Jejak Sejarah Pasar Payakumbuh: Dari Era Kolonial ke Milenial (Eps .2)

- Jurnalis

Selasa, 30 Desember 2025 - 16:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Niniak Mamak Koto Nan Gadang jo Koto Nan Ompek

Niniak Mamak Koto Nan Gadang jo Koto Nan Ompek

 

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship →
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT


Argumenrakyat.com| Payakumbuh 30/12/2025  Tempat tinggal sementara pimpinan kelarasan dan fasilitas lainnya berdiri di pasar Payakumbuh. Selanjutnya Avdeling Luak Limo Puluah Koto terdiri atas 13 kelarasan, yaitu:

  1. Rumah Gadang Laras Koto Nan Gadang
  2. Rumah Gadang Laras Koto Nan Ompek
  3. Rumah Gadang Laras Guguak
  4. Rumah Gadang Laras Mungka
  5. Rumah Gadang Laras Batu Hampa
  6. Rumah Gadang Laras Lubuak Batingkok
  7. Rumah Gadang Laras Sungai Baringin
  8. Rumah Gadang Laras Sarilamak
  9. Rumah Gadang Laras Payobasuang
  10. Rumah Gadang Laras Taram
  11. Rumah Gadang Laras Limbukan
  12. Rumah Gadang Laras Situjuah
  13. Rumah Gadang Laras Halaban

Pasar-pasar yang dibentuk oleh Pemerintah Hindia Belanda pada masa kolonial berfungsi sebagai tempat penampungan komoditas hasil bumi. Namun, sistem ini justru memaksa rakyat menderita. Kondisi tersebut mendorong Eduard Douwes Dekker, seorang warga Belanda, menulis sebuah buku berjudul Max Havelaar. Buku ini mengisahkan praktik Politik Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang menyebabkan penderitaan, kelaparan, dan kesengsaraan masyarakat pribumi akibat eksploitasi Pemerintah Hindia Belanda.

Kisah penderitaan pribumi yang dituliskan Douwes Dekker sampai kepada Ratu Belanda Wilhelmina. Setelah membaca buku tersebut, sang ratu merasa tersentuh. Dari sinilah kemudian muncul kebijakan Politik Balas Budi (Politik Etis), yang bertujuan merehabilitasi korban Tanam Paksa melalui pembangunan di bidang ekonomi dan pendidikan.

Baca Juga:  Drama Musorkot KONI Payakumbuh: Fitra Yanto Mundur Mendadak, Kenapa?

Pada tahun 1911, Asisten Residen L. C. Westenenck mengambil prakarsa untuk membangun Pasar Payakumbuh. Pasar ini dibangun dengan enam kios permanen berkontruksi baja dan beratapkan seng. Kios-kios tersebut saling berhadapan, terdiri dari tiga kios di sebelah kiri jalan menuju Batang Agam dan tiga kios di sebelah kanan.

Pendanaan pembangunan pasar berasal dari pinjaman modal Lokale Fonds Residen Sumatra’s Westkust sebesar F 36.000 (tiga puluh enam ribu gulden), yang dilunasi dalam jangka waktu delapan tahun. Pembangunan Pasar Payakumbuh selesai pada tahun 1912. Untuk pengelolaannya, didirikan sebuah badan yang dinamakan Pasar Fonds (Dana Pasar).

Pasar Payakumbuh dibangun di atas tanah milik Nagari Koto Nan Gadang dan Nagari Koto Nan Ompek. Sebagai bentuk kompensasi, Pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi kepada kedua nagari tersebut sebesar F 350 gulden per tahun.

Pasar Fonds diresmikan pada 12 Desember 1912, berada di bawah urusan Asisten Residen dalam bentuk cabang dinas atau Tak van Dienst. Pada saat peresmian, pasar dimeriahkan dengan pasar malam selama tujuh hari. Sejak saat itu, Pasar Payakumbuh mulai berkembang pesat dan semakin ramai, ditandai dengan berdirinya toko-toko di sekeliling pasar.

Baca Juga:  Dua Kasat Polres 50 Kota Resmi Naik Pangkat Menjadi AKP

Pada era 1930-an, didirikan berbagai los, seperti los tembakau, los beras, los sayur, los daging, serta los-los mini lainnya.
(Sumber: Buku Ekspos KAN Koto Nan Gadang dan KAN Koto Nan Ompek)

Hendra Yanni, Datuak Rajo Imbang, saat ditemui wartawan Argumenrakyat.com, menyampaikan:

“Ekspos tentang pasar tradisional perlu diceritakan kepada generasi penerus agar mereka mengetahui warisan budaya. Pasar bukan hanya tempat jual beli, tetapi juga simbol kekuatan ekonomi dan kebudayaan masyarakat.”

Masuk pada zaman penjajahan Jepang dari Tahun 1941 sampai dengan 1945 urusan pasar founds ini di bawah kekuasaan Bun Shu Tyo, dan nagari tidak diberi kompensasi sampai Tahun 1946.

Bagaimana pasar Payakumbuh pada Zaman kemerdekaan Republik Indonesia, nanti kita lanjutkan ujar Hendra Yanni, sambil berkelakar.

(Herman R – bersambung)


 

Berita Terkait

Akses Lembah Anai Resmi Dibuka Semua Kendaraan, BPJN Sumbar sebut Perbaikan Jalan Selesai
Respons Sekretaris Komisi B DPRD Kota Paykumbuh Usai Disambangi Pajacombo LAB: Sindiran Keras untuk Kami
Menembus Isolasi Buluh Kasok: Proyek Jalan TMMD Kodim 0306 Dipacu di Tengah Terik Harau
Makin Memanas, Musda MUI Sumbar Disebut Tak Akomodir Pondok Pesantren Besar
KAN Kubang Putiah Sebut Trase Tol Sicincin – Bukittinggi Ancam Akar Sejarah dan Lahan Produktif Nagari
Dua Kasat Polres 50 Kota Resmi Naik Pangkat Menjadi AKP
Selatan Sunset Festival 2026: Gadih Angik Menjelma Jadi Pusat Seni, Budaya, dan UMKM Payakumbuh
Evolusi Spasial Payakumbuh: Membaca Riwayat Kota dari Toponimi hingga Konsep Livable City
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:23 WIB

Akses Lembah Anai Resmi Dibuka Semua Kendaraan, BPJN Sumbar sebut Perbaikan Jalan Selesai

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:43 WIB

Menembus Isolasi Buluh Kasok: Proyek Jalan TMMD Kodim 0306 Dipacu di Tengah Terik Harau

Senin, 13 Juli 2026 - 12:37 WIB

Makin Memanas, Musda MUI Sumbar Disebut Tak Akomodir Pondok Pesantren Besar

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:00 WIB

KAN Kubang Putiah Sebut Trase Tol Sicincin – Bukittinggi Ancam Akar Sejarah dan Lahan Produktif Nagari

Rabu, 1 Juli 2026 - 13:47 WIB

Dua Kasat Polres 50 Kota Resmi Naik Pangkat Menjadi AKP

Berita Terbaru