Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Dewi Sartika (Dok. Istimewa)

Foto: Dewi Sartika (Dok. Istimewa)

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Matahari belum lagi tinggi di Tegallega ketika Raden Rangga Somanagara, sang Patih Bandung, terseret pusaran politik kolonial pada Juli 1893. Tuduhan sabotase pacuan kuda menjatuhkan vonis berat: pembuangan ke Ternate. Bagi keluarga, itu adalah kiamat kecil. Bagi Raden Dewi Sartika yang kala itu baru berusia sembilan tahun, pembuangan sang ayah adalah awal dari sebuah babak hidup yang rumit, namun kelak membentuk jalan pedangnya.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lahir di Bandung pada 4 Desember 1884, gadis kecil yang akrab disapa Uwi ini sejatinya tumbuh dalam kemewahan priyayi tinggi Menak Sunda . Ayahnya adalah sosok bervisi maju yang lekas menyekolahkan anak perempuannya sebuah anomali di tengah kekakuan adat masanya. Namun, palu hakim kolonial mengubah segalanya. Sartika kecil dititipkan di rumah pamannya dalam atmosfer yang dingin dan penuh pembedaan. Ia ditempatkan di kamar belakang layaknya pelayan dan dipaksa kenyang oleh pekerjaan domestik yang melelahkan.

Ironi paling pekat terasa kala Uwi ditugaskan mengantar sepupu-sepupunya belajar membaca dan menulis bahasa Belanda ke rumah seorang nyonya Eropa . Langkah kakinya hanya boleh sampai di depan pintu; ia diharamkan ikut belajar. Di sinilah tirai kesadaran Sartika terbuka lebar. Di balik tembok feodalisme rumah pamannya, ia menyaksikan potret muram kaumnya [03:33]. Anak-anak lelaki dimanjakan dengan pendidikan, sementara perempuan dibiarkan buta huruf, terkurung dalam kungkungan pingitan dan dapur.

Baca Juga:  Melihat Hari-Hari Terakhir Sukarno: Tragedi De-Sukarnoisasi dan Kesepian Sang Proklamator

Namun, Uwi menolak takluk. Modal pendidikan masa kecilnya menjadi senjata rahasia. Di sela-sela waktu luang, ia menjelma menjadi juru baca dan penulis surat-surat rahasia bagi gadis-gadis sebayanya yang menerima pesan dari para pemuda terpandang. Dari bilik-bilik domestik inilah, benih-benih emansipasi menyemai. Ia sadar betul, kebodohan adalah akar dari ketidakberdayaan perempuan pribumi.

Ketika ibunya bebas dari pengasingan, Sartika kembali ke Bandung membawa bara yang menyala. Pada usia yang tergolong belia, ia memberanikan diri menghadap Bupati Bandung, Raden Adipati Aria Martanegara, demi memohon izin mendirikan sekolah khusus perempuan. Sebuah langkah berani yang awalnya dipandang skeptis. Namun, kegigihannya melunakkan sang bupati.

Maka, sejarah mencatat tanggal 16 Januari 1904 sebagai hari lahirnya Sekolah Istri di pendopo kabupaten. Di sana, Sartika yang baru berusia 20 tahun turun langsung mengajar angkatan pertama yang hanya berisi 20 murid di dua kelas. Ruang kelas itu tidak hanya mengajarkan aksara, tetapi juga memasukkan fondasi agama, kesehatan, dan keterampilan hidup. Sekolah ini berkembang pesat hingga harus pindah lokasi demi menampung gelombang murid yang terus berdatangan.

Baca Juga:  Tokoh Inspirasi AI: Fei-Fei Li, "Godmother of AI" di Balik Revolusi Kecerdasan Buatan Modern

Perjuangan Sartika tak berhenti di papan tulis. Melalui tulisan-tulisannya di media massa yang terbit di Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya, ia menentang keras praktik poligami dan perkawinan di bawah umur yang ia sebut sebagai “penyakit gangren” bagi masyarakat Ia bahkan menjadi perempuan pertama yang lantang menyuarakan kesetaraan upah kerja bagi perempuan. Konsistensi menolak subordinasi ini pula yang membuatnya menolak pinangan seorang Pangeran Banten, dan lebih memilih menambatkan hatinya pada Raden Kanduruan Suryawinata, seorang guru yang sevisi dan mendukung penuh perjuangannya.

Hingga akhir hayatnya di tengah kecamuk Agresi Militer Belanda di Tasikmalaya pada 11 September 1947, Dewi Sartika konsisten berdiri di garis depan. Ia tidak sekadar mendirikan sekolah, ia telah meruntuhkan tembok feodal yang memenjara pikiran kaumnya.

Berita Terkait

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar
Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt
Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya
Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah
Mengenal Azyumardi Azra, Cendekiawan Indonesia Peraih Gelar Kebangsawanan dari Ratu Elizabeth II
Ucapan Belasungkawa Megawati untuk Khamenei Disiarkan di TV Iran
Fransisca Fanggidae: Juru Bicara Revolusi yang Terpental ke Tepian Sejarah
Mengenal Karlina Supelli, Tokoh Kosmologi dan Suara Nurani Kemanusiaan

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 20:03 WIB

Syekh Abdul Hamid ”Baliau Tanjuang Ipuah” Ulama yang Melahirkan Banyak Ulama Besar

Sabtu, 18 Juli 2026 - 13:50 WIB

Mengenal Dewi Sartika, Perempuan Melawan yang Disapa Uwi

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:03 WIB

Rekam Jejak Inyiak De-er dalam Arus Pembaruan Islam di Ranah Minangt

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:22 WIB

Syekh Muhammad Zain: Ulama Sufi Minangkabau yang Berkiprah di Tanah Malaya

Sabtu, 11 Juli 2026 - 16:51 WIB

Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah

Berita Terbaru