JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Memasuki awal tahun 2026, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menunjukkan taringnya sebagai motor penggerak ekonomi baru. Tidak lagi sekadar wacana, Danantara mulai mengonsolidasikan kekuatan untuk memacu sejumlah proyek infrastruktur strategis nasional yang sempat melambat, menandai pergeseran besar dalam cara negara mengelola aset dan investasinya.
Fokus Utama: Infrastruktur Penyangga dan Hunian Rakyat
Langkah awal Danantara di bulan Januari ini difokuskan pada penyelesaian proyek yang menyentuh langsung hajat hidup orang banyak. Berbeda dengan gaya lama yang cenderung birokratis, Danantara mengedepankan skema pembiayaan inovatif yang melibatkan kemitraan strategis global dan domestik.
-
Percepatan Huntap: Danantara mengambil peran sentral dalam memastikan pendanaan untuk 600 unit Hunian Tetap (Huntap) di wilayah terdampak bencana Sumatera Barat dan titik bencana lainnya agar selesai tepat waktu pada pekan kedua Januari.
-
Konektivitas Logistik: Fokus dialihkan pada perbaikan dan peningkatan jalur-jalur logistik vital yang terdampak cuaca ekstrem, guna memastikan distribusi pangan dan energi tidak terganggu oleh badai Siklon Hayley.
Danantara vs Birokrasi Klasik
Kehadiran Danantara diharapkan menjadi jawaban atas keluhan lambatnya eksekusi proyek akibat tumpang tindih regulasi. Dengan model pengelolaan yang lebih mirip Sovereign Wealth Fund (SWF) kelas dunia, badan ini memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menarik investor tanpa membebani APBN secara berlebihan.
“Danantara bukan hanya tentang mengumpulkan aset, tapi tentang bagaimana aset tersebut bekerja dua kali lebih keras untuk pembangunan,” ujar salah satu sumber internal otoritas investasi tersebut.
Argumen Kita: Menanti Transparansi di Balik Kecepatan
ArgumenRakyat.com memandang langkah “ngebut” Danantara sebagai angin segar bagi percepatan pembangunan. Namun, kecepatan harus dibarengi dengan transparansi yang ketat. Sebagai lembaga super-holding yang mengelola dana fantastis, pengawasan publik terhadap setiap keputusan investasi adalah harga mati.
Jangan sampai ambisi mengejar target infrastruktur justru mengabaikan aspek kelestarian lingkungan atau prosedur tender yang bersih. Kita tidak butuh sekadar bangunan fisik yang megah, tapi sistem investasi yang akuntabel dan memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan rakyat jelayata.
Catatan Strategis Danantara 2026:
-
Integrasi BUMN: Danantara diproyeksikan mulai mengintegrasikan manajemen aset-aset besar BUMN di bawah satu komando investasi.
-
Target Kuartal I: Menyelesaikan revitalisasi 10 titik infrastruktur air bersih di wilayah rawan kekeringan dan bencana.
-
Kemitraan Hijau: Mengarahkan investasi pada infrastruktur berbasis energi terbarukan sesuai dengan komitmen Indonesia di kancah global.(**)







![Penetapan Indonesia sebagai Dewan HAM PBB 2026. [Foto: kemlu.go.id]](https://argumenrakyat.com/wp-content/uploads/2026/01/IMG_20260110_160318-e1768216728409-360x200.jpg)

