POLITIK JULO-JULO

- Jurnalis

Minggu, 18 Januari 2026 - 11:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Argumenrakyat.com | Payakumbuh, 17 Januari 2026

Situasi politik nasional hari ini menunjukkan gejala yang semakin mengkhawatirkan. Kongko-kongko elit politik kerap berlangsung bukan lagi atas dasar ideologi partai atau kepentingan rakyat, melainkan didorong oleh hasrat meraih kekuasaan semata. Politik pun menjelma menjadi arena transaksi kepentingan, jauh dari nilai luhur demokrasi yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks ini, penting bagi rakyat untuk mencermati hakikat politik elektoral. Politik elektoral merupakan seluruh proses dan mekanisme dalam sistem demokrasi yang berkaitan dengan pemilihan umum, yakni bagaimana suara rakyat dikonversi menjadi kursi atau jabatan politik. Proses ini mencakup aturan pemilu, kampanye, pemungutan dan penghitungan suara, pembagian kursi, serta perilaku pemilih dan kandidat. Sistem inilah yang menjadi fondasi demokrasi modern dalam memilih pemimpin eksekutif maupun legislatif.

Indonesia sendiri adalah negara demokrasi dengan sistem presidensial, di mana presiden berperan sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan dan dipilih langsung oleh rakyat. Kekuasaan eksekutif berdiri independen dari legislatif, dengan prinsip pemisahan kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sistem ini dirancang untuk menciptakan stabilitas pemerintahan, meskipun tetap tunduk pada konstitusi.

Baca Juga:  Feri Amsari Soroti Pengangkatan Komisaris BUMN: Dinilai Langgar Undang-Undang dan Sarat Balas Jasa Politik

Di sisi lain, Indonesia juga menganut sistem kepartaian multipartai, yang memungkinkan banyak partai politik berkompetisi dalam pemilu. Sistem ini mencerminkan keberagaman ideologi dan sosial masyarakat, namun sekaligus mendorong terbentuknya koalisi pemerintahan. Sejak era Reformasi, sistem multipartai berkembang pesat, tetapi juga melahirkan tantangan serius dalam praktik ketatanegaraan.

Tantangan utama sistem multipartai di Indonesia antara lain fragmentasi politik yang menyebabkan koalisi rapuh, rumitnya proses pengambilan keputusan, terganggunya stabilitas pemerintahan akibat tarik-menarik kepentingan, lemahnya peran oposisi, serta suburnya politik transaksional dan praktik korupsi. Masalah lain yang tak kalah penting adalah lemahnya kaderisasi dan demokrasi internal partai politik. Sistem yang seharusnya mewakili keberagaman ini justru kerap melahirkan pemerintahan yang kurang efektif.

Dari berbagai problematika tersebut, Pemilu sejatinya harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan ketaatan pada konstitusi. Demokrasi bukan sekadar prosedur lima tahunan, melainkan amanah untuk membawa negara menuju cita-cita luhur bangsa: Indonesia Raya.

Prinsip dasar demokrasi, “kedaulatan di tangan rakyat”, menegaskan bahwa kekuasaan tertinggi berada pada rakyat dan dijalankan melalui mekanisme perwakilan berdasarkan UUD 1945. Pemerintah dibentuk oleh rakyat, dijalankan oleh rakyat yang dipilih, dan harus berpihak pada kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan segelintir elit.

Baca Juga:  Ganjar Sebut Pembahasan RUU Pemilu Harus Dipercepat Demi Menghindari Sengkarut Legislasi

Dalam konteks Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), demokrasi dimanifestasikan melalui hak rakyat untuk memilih gubernur, bupati, dan wali kota secara langsung. Tujuannya adalah melahirkan pemimpin lokal yang legitimatif, memahami persoalan daerah, serta mendorong partisipasi aktif warga. KPU berperan sebagai penyelenggara yang netral, sementara masyarakat menjadi penjaga moralitas demokrasi.

Namun, realitas menunjukkan bahwa politik uang masih menjadi ancaman serius. Praktik ini tidak hanya mencederai proses demokrasi, tetapi juga merampas kedaulatan rakyat. Ketika suara rakyat diperjualbelikan, maka demokrasi kehilangan makna hakikinya dan hanya menjadi formalitas belaka.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka demokrasi akan semakin menjauh dari tujuan utamanya. Sudah saatnya seluruh elemen bangsa—penyelenggara negara, partai politik, dan masyarakat—mengembalikan demokrasi ke rel sejatinya: kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

(Herman R)

 

Berita Terkait

Food Truck Bolosego Berhenti Berjualan di Alun-alun Kidul
Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS
Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina
Demo Yogyakarta Ricuh, 6 Mahasiswa Luka, UGM Tempuh Hukum
Muktamar ke-35 NU Ricuh, Pendukung Gus Yusuf Dobrak Barikade
DPR Desak Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Karhutla
TNI Akan Kirim Prajurit Menimba Ilmu Militer ke China
PPPK Difinalisasi, Wamendagri Minta Daerah Setop Rekrut Staf

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 16:12 WIB

Food Truck Bolosego Berhenti Berjualan di Alun-alun Kidul

Sabtu, 12 September 2026 - 10:14 WIB

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS

Rabu, 9 September 2026 - 10:08 WIB

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina

Kamis, 3 September 2026 - 11:39 WIB

Demo Yogyakarta Ricuh, 6 Mahasiswa Luka, UGM Tempuh Hukum

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:46 WIB

Muktamar ke-35 NU Ricuh, Pendukung Gus Yusuf Dobrak Barikade

Berita Terbaru

4.425 UMKM Terdampak Bencana Masuk Pasar Digital. (Foto: Dok. Kementerian UMKM/ANTARA)

Bisnis

4.425 UMKM Terdampak Bencana Masuk Pasar Digital

Rabu, 23 Sep 2026 - 16:29 WIB

Resep Tempe Bacem Tanpa Air Kelapa, Mudah Dibuat. (Foto: CNN Indonesia)

Gaya Hidup

Resep Tempe Bacem Tanpa Air Kelapa, Mudah Dibuat

Rabu, 23 Sep 2026 - 16:24 WIB

OpenAI Rilis GPT-6 Sol dan Luna, Harga API Separuh. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

OpenAI Rilis GPT-6 Sol dan Luna, Harga API Separuh

Rabu, 23 Sep 2026 - 16:19 WIB

Polri Siapkan Anjungan Cetak SKCK Mandiri Cegah Pungli. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

Polri Siapkan Anjungan Cetak SKCK Mandiri Cegah Pungli

Rabu, 23 Sep 2026 - 16:14 WIB