ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – KH Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur, memang mahaguru dalam urusan melontarkan anekdot segar yang menyerempet bahaya. Baginya, humor bukan sekadar ice breaking, melainkan peluru satire untuk memotret realitas sosial. Namun, apa jadinya jika lelucon sang deklarator Partai Kebangkitan Bangsa ini justru memicu protes keras dari barisan aktivis gender?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Momen menggelitik itu terjadi dalam sebuah forum ilmiah bertajuk seminar “Teater dan Politik” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta beberapa tahun silam. Di hadapan audiens yang memadati ruangan, Gus Dur dengan gaya santainya mulai melempar umpan jenaka yang secara spesifik menyentil kaum hawa. Efeknya instan: para aktivis perempuan yang hadir langsung merasa tergelitik sekaligus terusik.
Cleopatra dan Sindrom Elizabeth Taylor
Gus Dur memulai premis komedinya dengan sebuah pengakuan terbuka mengenai isi kepalanya. Ia berseloroh bahwa dirinya kerap menjadi korban ekspektasi visual saat mengagumi sosok perempuan dari panggung sejarah.
“Saya sering tertipu dengan wanita cantik,” ujar Gus Dur.
Ia kemudian memberikan contoh konkret lewat figur legendaris penguasa Mesir Kuno, Cleopatra. Sebelum menelisik literatur sejarah yang sahih, Gus Dur mengaku memiliki imajinasi awal bahwa paras Cleopatra pastilah seanggun dan secantik aktris Hollywood legendaris, Elizabeth Taylor.
Namun, setelah menyelami lembar demi lembar buku sejarah, kekaguman Gus Dur justru bergeser secara radikal. Ia menyadari bahwa daya pikat sejati sang ratu bukan sekadar komoditas estetika visual, tapi kapasitas intelektualnya yang jempolan. Cleopatra merupakan seorang master dalam kalkulasi dan strategi politik. Dari titik sinilah, Gus Dur mulai merumuskan tesis humorisnya yang menjadi pemantik polemik.
“Padahal menurut firasat saya, di antara seribu wanita yang cantik itu paling-paling hanya ada sepuluh saja yang pintar,” celetuk Gus Dur dengan wajah polos tanpa dosa.
Gugatan Statistik dan Diplomasi “Firasat”
Statistik jenaka tersebut karuan memicu tensi di ruang diskusi. Memasuki sesi tanya jawab, seorang peserta perempuan langsung berdiri dan mengajukan interupsi dengan nada bicara yang cukup sengit. Ia menuntut dasar akademis dan metodologi di balik pembagian angka yang dinilai bias gender tersebut.
“Dari mana Anda dapat angka hanya sepuluh perempuan cantik dan pintar dari seribu perempuan?” tanya aktivis tersebut meminta pertanggungjawaban ilmiah.
Mendapat “serangan” verbal yang cukup tajam, Gus Dur tidak menunjukkan riak kepanikan sama sekali. Alih-alih menyajikan data kuantitatif, ia justru meluncurkan jurus counter-attack khas santri yang defensif namun mematikan lewat jawaban yang sangat kalem.
“Angka-angka itu kan hanya firasat saja,” jawab Gus Dur enteng.
Tanpa memberi ruang bagi lawan bicaranya untuk mendebat, Gus Dur langsung melempar pukulan telak berikutnya untuk menjustifikasi argumen absurd tersebut. Dengan nada menyindir, ia menyamakan firasatnya dengan validitas data formal yang kerap diproduksi oleh lembaga kekuasaan.
“Kita tahu angka-angka statistik pun kadang-kadang kan hanya menyenangkan pihak tertentu,” ucap cucu pendiri NU tersebut, yang seketika menutup perdebatan dengan tawa riuh dari sudut-sudut ruangan. Sebuah seni humor tingkat tinggi yang sukses menjinakkan protes lewat tawa.









