Jakarta, ArgumenRakyat.com — Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong pemanfaatan perdagangan digital, kecerdasan buatan, dan konektivitas pembayaran lintas negara untuk memperluas pasar ekspor produk Indonesia.
Dorongan itu disampaikan Roro saat menghadiri forum B57+ Business Leaders’ Summit di Istanbul, Turki, Minggu (1/11/2026). Menurut dia, kolaborasi informasi, pemanfaatan AI, dan konektivitas pembayaran lintas negara menjadi kunci meningkatkan daya saing pelaku usaha lokal di pasar internasional.
Membidik Pasar Negara OKI
Roro memberi perhatian khusus pada negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam yang terdiri dari 26 negara Asia, 27 negara Afrika, 3 negara Eropa, dan 2 negara Amerika Selatan. “Penting bagi kita untuk memahami kebijakan perdagangan di setiap negara, bagaimana kebijakan tersebut saling berkaitan, serta bagaimana kita dapat berbagi informasi mengenai peluang ekspor dan akses pasar,” katanya dalam keterangan resmi.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Ia memaparkan potensi demografi Indonesia yang memiliki 62,39 juta penduduk Generasi Z dan 57 juta milenial. Angka itu dinilai selaras dengan pasar negara OKI yang berpenduduk lebih dari 2 miliar jiwa dan lebih dari separuhnya kelompok usia muda.
InaExport hingga QRIS Lintas Negara
Sebagai langkah konkret, pemerintah mengikis kesenjangan teknologi bagi pelaku usaha lokal, termasuk UMKM yang 64,5 persennya digerakkan perempuan. Kementerian Perdagangan meluncurkan platform InaExport yang menyajikan data permintaan pasar luar negeri, rincian tarif, syarat perdagangan, hingga akses jaringan perwakilan dagang di 33 negara.
Roro juga menyinggung konektivitas ekonomi digital ASEAN melalui pembayaran lintas negara seperti QRIS dan inisiatif ASEAN Digital Economy Framework Agreement yang bisa diadaptasi kawasan lain. “Dengan integrasi teknologi dan kolaborasi antarnegara, produk-produk unggulan Indonesia diyakini akan semakin masif membanjiri pasar internasional,” ujarnya.
Di tingkat pelaku usaha, perubahan ini terasa paling nyata pada pedagang kecil yang mulai menjual lewat katalog digital. Seorang penjual makanan rumahan di sebuah kota kecil pernah hanya mengandalkan mulut ke mulut, lalu merekam tiga video pendek proses produksinya apa adanya: tangan yang menguleni, uap yang mengepul, pelanggan yang menunggu. Pesanan mulai datang dari luar kota, bahkan dari perantau yang merindukan rasa kampung. Yang berubah bukan resepnya, melainkan cara usahanya bercerita.
Konten video kini bekerja sebagai aset jangka panjang, bukan unggahan yang lewat begitu saja. Satu video yang dibuat dengan niat — naskah jelas, gambar rapi, judul memuat kata kunci — dapat terus ditemukan lewat optimasi mesin pencari dan media sosial berbulan-bulan kemudian. Di titik ini digital marketing bekerja: memadukan strategi konten, SEO, dan konsistensi agar usaha kecil punya wajah yang dipercaya calon pembeli.
Dimensia Creative mendampingi pelaku usaha merancang produksi konten video, live streaming, dan strategi digital marketing yang terukur. Untuk branding produk maupun personal branding, podcast Kusieh Bendi memberi ruang bagi pengusaha dan tokoh daerah menyampaikan perjalanan serta gagasannya agar diingat publik. Diskusi awal bisa lewat WhatsApp 0812-6349-2788 atau melihat portofolio di dimensiacreative.com, sedangkan rencana podcast tersedia di dimensiacreative.com/proposal.









