JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Pakar kecerdasan artifisial dari Universitas Gadjah Mada Dedy menilai penggunaan teknologi AI berbasis model bahasa besar berisiko bagi siswa sekolah dasar karena anak belum mampu memverifikasi informasi keliru yang dihasilkan mesin.
Menurut dia, model bahasa besar cenderung menghasilkan halusinasi berupa berita dan informasi palsu. Karena itu, rencana memperkenalkan AI kepada siswa sekolah dasar perlu ditinjau ulang sebelum diterapkan secara luas.
Halusinasi AI dan Keterbatasan Anak
“LLM cenderung mengalami halusinasi. Algoritma ini bisa menghasilkan berita dan informasi palsu. Siapa yang akan memverifikasinya? Dalam prinsip AI yang berpusat pada manusia, manusia harus memeriksa hasil yang dihasilkan AI. Namun, anak-anak belum memiliki bekal yang cukup untuk memverifikasi halusinasi dari AI,” kata Dedy dalam sebuah workshop di Jakarta, Jumat.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Ia menjelaskan pembahasan AI dalam pendidikan perlu dibedakan menjadi dua hal, yakni pemanfaatan AI untuk mendukung proses belajar dan pengajaran AI kepada siswa. Pemanfaatan AI untuk pembelajaran personal dinilai dapat membantu mengatasi keterbatasan kapasitas serta keterampilan tenaga pengajar, misalnya untuk siswa penyandang disabilitas atau materi yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa.
Pelajaran dari Jepang
“AI for education sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun, yang perlu menjadi perhatian adalah pengajaran AI kepada siswa,” ujarnya. Menurut Dedy, pemerintah pada 2024 sempat memperkenalkan rencana memasukkan pembelajaran AI ke kurikulum bagi generasi muda, termasuk siswa sekolah dasar.
Sebagai perbandingan, ia menceritakan pengalamannya mengunjungi Jepang. Menurut pengamatannya, Jepang baru memperkenalkan AI kepada siswa tingkat sekolah menengah atas dengan panduan dan pendampingan guru, memakai perangkat khusus yang aksesnya dibatasi sekolah. Ia juga mengaitkan penggunaan AI dan paparan layar berlebihan dengan kekhawatiran penurunan kemampuan kognitif anak, agar pengenalan teknologi tetap mengutamakan literasi dan pengawasan orang dewasa.









