ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Pada fajar abad ke-20 Miladiyyah, ranah Minangkabau menjelma menjadi medan ikhtilaf yang bergolak hebat. Gelombang pemikiran kaum Muda yang membawa narasi purifikasi berselisih tajam dengan kaum Tua yang kukuh mempertahankan pusaka leluhur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kecamuk tersebut, tampillah sosok ‘alim ‘allamah, Syekh Harun Toboh Pariaman. Beliau hadir bukan dengan seruan yang riuh, melainkan sebagai muhafizh sang penjaga gawang tradisi yang membentengi paham keagamaan klasik melalui goresan pena yang tajam dan kokoh.
Ketangguhan intelektual ulama asal Toboh ini bahkan diakui oleh orientalis Belanda, B.J.O. Schrieke. Profesor etnologi dan sejarah Hindia Belanda yang kelak menjadi guru besar di Universitas Amsterdam tersebut merekam jejak Syekh Harun sebagai aktor intelektual garda depan.
Melalui khazanah tulisan-tulisannya, beliau secara aktif mengkaunter arus pembaruan demi menjaga kemurnian amaliah lokal. Meski sebagian manuskrip dan karya tulisnya kini telah raib ditelan masa, atsar atau peninggalan literatur yang tersisa menjadi saksi bisu arah ijtihadnya.
Beliau menyusun pembelaan sistematis terhadap manhaj kaum Tua, eksistensi tarekat, serta metodologi keilmuan klasik Islam. Dalam peta tasawuf Sumatra Barat, Syekh Harun tegak berdiri sebagai seorang ahl al-suluk (penganut jalan tarekat) yang berpijak pada ortodoksi Ahlussunnah wal Jama‘ah, sekaligus seorang mujadil yang mahir dalam berpolemik secara rasional.
Masterpiece beliau yang paling monumental adalah Falahan Mubtadi. Risalah yang dicetak di Bukittinggi pada tahun 1910 M ini diposisikan sebagai kitab mu’tabar atau rujukan otoritatif bagi komunal tradisionalis. Di dalamnya, beliau mengurai hujjah-hujjah syar’i terkait praktik wirid, zikir, dan legitimasi amaliah sufistik secara berlapis.
Menariknya, kitab ini terbit bersanding dengan risalah berbahasa Arab mengenai Tarekat Khalwatiyah karya Angku Mudo Haji Harun, yang semakin mempertegas afiliasi spiritualnya.
Sebagai ulama yang mumpuni, beliau juga menaruh perhatian besar pada ilmu alat. Melalui kitab Mafatihul Fikriyah yang dicetak oleh Tsamaratul Ikhwan Bukittinggi pada 1928 M, Syekh Harun membedah ilmu Mantiq (logika Aristotelian). Beliau mengulas struktur berpikir silogisme formal, mulai dari muqaddimah sughra (premis minor), muqaddimah kubra (premis mayor), hingga melahirkan natijah (konklusi). Penguasaan logika inilah yang menjadi perisai ketangguhan para ulama klasik saat berdebat.
Akhirnya, sumbangsih historis beliau ditutup dengan Sejarah Syekh Burhanuddin Ulakan. Sebuah karya historiografi yang menempatkan sang sufi agung sebagai poros islamisasi di pantai barat Sumatra. Melalui peran sunyi namun menentukan ini, Syekh Harun Toboh telah menunaikan tugasnya sebagai penjaga ingatan kolektif sekaligus benteng pertahanan spiritual umat.









