ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Dinamika di dapur komunikasi kepresidenan kembali bergeliat setelah pelantikan jajaran penasihat baru. Hasan Nasbi, yang kini resmi menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, membeberkan pola koordinasi teranyar di lingkaran dalam Kabinet Merah Putih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berbeda dengan pola formal birokrasi pada umumnya, arus pertukaran informasi dan perumusan strategi komunikasi kini jamak dilakukan secara langsung melalui saluran telepon privat bersama Presiden Prabowo Subianto.
Langkah taktis ini diambil guna memotong jalur komunikasi yang panjang, sehingga pengambilan keputusan terkait isu-isu strategis nasional bisa berjalan lebih responsif. “Kalau masukan langsung ke Presiden langsung ya Bang, bahkan sekarang dalam posisi sebagai penasihat mungkin lebih sering dipanggil ke Hambalang. Bahkan sekarang juga sering teleponan sama Presiden, jadi enggak harus ketemu dalam rapat,” ujar Hasan Nasbi dalam acara gelar wicara Q&A di Metro TV, yang diunggah dalam kanal YouTube, pada Minggu, 28 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa diskusi lewat telepon tersebut kerap dilakukan secara terbatas bersama tokoh lain, seperti Kepala Badan Komunikasi Kepresidenan Qodari, guna membahas berbagai isu aktual.
Hasan menggarisbawahi bahwa perannya di struktur yang baru ini memiliki batas demarkasi yang jelas dengan Lini Terdepan Komunikasi Pemerintah. Koordinasi harian tetap dijalankan secara ketat bersama jajaran Badan Komunikasi Kepresidenan serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang dipimpin Meutya Hafid.
“Sebagian besar pekerjaan saya lebih banyak berkoordinasi dengan Badan Komunikasi Bang Qodari dengan tim dan dengan Kementerian Komdigi Ibu Mutia Hafid… Saya ini sebenarnya dapur, tukang yang ada di dapurlah, tapi dibolehkan sekali-sekali ke etalase,” ucapnya memosisikan diri.
Di balik posisinya yang strategis, kembalinya Hasan ke dalam sistem pemerintahan sempat memicu tanda tanya publik mengingat ia sempat menyatakan mundur dari jabatan sebelumnya di awal pemerintahan.
Menanggapi fluktuasi posisinya tersebut, keponakan Buya Syafi’i Ma’arif itu secara terbuka mengakui adanya evaluasi performa personal yang melatarbelakangi jeda politiknya. “Jadi saya mungkin waktu itu tahu diri aja kalau kita lagi enggak bagus main bolanya kan ya enggak apa-apa kita di bangku cadangan kan… yang penting kan kita enggak pindah klub kan,” tuturnya mengibaratkan dinamika politik itu seperti kompetisi sepak bola.
Kendati kembali masuk ke lingkaran inti, ia menolak anggapan jika tugasnya diartikan secara harfiah untuk “mendikte” kebijakan presiden melalui nasihat-nasihat normatif.
Hasan memandang sosok Presiden Prabowo sebagai figur berlatar belakang kuat yang tidak mudah goyah oleh masukan tanpa argumentasi kokoh. “Makanya saya juga enggak berani walaupun titelnya penasihat, enggak berani menyebutnya sebagai nasihat kan, masukan. Karena presiden sebenarnya sangat terbuka buat diskusi, tapi kita juga harus ingat orang kalau sudah sampai level presiden enggak gampang pendiriannya goyah,” ucapnya dalam episode bertajuk “The Power of Words” itu.
Menurutnya, setiap gagasan yang masuk ke Istana harus melewati fase debat internal yang ketat karena pemikiran presiden sudah menyerupai buku yang tebal.
Terkait sorotan tajam publik dan serangan netizen di media sosial pasca-pelantikannya kembali, Hasan mengaku tidak terlalu ambil pusing. Baginya, riuh rendah kritik digital merupakan konsekuensi logis dari sebuah jabatan publik di era keterbukaan informasi. “Saya sih enggak lah ya, karena itu risiko hidup di dunia yang serba terbuka seperti ini. Pasti enggak ada, enggak mungkin siapapun orangnya yang 100 persen suka sama seseorang,” tegas Hasan secara retoris.









