Revolusi Social Commerce: Ketika Konten Kreatif Menjadi Motor Baru Ekonomi Digital Indonesia

- Jurnalis

Rabu, 22 April 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Konten Kreatif Menjadi Motor Baru Ekonomi Digital Indonesia (Foto AI)

Ilustrasi Konten Kreatif Menjadi Motor Baru Ekonomi Digital Indonesia (Foto AI)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Ekonomi Indonesia di tahun 2026 berubah cepat. Jika dulu sektor pabrik dan barang mentah jadi andalan, kini perhatian beralih ke layar ponsel. Fenomena social commerce melalui video pendek dan siaran langsung (live streaming) bukan lagi sekadar hiburan. Bahkan, kegiatan ini kini menjadi mesin ekonomi yang menyerap jutaan tenaga kerja baru dari Sabang sampai Merauke.

Peran Konten Kreator dan UMKM

Perubahan besar ini melibatkan kerja sama erat antara pembuat konten, pelaku UMKM, dan tenaga kerja digital. Sebagai contoh, banyak ibu rumah tangga hingga mahasiswa kini punya penghasilan tambahan dari program afiliasi dan kurasi produk.

Menurut Executive Director Tokopedia & TikTok Shop Indonesia, Stephanie Susilo, konten menjadi penggerak utama transaksi digital. Hasilnya, nilai transaksi kotor (GMV) naik 51 persen, pendapatan afiliasi melonjak 63 persen, dan siaran langsung saat Ramadan 2026 ditonton 38 miliar kali. Bahkan, transaksi bisa melonjak 15 kali lipat pada jam sahur.

Selain itu, pengusaha lokal kini bisa memotong rantai distribusi panjang dan langsung bertemu konsumen. Data menunjukkan bahwa penjual yang menggunakan video dagang (video commerce) mencapai 800 ribu, naik 75 persen dari tahun sebelumnya.

Baca Juga:  Fenomena Digital Nomad Lokal 2026: Mengapa Daerah Lebih Menarik daripada Jakarta?

Pertumbuhan Ekonomi Digital

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia sudah lebih dari 79 persen penduduk pada 2026. Akibatnya, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai sekitar 82 miliar dolar AS, terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, pasar e-commerce diproyeksikan tumbuh dari 90,35 miliar dolar AS (2025) menjadi 104,21 miliar dolar AS (2026).

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2025 mencapai 27,40 juta orang atau 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional. Menariknya, lebih dari 50 persen tenaga kerja ekonomi kreatif berusia di bawah 40 tahun, sehingga cocok untuk generasi muda.

Dominasi Video Commerce

Sementara itu, laporan e-Conomy SEA 2025 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan, 60 persen pembeli online sudah berbelanja lewat siaran langsung. Oleh karena itu, video commerce kini mencapai 20 persen dari total GMV e-commerce, naik drastis dari kurang dari 5 persen pada 2022. Lebih lanjut, tingkat konversi live streaming tiga kali lipat lebih tinggi dari katalog biasa.

Baca Juga:  Fenomena Digital Nomad Lokal 2026: Mengapa Daerah Lebih Menarik daripada Jakarta?

Namun, di balik pertumbuhan pesat ini, Kementerian Perdagangan mulai menyusun kebijakan e-commerce 2026. Fokusnya, memperluas akses produk dalam negeri, mengurangi barang impor murah yang merusak pasar lokal, dan mendorong inovasi. Sebagai langkah konkret, pemerintah juga mempertimbangkan pajak tambahan untuk produk asal China.

Di bidang infrastruktur, pemerintah gencar membangun jaringan digital. Saat ini, jaringan 4G sudah menjangkau hampir 99 persen penduduk. Tak hanya itu, operator swasta seperti XLSmart menargetkan 5G menjangkau 70 persen populasi melalui 88 kota pada 2026.

Terakhir, peluang besar bagi kreator konten lokal: jangan hanya ikuti tren luar negeri. Justru, mereka yang sukses adalah yang mampu mengemas nilai-nilai lokal menjadi konten unik dan bersaing global. Dengan demikian, konten kreatif kini bukan sekadar hiburan, tetapi motor utama kemandirian ekonomi bangsa.

Kesimpulannya, kreativitas adalah mata uang baru penentu pemimpin pasar masa depan. (**)

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 12:00 WIB

Revolusi Social Commerce: Ketika Konten Kreatif Menjadi Motor Baru Ekonomi Digital Indonesia

Berita Terbaru

Ilustrasi Foto Kartini 2026: Hak atas Sehat Jiwa, Emansipasi Wanita Modern.(Foto AI)

Kesehatan

Kartini 2026: Hak atas Sehat Jiwa, Emansipasi Wanita Modern

Selasa, 21 Apr 2026 - 14:00 WIB