JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Tanda tubuh kecanduan gula bisa terlihat dari kebiasaan yang tampak sepele, seperti selalu ingin mengonsumsi makanan atau minuman manis, dan bila dibiarkan dapat berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gula, terutama gula tambahan yang banyak ditemukan dalam makanan dan minuman olahan, dapat memengaruhi sistem penghargaan di otak. Saat mengonsumsi makanan manis, otak melepaskan dopamin, neurotransmiter yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan. Sensasi tersebut membuat seseorang ingin mengonsumsi makanan manis lagi.
Kenali Tanda-tandanya
Keinginan kuat mengonsumsi makanan manis meski sebenarnya tidak lapar bisa menjadi tanda pola konsumsi gula berlebihan. Makanan tinggi gula memberikan energi cepat, namun dapat diikuti penurunan kadar gula darah sehingga tubuh terasa lemas. Makanan dan minuman manis yang rendah protein dan serat juga cenderung kurang mengenyangkan sehingga seseorang kembali lapar tidak lama setelah makan.
Perubahan suasana hati seperti mudah kesal ketika tidak mengonsumsi makanan manis, sulit berkonsentrasi, hingga berat badan yang sulit dikendalikan juga menjadi indikator yang perlu diperhatikan. Selain itu, gula berperan dalam kerusakan gigi karena bakteri di mulut mengubahnya menjadi asam yang merusak permukaan gigi.
Waspadai Gangguan Tidur
Pola makan dan minum yang kurang sehat juga dapat memengaruhi kualitas tidur. Konsumsi makanan atau minuman manis, terutama menjelang waktu tidur, dapat menjadi bagian dari kebiasaan yang membuat pola tidur kurang teratur.
Meski demikian, istilah kecanduan gula tidak secara resmi dikategorikan sebagai diagnosis medis. Keinginan kuat terhadap makanan manis lebih tepat dipahami sebagai pola makan dan perilaku yang sulit dikendalikan. Mengurangi konsumsi gula tambahan secara bertahap dan memilih makanan utuh yang kaya protein serta serat dapat membantu memutus siklus keinginan terhadap gula.









