ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan laporan membanggakan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII yang digelar di Kabupaten Gorontalo pada Rabu, 24 Juni 2026. Dalam pidatonya, Amran memaparkan pencapaian besar sektor pertanian Indonesia yang berhasil menembus peringkat elite di kancah global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Amran menyebutkan bahwa berdasarkan pengumuman resmi dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), volume produksi pangan Indonesia mengalami lompatan signifikan. “Baru-baru ini, dua hari yang lalu, pengumuman oleh FAO. FAO, produksi kita tertinggi nomor empat dunia mencapai 38 juta ton,” ujar Amran disambut riuh tepuk tangan peserta yang hadir.
Alumnus Universitas Hasanuddin itu juga menegaskan bahwa data tersebut murni dirilis oleh lembaga internasional, bukan hasil klaim sepihak dari pemerintah.
Tak hanya menyoal peringkat dunia, Mentan juga melaporkan peningkatan kesejahteraan para petani dalam beberapa tahun terakhir. Amran mengklaim bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) mencatatkan rekor tertinggi dalam tiga dekade. “Kesejahteraan petani kita meningkat tertinggi selama 34 tahun terakhir, yaitu 127 persen. Ini angka tertinggi selama 34 tahun terakhir,” tuturnya di atas podium.
Kenaikan NTP ini disebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di sektor agraria. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Amran membeberkan pertumbuhan ekonomi sektor pertanian mampu menyentuh angka 5,74 persen, sebuah pencapaian yang disebutnya sebagai yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Keberhasilan ini dinilai sebagai buah dari kerja keras kolektif jutaan petani dan nelayan di seluruh tanah air.
Di dalam laporannya, Amran turut menggarisbawahi dampak positif dari kebijakan pembatasan impor, khususnya untuk komoditas beras medium yang telah dihentikan. Berkurangnya pasokan impor ini diklaim berhasil menekan defisit anggaran negara hingga puluhan triliun rupiah. “Ekspor pertanian naik 166 triliun. Impor kita, karena kita tidak impor beras medium lagi, turun 41 triliun. Jadi total keuntungan petani 200 triliun, Bapak Presiden,” tegas Mentan sejak zaman Joko Widodo itu.









