ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Azyumardi Azra adalah seorang akademisi terkemuka, ahli sejarah sosial, sekaligus figur sentral pemikiran Islam modern tanah air, telah berpulang dalam usia 67 tahun di Selangor, Malaysia pada Minggu, 18 September 2022. Kepergiannya akibat gangguan jantung menyisakan ruang kosong yang besar dalam diskursus keislaman moderat dan demokrasi di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lahir di Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatra Barat pada 4 Maret 1955, perjalanan hidup Azyumardi adalah cerminan dari dedikasi tanpa henti terhadap ilmu pengetahuan. Sebelum menapaki puncak karier akademiknya, ia sempat mencecap dunia jurnalistik sebagai wartawan di majalah Panji Masyarakat pada dekade 1970-an. Pengalaman di dunia pers inilah yang tampaknya ikut menanamkan ketajaman analisis sosial dan kepedulian mendalamnya pada keterbukaan informasi nasional.
Adapun riwayat pendidikan dari cendekiawan asal Ranah Minang itu, yakni sebagai berikut:
S-1 (Sarjana): Fakultas Tarbiyah, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (lulus tahun 1982).
S-2 (Master): Master of Arts (MA) pada Departemen Bahasa dan Kebudayaan Timur Tengah, Columbia University, Amerika Serikat (1988), serta Master of Arts (MA) pada Departemen Sejarah di universitas yang sama (1989).
S-3 (Doktor): Doctor of Philosophy (Ph.D) dengan puji ilmiah (distinction) di bidang Sejarah dari Columbia University, Amerika Serikat (1992). Beliau menulis disertasi terkenal berjudul “The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Networks of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries”.
Langkah intelektualnya kian kokoh ketika ia menekuni profesi sebagai dosen di IAIN Jakarta (kini UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), setelah menyelesaikan studi lanjut di universitas terkemuka di dalam dan luar negeri. Puncaknya, ia dipercaya menakhodai UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai Rektor selama dua periode, yakni dari tahun 1998 hingga 2006. Di bawah kepemimpinannya, kampus tersebut mengalami transformasi besar, mengubah wajah institut agama tradisional menjadi universitas Islam modern yang inklusif dan diakui secara global.
Reputasi internasional Azyumardi tidak perlu diragukan. Pemikirannya yang jernih mengenai Islam moderat membawanya meraih berbagai penghargaan bergengsi lintas negara. Pada 2010, ia mencatatkan namanya sebagai orang Indonesia pertama yang dianugerahi gelar kehormatan bangsawan Commander of the Order of the British Empire (CBE) dari mendiang Ratu Elizabeth II dari Inggris, sebuah apresiasi tertinggi yang membuatnya berhak menyandang gelar kehormatan “Sir”. Penghargaan global tak berhenti di situ; pada 2017, ia juga menerima tanda kehormatan The Order of the Rising Sun: Gold and Silver dari Kaisar Jepang Akihito.
Hingga akhir hayatnya, pengabdian Azyumardi terus bergulir. Sejak tahun 2022 tepatnya dilantik Mei 2022, untuk periode 2022-2025, ia dipercaya mengemban amanah berat sebagai Ketua Dewan Pers Indonesia, mengawal ekosistem media yang sehat dan independen di masa transisi politik yang krusial.
Di balik gemerlap prestasi global dan ketegasannya di ranah publik, almarhum tetaplah seorang figur ayah yang bijak dan penyayang bagi keluarganya. Ia berpulang dengan meninggalkan seorang istri, Ipah Farihah, serta empat orang anak yang senantiasa meneladani jejak integritas dan kerendahan hatinya. Pemikiran, deretan karya tulis, serta keteladanannya akan terus hidup menjadi jangkar peradaban Islam dan demokrasi di Indonesia.









