ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Kreator konten sekaligus aktivis digital Ferry Irwandi membawa kabar mengejutkan. Di tengah berbagai tekanan sosial dan politik yang menderanya setahun terakhir, pria berusia 34 tahun ini diam-diam tengah meretas jalan baru di dunia pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengonfirmasi sedang mendirikan sebuah perguruan tinggi swasta yang digarap serius sejak tahun 2023. Langkah besar ini diambil sebagai respons konkret terhadap mahalnya biaya pendidikan tinggi dan tingginya ketidaksesuaian keahlian (skill mismatch) lulusan universitas dengan kebutuhan industri saat ini.
Dalam bincang-bincang mendalam di kanal YouTube Profesor Rhenald Kasali yang diunggah pada 26 Juni 2026, alumnus STAN tersebut mengungkapkan betapa berbelitnya birokrasi yang harus dilalui demi mewujudkan impian tersebut. Hambatan regulasi dari kementerian hingga kebijakan moratorium sempat memaksa timnya mengkaji opsi akuisisi kampus yang sudah ada.
Namun, setelah menghitung analisis biaya dan manfaat (cost-benefit analysis), Ferry memilih untuk membangun institusi baru dari nol. Ia menggandeng Sabda PS, pendiri platform edukasi Zenius, untuk menyusun ekosistem pendidikan yang lebih dinamis.
“Tujuan dari kampus ini dibuat adalah salah satunya ngasih kestabilan pasar juga, karena biaya UKT ini bahkan untuk negeri pun sudah mahal banget,” kata Ferry Irwandi menjelaskan motif ekonomis di balik pendirian kampusnya. Ferry percaya, kehadiran kampusnya akan memaksa pasar melakukan penyesuaian harga karena menawarkan kualitas prima dengan biaya yang sangat terjangkau.
Kurikulum yang disusun pun dirancang agar sangat berkoneksi dengan industri modern agar ilmu yang didapat mahasiswa tidak terbuang sia-sia. “Jangan sampai mereka dapat knowledge, mereka dapat pengetahuan, skill set mereka bertambah itu one thing, tapi di satu sisi jangan sampai ini terbuang sia-sia, enggak nyambung sama kebutuhan industri, atau bahkan sampai-sampai paling apesnya adalah mereka menyesali kuliah yang mereka ambil,” ujar Ferry. Bagi dia, kampus bukan sekadar tempat berburu ijazah, tapi juga ruang untuk mengubah nasib.
Lebih jauh, Ferry menyepakati pandangan Rhenald Kasali bahwa esensi dasar sebuah perguruan tinggi adalah memanusiakan manusia. Pendidikan harus mampu membentuk peradaban yang lebih baik. Proyek idealis ini juga didedikasikan bagi para aktivis mahasiswa dan pemuda yang sempat tersandung persoalan hukum akibat menyuarakan aspirasi di jalanan.
Ferry melihat, banyak dari mereka yang dikeluarkan (drop out) dari kampus asal atau kesulitan mencari kerja karena jejak digital kasus hukum mereka. Kampus baru borderless ini diharapkan menjadi suaka bagi siapapun yang ingin memperbaiki masa depan tanpa sekat geografi dan batasan usia.









