Hikayat Menara Delapan Penjuru: Riwayat Syiar Islam di Nagari Kubang

- Jurnalis

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Masjid Raya Kubang (Dok. Habibur Rahman)

Foto: Masjid Raya Kubang (Dok. Habibur Rahman)

ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Alkisah, tersebutlah sebuah negeri yang makmur di ranah Luhak Limo Puluah, tepatnya pada wilayah yang karib disebut Tigo Buhua di Mudiak. Di sanalah berdiri Nagari Kubang, sebuah tanah yang dijaga oleh kebesaran adat paraturan, tempat bernaungnya Dt. Perpatiah Nan Baringek yang memegang kemuliaan Kitabullah di Kubang Ruek.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada tahun 1845 Masehi, bertepatan dengan tahun 1264 Hijriah, didirikanlah sebuah rumah peribadatan yang bersahaja. Tiadalah ia bermegah-megah pada masa itu; dinding dan tiangnya bersumber dari kayu-kayu pilihan hutan, sedangkan atapnya dijalin dari ijuk yang pekat. Inilah cikal bakal Masjid Raya Kubang, tempat bersujudnya para hamba memuja Sang Khalik.

Silsilah Rupa dan Tiang Mancu

Zaman berganti, musim bertukar. Pada tahun 1897 Masehi, tergeraklah hati para pemuka kaum untuk memperelok rumah Allah ini. Pemugaran kedua ini dipelopori oleh Lako Datuk Perpatiah Baringek nan Bajambek, sang pucuk keempat Suku Nagari Kubang. Menurut catatan pujangga sejarah, Saiful Guci, lantai dan dinding yang rapuh diganti dengan kokohnya batu pegunungan. Atapnya tak lagi memakai ijuk, melainkan diganti dengan kepingan seng.

Namun, ada satu yang tak diubah: tiang-tiang bagian dalam tetap dipertahankan dari kayu pusaka asli. Tiang utama yang tegak lurus menopang langit-langit masjid itu luhur disebut orang dengan nama “Tonggak Mancu”.

 Mathla’ul Fajar: Menara Bata dan Ilham Koto Baru

Jika kita memandang ke langit Kubang, niscaya tampak sebuah menara azan yang berdiri megah. Menara bata berlepa kapur ini didirikan pada tahun 1901 Masehi, menggantikan menara kayu terdahulu. Bentuknya laksana kembaran bagi menara Masjid Tuo Al-Ihsan Ampang Gadang di VII Koto Talago yang dibangun pada 1837 Masehi. Kendati demikian, nasib kedua rumah ibadah ini tak sama. Tatkala Masjid Kubang tetap semarak oleh gema zikir, Masjid Tuo Ampang Gadang kini telah lama sunyi, merana dalam sepi yang terbengkalai, meski baru saja bulan lalu diresmikan oleh Membud, Fadli Zon, tapi sampai sekarang masjid tersebut belum beroperasi sepenuhnya.

Baca Juga:  Wamensesneg Jelaskan Sumber Dana Sapi Kurban Presiden

Adapun rupa arsitektur masjid yang berdiri megah hari ini merupakan buah dari pemugaran besar-besaran pada tahun 1938 Masehi. Pekerjaan akbar ini diarsiteki oleh seorang juru bina ulung bernama Engku Lunak yang dijemput dari Pandai Sikek, Padang Panjang. Pola bangunannya mengambil ilham dari kemegahan sebuah masjid di Koto Baru, Tanah Datar, yang berdiri anggun di tepi jalan raya Bukittinggi–Padang Panjang.

Kompleks suci ini pun diperluas demi kemaslahatan umat:

Baitullah (Bangunan Utama): Luas 24 x 29 meter.

Madrasah (Taman Quran): Ukuran 14 x 5 meter.

Balong (Kolam Ikan): Luas 40 x 16 meter untuk bersuci dan ketenangan.

Pelataran (Pekarangan): Luas 58 x 56 meter.

Riwaq (Serambi): Dibangun pada tahun 1950-an, yang dahulunya difungsikan sebagai kantor takmir.

Tepat pada hari Jumat yang berkah, 15 Januari 1941, gema Khutbah dan shalat Jumat pertama kali ditegakkan di bawah atap yang baru, menjadi titik mula resminya penggunaan masjid hasil pemugaran tersebut.

Simbolisme: Rub al-Hizb dan Jam Matahari

Baca Juga:  Skalpel dan Konstitusi: Riwayat Intelektual K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat

Masjid Raya Kubang menyimpan banyak tanda dan rahasia alam yang bersandar pada syariat. Di sisi utara, terpancang sebuah Mizwala (jam matahari) setinggi 120 cm. Alat ini menjadi penentu yang sahih bagi kaum muslimin untuk menetapkan masuknya waktu Zuhur dan Asar melalui bayang-bayang semesta. Di dinding dekat jam tersebut, terpahat piagam sejarah yang menyalin kembali isi arsip lama perbaikan masjid.

Tepat di depannya, menjulang menara tempat muazin mengumandangkan hayya ‘alash-shalah. Tiang utama menara ini adalah sebongkah kayu utuh sepanjang 16 meter dengan garis tengah 30 cm sebagian orang menyebutnya kayu Kubang, sebagian lagi meyakini itu adalah kayu Surian yang wangi.

Pada pintu masuk menara yang kini mulai dimakan usia, terpahat aksara Arab-Melayu (Jawi) sebagai penanda tarikh:

Sisi Kanan: “Dibangun bulan Rajab 1326 H.”

Sisi Kiri: “Diperbaiki bulan Zulhijah 1407 H.”

Menara ini dibangun membentuk Segi Delapan, sebuah pralambang dari delapan penjuru mata angin. Ia membawa pesan agung bahwa Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin rahmat bagi seisi alam tanpa terkecuali.

Ornamen bintang segi delapan yang menghiasinya bukanlah hiasan kosong, melainkan simbol Rub al-Hizb yang bersumber dari keteraturan Alquran. Di dalam Kitabullah yang 30 juz itu, tiap-tiap juz dibagi menjadi dua hizb, dan tiap hizb dibagi lagi menjadi empat bagian, genaplah ia berjumlah delapan. Di pucuk menara yang paling tinggi, bertengger lambang Hilal (bulan sabit) dan bintang, lambang syiar Islam yang kini dikenal luas di seantero jagat.

Berita Terkait

Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah
Di Balik Meriahnya Hoyak Tabuik, Tradisi Berebut Organ Tabuik Masih Berlangsung
Napas Spiritual Minangkabau: Deretan Nama Ulama dengan Kiprah Besar
Melihat Pasamabahan di Ateh Pakuburan: Retorika Kematian dan Dialektika Maaf di Ranah Minang
Melihat Pandangan A.A Navis: Kosmologi Matrilineal Minangkabau
Syekh Ibrahim Kumpulan, Tokoh Naqsyabandiyah dari Pasaman
Syekh Adimin Arradji Taram: Poros Spiritual dan Lentera Klasikal dari Tepian Luhak nan Bungsu
Syekh Ibrahim Musa Parabek: Sang Arsitek Moderasi dan Pembaru Pendidikan Minangkabau

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:50 WIB

Hikayat Menara Delapan Penjuru: Riwayat Syiar Islam di Nagari Kubang

Sabtu, 11 Juli 2026 - 16:51 WIB

Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah

Senin, 29 Juni 2026 - 11:31 WIB

Di Balik Meriahnya Hoyak Tabuik, Tradisi Berebut Organ Tabuik Masih Berlangsung

Sabtu, 20 Juni 2026 - 15:20 WIB

Napas Spiritual Minangkabau: Deretan Nama Ulama dengan Kiprah Besar

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:45 WIB

Melihat Pasamabahan di Ateh Pakuburan: Retorika Kematian dan Dialektika Maaf di Ranah Minang

Berita Terbaru