Jakarta, ArgumenRakyat.com — OpenAI, Microsoft, Google, dan lebih dari 100 perusahaan teknologi memperingatkan gelombang serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) bakal semakin meluas dalam beberapa bulan ke depan dan menyerukan penguatan pertahanan siber secara global, Senin (31/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peringatan tersebut disampaikan melalui surat bersama yang ditandatangani raksasa teknologi seperti OpenAI, Anthropic, Microsoft, Alphabet, dan Amazon, serta lebih dari 100 perusahaan lain termasuk Broadcom, Capital One, Cloudflare, CrowdStrike, General Motors, IBM, Mastercard, Oracle, Robinhood, Shopify, dan Visa.
Ancaman ke Infrastruktur Kritis
"Dalam beberapa bulan ke depan, serangan siber berbasis AI akan menjadi jauh lebih meluas dan canggih seiring model di seluruh dunia menjadi semakin mampu," demikian bunyi surat tersebut. Perusahaan-perusahaan itu menyebut dunia memiliki waktu terbatas untuk memperkuat pertahanan sebelum kemampuan AI semakin maju.
Surat itu memperingatkan ancaman tidak hanya menyasar perusahaan teknologi, tetapi juga infrastruktur penting yang digunakan masyarakat, mulai dari rumah sakit, fasilitas pengolahan air, hingga infrastruktur penopang internet. Masalah lama seperti bug, pemberian akses berlebihan, kesalahan konfigurasi, perangkat lunak yang tidak aman atau belum diperbarui, autentikasi lemah, hingga technical debt pada sistem lama dinilai membuat banyak organisasi rentan.
Tim keamanan, terutama di sektor infrastruktur kritis, disebut selama ini kekurangan sumber daya. Oleh karena itu, para penandatangan menyerukan peningkatan alat, pendanaan, dan dukungan untuk memperkuat pertahanan, sekaligus menilai perkembangan AI juga bisa dimanfaatkan untuk membantu pihak yang bertahan.
Seruan untuk Pemerintah
Dalam surat itu, pemerintah diminta mengoordinasikan pertahanan siber di tingkat lokal, nasional, hingga internasional, memperkuat saluran berbagi informasi ancaman antara pemerintah dan industri, serta memprioritaskan risiko paling serius. Perusahaan AI frontier juga didorong menyediakan akses model secara bertanggung jawab, pendanaan, pelatihan, dan dukungan langsung bagi operator infrastruktur kritis yang kekurangan sumber daya.









