ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Di tengah ramainya Kota Padang hari ini beserta bisingnya, tersimpan rekam jejak patriotisme seorang putra daerah. Adalah Bagindo Aziz Chan, sosok pejuang gigih yang lahir dari keluarga bersahaja di Alang Laweh pada 30 September 1910. Dialah perwujudan keteguhan sikap yang tak sudi bertekuk lutut di hadapan penetrasi kolonialisme maupun fasisme pendudukan asing demi mempertahankan kedaulatan tanah air.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jejak intelektualnya terpatri sejak mengenyam pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Langkah akademisnya kian melaju saat ia hijrah ke Surabaya bersama sang kakak pada 1926, lalu menuntaskan studi di Algemeene Middelbare School (AMS) Bandung pada 1929. Medan pengabdiannya kian meluas tatkala ia berkiprah sebagai advokat di Batavia pada 1933. Tak berhenti pada profesi hukum, nurani pendidiknya memanggil untuk mentransfer ilmu sebagai pengajar di Modern Islamic School Bukittinggi hingga Islamic College di Padang.
Sikap kritis dan artikulasi pemikirannya yang sanggup membakar gelora resistensi rakyat membuat pihak pendudukan bertindak represif. Pada era pendudukan Dai Nippon, orasi serta ceramah keagamaannya yang secara tajam menelanjangi ketidakadilan rezim militer Jepang berujung pada penyekapan dirinya di balik jeruji besi. Namun, penahanan tersebut tak sedikit pun menyurutkan idealisme juangnya dalam menyuarakan kebenaran serta memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas.
Pasca-proklamasi kemerdekaan, dinamika tata kelola pemerintahan di Minangkabau menempatkannya pada tampuk kepemimpinan sipil. Pada 23 Januari 1946, ia dipercaya menduduki kursi Wakil Walikota Padang mendampingi Walikota Abu Bakar.
Tak berselang lama, tepatnya 15 Agustus 1946, Dewan Eksekutif Sumatra Barat secara resmi mendaulatnya sebagai Walikota Padang. Di tengah eskalasi konflik perbatasan yang kian memanas, pergerakan diplomasi politik tetap ia tempuh secara taktis. Pada 25 Maret 1947, Bagindo menyambangi markas besar tentara sekutu demi meratifikasi kesepakatan penting terkait Perjanjian Linggarjati.
Demi menyuarakan kedaulatan bangsa dan menangkis segala bentuk propaganda musuh, ia memelopori penerbitan pers perjuangan bertajuk Republik Indonesia Jaya. Bagi militer Sekutu dan Belanda, eksistensi sang walikota yang vokal serta konsisten melancarkan aksi agitasi adalah ancaman laten yang sangat membahayakan stabilitas serta dominasi geopolitik mereka di wilayah Sumatra Barat.
Tragedi memilukan akhirnya pecah di tengah berkecamuknya tensi militer yang semakin memuncak. Saat tengah melintasi jalur darat menuju Padang Panjang, konvoi Bagindo dicegat secara paksa oleh serdadu sekutu.
Ia dipaksa menaiki kendaraan taktis milik tentara Belanda untuk mengikuti pergerakan mereka. Naas, setibanya di titik batas garis demarkasi kawasan Nanggalo, pimpinan praja yang gigih ini diperintah turun lalu dieksekusi secara keji melalui tembakan jarak dekat oleh pasukan sekutu. Ia gugur sebagai martir pertahanan kota di garis depan pertempuran.
Pernyataan ikonik yang pernah terlontar dari bibirnya, “Langkahi dulu mayatku baru Kota Padang kuserahkan,” kini terpatri abadi sebagai warisan sejarah yang sangat mendalam. Untuk mengabadikan heroisme sang pahlawan nasional, Monumen Tugu Tinju didirikan secara megah di lokasi tempat ia gugur di Nanggalo sebagai simbol perlawanan yang pantang menyerah.
Selain itu, prasasti serta patung penghormatan atas jasa kepemimpinannya juga berdiri tegak di area Museum Adityawarman, Padang, guna mengenang keberaniannya melintasi zaman serta menginspirasi generasi mendatang.









