JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Menjelang penutupan tahun 2025, dinamika ekonomi Indonesia menunjukkan wajah yang kontras: stabilitas makro yang terjaga di satu sisi, namun dibayangi oleh tekanan daya beli dan volatilitas harga komoditas di sisi lain. Pemerintah kini tengah berupaya keras mengamankan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen di tengah ancaman dampak bencana alam dan fluktuasi pasar global.
Stabilitas di Angka Lima Persen
Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia pada triwulan III-2025 tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini dinilai cukup resilien mengingat kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan dengan kontribusi sebesar 2,54 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (27/12/2025), menyatakan optimismenya bahwa target tahunan masih dalam jangkauan. “Angka 5,04 persen adalah capaian yang baik untuk mempertahankan momentum pertumbuhan di kisaran lima persen,” ujarnya.
Namun, tantangan nyata muncul dari wilayah Sumatera yang baru-baru ini dilanda bencana banjir besar. Pemerintah menaksir kebutuhan dana pemulihan dan rekonstruksi mencapai Rp 51,82 triliun. Dampak makro dari bencana ini masih terus dimonitor, terutama pengaruhnya terhadap rantai pasok pangan dan inflasi daerah.
Kilau Emas dan Beban Pangan
Di pasar komoditas ritel, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencetak rekor baru. Pada Sabtu (27/12), harga emas melonjak Rp 16.000 menjadi Rp 2.605.000 per gram. Kenaikan ini mencerminkan tingginya minat masyarakat terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda.
Di sisi lain, masyarakat harus menghadapi kenaikan harga pangan. Harga cabai rawit merah di pasar tradisional dilaporkan menembus Rp 73.950 per kilogram. Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas harga menjelang perayaan Tahun Baru 2026, guna mencegah penurunan daya beli lebih lanjut.
Menatap 2026: Strategi Transisi
Memasuki tahun 2026, sejumlah lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia tetap berada di level 5,0 hingga 5,1 persen. Fokus kebijakan diperkirakan akan bergeser pada penguatan ekonomi digital dan hilirisasi industri untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus sebesar Rp 16,23 triliun untuk kuartal IV-2025 sebagai bantalan ekonomi. Ke depan, sinkronisasi kebijakan moneter oleh Bank Indonesia dan kebijakan fiskal oleh Kementerian Keuangan akan menjadi kunci utama dalam menjaga nilai tukar rupiah dan menarik investasi asing di tengah tren kenaikan tarif dagang global.
Ujian sesungguhnya bagi Indonesia di tahun mendatang adalah bagaimana mengubah pertumbuhan yang stabil ini menjadi pertumbuhan yang berkualitas—yang mampu menciptakan lapangan kerja di sektor formal dan menekan angka kemiskinan secara signifikan.(**)







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

