Bagindo Aziz Chan: Sang Garda Ketahanan Kota Padang

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sketch Art Colored ”Bagindo Aziz Chan”

Sketch Art Colored ”Bagindo Aziz Chan”

ARGUMENRAKYAT.COMSUMBAR – Di tengah ramainya Kota Padang hari ini beserta bisingnya, tersimpan rekam jejak patriotisme seorang putra daerah. Adalah Bagindo Aziz Chan, sosok pejuang gigih yang lahir dari keluarga bersahaja di Alang Laweh pada 30 September 1910. Dialah perwujudan keteguhan sikap yang tak sudi bertekuk lutut di hadapan penetrasi kolonialisme maupun fasisme pendudukan asing demi mempertahankan kedaulatan tanah air.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jejak intelektualnya terpatri sejak mengenyam pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Langkah akademisnya kian melaju saat ia hijrah ke Surabaya bersama sang kakak pada 1926, lalu menuntaskan studi di Algemeene Middelbare School (AMS) Bandung pada 1929. Medan pengabdiannya kian meluas tatkala ia berkiprah sebagai advokat di Batavia pada 1933. Tak berhenti pada profesi hukum, nurani pendidiknya memanggil untuk mentransfer ilmu sebagai pengajar di Modern Islamic School Bukittinggi hingga Islamic College di Padang.

Sikap kritis dan artikulasi pemikirannya yang sanggup membakar gelora resistensi rakyat membuat pihak pendudukan bertindak represif. Pada era pendudukan Dai Nippon, orasi serta ceramah keagamaannya yang secara tajam menelanjangi ketidakadilan rezim militer Jepang berujung pada penyekapan dirinya di balik jeruji besi. Namun, penahanan tersebut tak sedikit pun menyurutkan idealisme juangnya dalam menyuarakan kebenaran serta memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas.

Baca Juga:  Pendakwah Ustadz Adi Hidayat Buka Pendaftaran Pengajar untuk Ponpes Baru di Harau

Pasca-proklamasi kemerdekaan, dinamika tata kelola pemerintahan di Minangkabau menempatkannya pada tampuk kepemimpinan sipil. Pada 23 Januari 1946, ia dipercaya menduduki kursi Wakil Walikota Padang mendampingi Walikota Abu Bakar.

Tak berselang lama, tepatnya 15 Agustus 1946, Dewan Eksekutif Sumatra Barat secara resmi mendaulatnya sebagai Walikota Padang. Di tengah eskalasi konflik perbatasan yang kian memanas, pergerakan diplomasi politik tetap ia tempuh secara taktis. Pada 25 Maret 1947, Bagindo menyambangi markas besar tentara sekutu demi meratifikasi kesepakatan penting terkait Perjanjian Linggarjati.

Demi menyuarakan kedaulatan bangsa dan menangkis segala bentuk propaganda musuh, ia memelopori penerbitan pers perjuangan bertajuk Republik Indonesia Jaya. Bagi militer Sekutu dan Belanda, eksistensi sang walikota yang vokal serta konsisten melancarkan aksi agitasi adalah ancaman laten yang sangat membahayakan stabilitas serta dominasi geopolitik mereka di wilayah Sumatra Barat.

Baca Juga:  Akses Lembah Anai Resmi Dibuka Semua Kendaraan, BPJN Sumbar sebut Perbaikan Jalan Selesai

Tragedi memilukan akhirnya pecah di tengah berkecamuknya tensi militer yang semakin memuncak. Saat tengah melintasi jalur darat menuju Padang Panjang, konvoi Bagindo dicegat secara paksa oleh serdadu sekutu.

Ia dipaksa menaiki kendaraan taktis milik tentara Belanda untuk mengikuti pergerakan mereka. Naas, setibanya di titik batas garis demarkasi kawasan Nanggalo, pimpinan praja yang gigih ini diperintah turun lalu dieksekusi secara keji melalui tembakan jarak dekat oleh pasukan sekutu. Ia gugur sebagai martir pertahanan kota di garis depan pertempuran.

Pernyataan ikonik yang pernah terlontar dari bibirnya, “Langkahi dulu mayatku baru Kota Padang kuserahkan,” kini terpatri abadi sebagai warisan sejarah yang sangat mendalam. Untuk mengabadikan heroisme sang pahlawan nasional, Monumen Tugu Tinju didirikan secara megah di lokasi tempat ia gugur di Nanggalo sebagai simbol perlawanan yang pantang menyerah.

Selain itu, prasasti serta patung penghormatan atas jasa kepemimpinannya juga berdiri tegak di area Museum Adityawarman, Padang, guna mengenang keberaniannya melintasi zaman serta menginspirasi generasi mendatang.

Berita Terkait

Dunia Seni Rupa Indonesia Berduka: Maestro Pelukis Nasirun Berpulang dalam Usia 60 Tahun
Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar
Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi
Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt
Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya
Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah
Mengenal Azyumardi Azra, Cendekiawan Indonesia Peraih Gelar Kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II
Ucapan Belasungkawa Megawati untuk Khamenei Disiarkan di TV Iran

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:59 WIB

Bagindo Aziz Chan: Sang Garda Ketahanan Kota Padang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:55 WIB

Dunia Seni Rupa Indonesia Berduka: Maestro Pelukis Nasirun Berpulang dalam Usia 60 Tahun

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:03 WIB

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:50 WIB

Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:03 WIB

Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt

Berita Terbaru

13 Jenis Hamster yang Bisa Dipelihara Pemula. (Foto: CNN Indonesia)

Tips

13 Jenis Hamster yang Bisa Dipelihara Pemula

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:24 WIB

Chip AI China Melonjak Harga, Ini Faktor Kelangkaan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Chip AI China Melonjak Harga, Ini Faktor Kelangkaan

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:19 WIB

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS. (Foto: iNews.id)

Ekonomi

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:14 WIB

Dentuman Keras Gegerkan Warga Gorontalo Dini Hari. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

Dentuman Keras Gegerkan Warga Gorontalo Dini Hari

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:08 WIB