Dampak Perubahan Iklim dalam Kehidupan Sehari-hari: Dari Meja Makan hingga Ancaman Bencana

- Jurnalis

Senin, 11 Mei 2026 - 16:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Dampak Perubahan Iklim dalam Kehidupan Sehari-hari: Dari Meja Makan hingga Ancaman Bencana. (Foto AI)

Ilustrasi Dampak Perubahan Iklim dalam Kehidupan Sehari-hari: Dari Meja Makan hingga Ancaman Bencana. (Foto AI)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Perubahan iklim bukan lagi isu masa depan. Kini kenyataannya langsung menghantam meja makan masyarakat dan mengancam keselamatan jiwa. BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berdampak pada 57,2 persen wilayah Indonesia. Kemarau yang lebih panjang ini memicu kekeringan luas, mengancam sektor pangan, dan berpotensi menurunkan produksi padi hingga gagal tanam.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cuaca Ekstrem Mengganggu Produksi Pangan

Kondisi cuaca yang tidak menimbulkan kepastian ini sangat merugikan para petani. Anggota DPR RI Sadarestuwati menyebut tekanan ekonomi dan ketidakpastian iklim ekstrem sebagai ancaman nyata bagi kedaulatan pangan. Fenomena El Nino ‘Godzilla’ memperparah situasi dengan ancaman kekeringan panjang yang membebani sektor pertanian. Sawah tadah hujan menjadi sangat rentan. Kekeringan parah mengganggu ketersediaan air bersih sehingga produktivitas pertanian menurun drastis. Situasi ini langsung berdampak pada stabilitas harga pangan di pasar.

Harga Pangan Melonjak Memberatkan Dompet

Dampak perubahan iklim sudah sangat terasa di meja makan keluarga. Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) per 10 Mei 2026 mencatat harga minyak goreng curah MinyaKita menembus Rp20.650 per kilogram, jauh di atas HET pemerintah Rp15.700. Harga cabai rawit merah juga melejit hingga 9,56 persen menjadi Rp65.350 per kilogram. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan beras pada April 2026 sebesar 4,36 persen, sementara minyak goreng mencatat inflasi 6,38 persen. Kenaikan harga pangan ini langsung membebani masyarakat, terutama kelompok rentan dan miskin.

Baca Juga:  Kemucunlan Harimau Kembali Terlihat di Nagari Koto Rantang, Agam: Kali Ini Dua Ekor

Ancaman Kesehatan di Balik Cuaca Ekstrem

Perubahan iklim juga menghadirkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mengingatkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dapat memicu peningkatan kasus penyakit pernapasan. Kabut asap berpotensi meningkatkan kasus ISPA dan asma secara signifikan. Peningkatan suhu udara rata-rata juga menyebabkan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti nyamuk, menjadi lebih luas. Selain itu, potensi gagal panen dan lonjakan harga pangan menurunkan kualitas konsumsi masyarakat, yang sangat berisiko terhadap target penurunan stunting pada anak-anak.

Banjir dan Longsor Mengancam Infrastruktur

Intensitas cuaca ekstrem terus meningkat di berbagai wilayah. BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di lima wilayah Jawa Tengah, mewaspadai bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor, banjir, dan angin puting beliung. BPBD Kabupaten Cianjur bahkan memperpanjang status siaga darurat bencana sepanjang 2026 untuk mengantisipasi banjir dan longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperingatkan potensi cuaca ekstrem yang membayangi hampir seluruh wilayah Indonesia. Akibatnya, pemerintah dan masyarakat dipaksa mengeluarkan biaya lebih besar untuk perbaikan rumah dan infrastruktur publik yang rusak.

Baca Juga:  Pentingnya Sarapan Pagi untuk Konsentrasi Kerja

Aksi Kolektif Mulai dari Hal Kecil

Perubahan iklim adalah tantangan kita bersama. Setiap orang bisa memulai langkah kecil dari rumah, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menanam pohon di pekarangan, hingga beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah juga terus berupaya melakukan mitigasi. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan pihaknya terus menyiapkan langkah strategis melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, optimalisasi pengelolaan air, pompanisasi, perpipaan, dan rehabilitasi jaringan irigasi untuk membantu petani. Langkah kolektif ini menjadi investasi penting untuk memastikan bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang.(**)

Berita Terkait

Menilik Manfaat Hidrasi Air Hangat bagi Optimalisasi Tubuh di Pagi Hari
Rahasia Sehat Buah Pir: Si Manis Renyah Penumpas Kolesterol hingga Kanker
Berikut Manfaat Buah Langsat bagi Kesehatan: Kaya Nutrisi dan Ampuh Cegah Berbagai Penyakit
Siapa yang Sering Makan Buah Nanas? Berikut Manfaatnya
Pramono Anung Ingatkan Sanksi Tegas bagi Pembuang Sampah di Sungai
Jarang Dibahas, Rahasia Zat Aktif Semangka yang Ampuh Jaga Jantung hingga Pangkas Lemak
Beruang Madu Korban Jerat Nilon di Perkebunan Karet Pasaman Dievakuasi ke Sijunjung
Kemucunlan Harimau Kembali Terlihat di Nagari Koto Rantang, Agam: Kali Ini Dua Ekor

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 14:49 WIB

Menilik Manfaat Hidrasi Air Hangat bagi Optimalisasi Tubuh di Pagi Hari

Rabu, 8 Juli 2026 - 10:24 WIB

Rahasia Sehat Buah Pir: Si Manis Renyah Penumpas Kolesterol hingga Kanker

Kamis, 2 Juli 2026 - 14:18 WIB

Berikut Manfaat Buah Langsat bagi Kesehatan: Kaya Nutrisi dan Ampuh Cegah Berbagai Penyakit

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:35 WIB

Siapa yang Sering Makan Buah Nanas? Berikut Manfaatnya

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:28 WIB

Pramono Anung Ingatkan Sanksi Tegas bagi Pembuang Sampah di Sungai

Berita Terbaru