).
Namun, ketegangan politik era 1950-an menyeret Dahlan Jambek kembali ke ranah pergolakan. Kecewa terhadap ketimpangan pembangunan ekonomi antara pusat dan daerah serta menguatnya pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memenangi Pemilu 1955, Dahlan Jambek bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958. Ia bahkan mendirikan Gerakan Bersama Anti-Komunis (Geba) di Sumatra Barat.
Nasib tragis menjemput Dahlan Jambek di akhir pergolakan. Meskipun pemerintah pusat telah mengumumkan pemberian amnesti resmi bagi tokoh-tokoh PRRI yang bersedia turun gunung, Dahlan didahului oleh takdir kelam. Pada 13 September 1961, saat berada di Jorong Lariang, Nagari Nan Tujuah, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, ia ditembak mati oleh sekelompok orang yang banyak desas-desus menyebutkan bahwa mereka dari kelompok paramiliter binaan pemerintah pusat.
Melalui kisah Dahlan Jambek dan Ismail Lengah, sejarah mengajarkan nilai luhur tentang keteladanan, kerelaan berkorban harta dan jiwa, serta kepemimpinan yang tulus tanpa memburu pangkat dan jabatan demi tegaknya kedaulatan bangsa.









