Jakarta, ArgumenRakyat.com — Sejumlah peneliti Google DeepMind mengundurkan diri karena menolak teknologi kecerdasan buatan yang mereka kembangkan dipakai untuk operasi militer, salah satunya insinyur riset asal Inggris Sofia Ligouri pekan lalu.
Ligouri menyampaikan kekhawatirannya atas kontrak antara Google dan militer yang tengah berjalan, termasuk kerja sama dengan militer Amerika Serikat dan Israel. Ia telah bekerja di perusahaan itu selama tiga tahun.
“Menyadari bahwa perusahaan tempat saya bekerja semakin mendorong penggunaan sistem AI dalam operasi militer membuat saya merasa malu bekerja di Google,” kata Ligouri dalam wawancara dengan media internasional, Kamis (22/10).
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Khawatir Keputusan Tanpa Manusia
Kekhawatiran serupa disampaikan peneliti Andreas Krisch yang mundur pada awal bulan ini. Menurut dia, tata kelola dan pengawasan Google belum memadai untuk menerapkan AI secara aman dan bertanggung jawab di lingkungan operasi militer yang bersifat rahasia.
“Google tampaknya tidak memiliki hak untuk mengendalikan atau memveto cara Pentagon menggunakan AI mereka,” kata Krisch.
Tanggapan Google
Juru bicara Google menyatakan perusahaan bekerja sama dengan organisasi sektor publik di seluruh dunia dan mengikuti proses yang konsisten dalam meninjau kontrak, termasuk kepatuhan terhadap kebijakan penggunaan yang dapat diterima serta prinsip AI perusahaan.
Pengamat menilai kesepakatan AI untuk pertahanan yang ditandatangani tahun ini memperluas cakupan penggunaan teknologi oleh Pentagon. “AI memangkas waktu yang dimiliki seorang operator untuk mengambil keputusan karena AI bekerja jauh lebih cepat daripada manusia,” kata Sarah Shoker, eks kepala tim Geopolitik OpenAI.









